728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 12 Januari 2018

    Saya Dukung Djarot-Sihar

    Tahun 2013 adalah terakhir kali pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Sumatera Utara dilaksanakan. Pada saat itu terdapat lima pasang calon yang bertarung di provinsi terbesar Pulau Sumatera ini. Namun siapa yang memenangkan pertarungan tersebut?

    Sebelumnya perlu Anda ketahui bahwa penduduk yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) adalah sebanyak 10.310.872 pemilih. Namun pada tahun 2013, hanya 5.001.430 pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Itu artinya hanya 48,50 persen masyarakat yang menggunakan hak pilihnya. Angka itu pun masih berkurang dengan adanya suara tidak sah sebanyak 139.963 suara yang tidak sah. Dengan demikian, suara sah hanya berjumlah 4.861.467 suara.

    Dengan partisipasi yang sangat rendah tersebut, banyak dari masyarakat yang mengatakan bahwa pemenang Pilgubsu adalah golput. Bagaimana tidak, angka golput mencapai 51,50 persen. Angka golput ini pun merupakan angka golput tertinggi di Indonesia.

    Mengapa hal itu bisa terjadi? Masyarakat Sumatera Utara sudah jengah dengan kondisi pemerintahannya yang tidak memperhatikan mereka. Mereka seperti ada dan tiada, hanya terlihat saat acara-acara resmi saja. Pembangunan tidak pernah menunjukkan perkembangan. Dan yang paling utama adalah korupsi yang dilakukan oleh mereka yang terpilih menyebabkan keengganan mereka untuk menggunakan hak pilihnya.

    Mereka berasumsi, untuk apa memilih harus pagi-pagi bangun, antre di TPS, toh mereka yang terpilih nanti juga tidak akan memperhatikan masyarakat. Lebih baik mereka tidur menikmati hari libur serta menghabiskan waktu bersama keluarga daripada bersusah-susah menunggu di TPS.

    Faktor utama apatisme itu tentu karena korupsi yang begitu masif di Sumatera Utara ini. Saat itu, Gubernur Syamsul Arifin divonis bersalah dalam kasus korupsi APBD Kabupaten Langkat yang merugikan negara hingga 98,7 miliar rupiah. Mahkamah Agung pun memvonisnya enam tahun penjara.

    Saat itu, wakil Syamsul, Gatot Pujo Nugroho naik pangkat menggantikan posisinya sebagai Gubernur. Pada tahun 2013, Gatot kembali mencalonkan diri dan berpasangan dengan Tengku Erry Nuradi. Mereka diusung oleh PKS, PBR, Partai Hanura, Partai Patriot, dan PKNU.

    Pasangan dengan tagline Ganteng ini berhasil memenangkan Pilgub usai meraih 1.604.337 suara atau 33 persen. Mereka pun dilantik pada tanggal 16 Juni 2013.

    Namun dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 27 Juli 2015 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gatot bersama dengan istri mudanya sebagai tersangka kasus suap. Gatot yang lahir di Magelang, Jawa Tengah ini terbukti telah menyuap pimpian dan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 dan 2014-2019 sebesar 61,8 miliar rupiah. Karena kasus itu pula, Gatot dijatuhi hukuman empat tahun penjara.

    Dua Gubernur berturut-turut yang menjadi tersangka adalah hal yang sangat memalukan. Ternyata jabatan yang telah diamanahkan rakyat kepada mereka telah disalahgunakan. Wajar saja kalau ada beberapa orang yang menjuluki provinsi kita sebagai salah satu yang paling korup di Indonesia, dua pemimpin kita secara berturut-turut dijadikan tersangka dengan kasus yang sama, korupsi.

    Apakah kita ingin ada Gubernur ketiga yang dijadikan tersangka oleh KPK? Tentu tidak, bukan? Oleh karena itu, kita harus memberikan dukungan kepada orang yang rekam jejaknya bersih dan memiliki integritas yang kuat. Dan hal tersebut ada dalam diri Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus.

    Djarot adalah sosok yang sudah berpengalaman dalam memimpin suatu wilayah. Djarot sudah menjadi Walikota Blitar selama dua periode. Ditangannya, Blitar dipoles menjadi daerah yang luar biasa. Pendapatan asli daerah (PAD) dan indeks pembangunan manusia (IPM) berhasil ditingkatkan secara drastis saat beliau memegang kendali di Blitar. Blitar menjadi kota bersih yang membuat kota tempat dimakamkannya Bung Karno ini meraih penghargaan Adipura selama tiga tahun beruntun mulai tahun 2006 hingga 2008.

    Djarot adalah sosok yang bersih, berpengalaman, dan berprestasi. Dan itu adalah sosok yang sangat kita butuhkan untuk membenahi Sumut serta mempercepat pembangunan di daerah-daerah. Pengalaman Djarot selama dua periode di Blitar dan tiga tahun di Jakarta jelas akan sangat berguna bagi pembangunan Sumut kedepannya.

    Oleh karena kemampuan, kompetensi, rekam jejak, serta integritas, saya memutuskan untuk mendukung pasangan Djarot-Sihar pada Pilgub Sumut kali ini. Sudah saatnya kita selaku masyarakat Sumut untuk menentukan orang terbaik untuk memimpin daerah kita. Jangan termakan dengan isu apapun yang dimainkan, ingat yang kita pilih adalah pemimpin untuk melayani kita, bukan untuk kita layani.

    Daerah kita mempunyai berbagai potensi mulai dari pariwisata hingga sumber daya alam. Oleh karena itu, kita membutuhkan sosok yang tepat yang bisa mengelola serta memaksimalkan potensi yang ada sehingga berdampak bagi kemakmuran kita. Dan dengan pengalaman Djarot, saya yakin beliau bisa memaksimalkan segala potensi yang ada di daerah kita dan mempercepat pembangunan karena beliau sudah pasti akan bersinergi dengan pemerintah pusat.

    Sudah saatnya kita tidak golput dan menggunakan hak pilih kita sebagai warga Sumatera Utara. Kabarkan kepada seluruh orang yang kita kenal untuk memilih orang yang sudah terbukti, kaya pengalaman dan prestasi, serta memiliki rekam jejak yang bersih. Ingatlah satu hal bahwa golput bukanlah pilihan.

    Begitulah kura-kura



    Penulis   :    Samuel Anthony   Sumber  :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Saya Dukung Djarot-Sihar Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top