728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 19 Desember 2017

    #Warta : Terbayang, Mengapa Ahok Mengatakan 'Tidak' untuk Natal di Monas



        "Orang minta zikir di Monas saya larang, karena Bung Karno dulu bilang, kalau mau zikiran ya di Istiqlal"

        -Basuki Tjahaja Purnama-

    Kata-kata Pak Ahok di atas dikutip dari YouTube Pemprov DKI dan Basuki TP Tyo JB, Rabu (21/10/2015), oleh laman Kompas.com. Pada kesempatan itu, Basuki juga mengungkapkan bahwa perizinan pernah diberikan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono.

    Sejatinya, Pak Ahok pernah mengizinkan juga Majelis Rasulullah menggelar pengajian di Monas. Namun, banyak oknum yang menyalahgunakan izinnya bukan untuk pengajian. Mereka justru menggelar lapak pedagang kaki lima (PKL). Ini rupanya yang membuat gerah beliau.

    "Itu EO-nya dapat duit nyewain lapak. Saya setengah mati 6-7 bulan beresin (kawasan Monas dari PKL). Saya tawarin di Istiqlal, nolak. Kenapa nolak? Katanya karena kalau di Istiqlal, dagangannya enggak laku," kata Basuki. Berdagang di Monas lebih laku karena banyak orang berjalan-jalan di sana.

    Nah, atas pertimbangan itulah, Pak Ahok kemudian memutuskan untuk tidak memberi izin penyelenggaraan pengajian di Monumen Nasional (Monas). Sangat sederhana. Beliau ingin menjaga kawasan Tugu Monas sebagai kawasan sakral. Monas adalah tugu peringatan setinggi 132 meter (433 kaki). Tugu perkasa itu sengaja didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

    Kesakralan itulah yang hendak dijaga dalam pemerintahan Gubernur Ahok. Ada pesan penting yang ingin disampaikan tentang jatidiri tugu perkasa di Ibukota Jakarta itu sesuai maksud pendiriannya.

    Adalah Presiden Sukarno yang merencanakan pembangunan sebuah Monumen Nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pikiran ini muncul setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta yang sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950. Kembalinya pusat pemerintahan ini menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949.

    Dalam konteks tersebut, gagasan pembangunan Tugu Monas memiliki nilai yang sakral dan mesti dirawat secara tepat. Mengingat tujuan awal pembangunan adalah untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus bangsa.

    Tugu perkasa yang maksud pendiriannya sarat dengan kesakralan perjuangan bangsa meraih kemerdekaan dan semangat patriotisme seperti tercermin dalam jiwa persatuan Indonesia itulah yang mesti dilestarikan. Bagi Ahok, Tugu Monas adalah inspirasi untuk menimba kekuatan, semangat patriotisme dan jiwa persatuan Indonesia sebagai inti Pancasila.

    Tentu keperkasaan Monas yang memancarkan jiwa persatuan Indonesia akan nampak teduh bila kawasannya tetap menjadi ruang publik yang netral. Ruang publik yang berhawa kesegaran bhinneka tunggal ika. Ruang yang dimasuki insan dengan berbagai latar belakang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia.

    Atas dasar itu, nampak jelas terbayang kalau Ahok pun akan mengatakan 'tidak' untuk perayaan Natal di Monas. Tentu dengan alasan yang sama sederhananya ketika melarang kegiatan keagamaan lain di kawasan Monas. Lebih baik izin pendirian rumah ibadah semua agama dibereskan ketimbang sibuk mengurusi perayaan Natal di Monas.

    Sikap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) layak diapresiasi, sebagai tanda kejeliannya membaca tanda dan gelagat zaman. Hal mana seperti disampaikan Manuel di Grha Oikoumene PGI, Jakarta Pusat, Jumat, 15 Desember 2017, seperti dilansir viva.co.id.Selain tidak adanya tradisi perayaan Natal di area terbuka, Manuel mengkhawatirkan, dengan adanya perayaan Natal di area terbuka dimanfaatkan seseorang atau kelompok untuk melakukan upaya politis.

        "Kami berharap tidak ada kelompok-kelompok yang atas nama kelompok politis untuk mengorganisir kegiatan natal bersama jadi biar ini diserahkan pada gereja," katanya.

    Lebih lanjut, ia menuturkan, tidak ikutnya PGI merayakan Natal di Monas lantaran PGI melihat Monas dibangun tidak dalam rangka untuk mengumpulkan massa dalam jumlah yang banyak. Tuturan ini selaras dengan maksud pendirian Monas seperti diterangkan di atas. Manuel yang mewakili PGI sepertinya memahami adeg Tugu Monas. Ada rasa dan sikap hormat yang ditunjukkan PGI untuk turut melestarikan Monas sebagai tugu peringatan persatuan Indonesia.

        "Kami mau Monas ini dijaga dipelihara. Monas justru menjadi monumen yang bisa memperkokoh kehidupan bersama... Kalau selama ini Monas digunakan kelompok tertentu tidak apa. Kita tidak masalahkan tapi jangan sampai sebuah peringatan keagamaan seperti Kristen ini dalam tanda petik dipaksakan diadakan di Monas", ujarnya.

    #MaknaNatal


    Penulis   :   Zétiy@di    Sumber   ; Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Terbayang, Mengapa Ahok Mengatakan 'Tidak' untuk Natal di Monas Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top