728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 23 Desember 2017

    #Warta : Tanggul Basuki dan Tanggul Baswedan, Bikin Ahoker Gagal Move On!

    Memang sulit membandingkan antara pemimpin yang lahir dari pendukung yang adalah rakyat, dengan pemimpin yang lahir dari pendukung yang menjual ayat. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dikenal dengan seorang pekerja keras menghasilkan pembangunan kelas atas. Sedangkan Anies Baswedan, seorang gubernur yang membuat tanggul, entah yang berkali-kali jebol.

    Perbedaan yang sangat mendasar, esensial, dan tidak terbantahkan ini, membuat dua sosok ini berbeda sangat jauh. Perbedaan dari gaya bicara, ketegasan, karakter kepemimpinan, jauh ibarat langit dan bumi, jika tidak ingin dikatakan antara surga dan neraka. Sebenarnya saya sebagai Ahoker sejati tidak akan membawa-bawa antara surga dan neraka. Namun para pendukung Anies, terlihat memisahkan Ahok dan Anies dengan garis tegas, antara surga dan neraka.

    Para pendukung Anies sekarang mulai sadar, siapa yang surga, siapa yang neraka. Mereka yang sadar, tentu mereka yang masih punya pikiran yang jernih dan bersih melihat perubahan total wajah Jakarta. Inilah kepemimpinan yang kalian dapatkan.

    Bukan hil yang mustahal… Eh.. Maksud saya, bukan hal yang mustahil jika kita melihat banyak orang-orang mulai kecewa terhadap kepemimpinan yang belum genap tiga bulan ini. Masuk triwulan pertama saja sudah berasa seperti bertahun-tahun. Tenang saja, masih ada 57 bulan lagi, Anies Sandi bersama-sama dengan warga Jakarta. Perbedaan yang paling jelas mencolok adalah hasil kerja dalam melakukan pembetulan pengelolaan banjir.

    Dalam pengelolaan banjir, Ahok memiliki sistem kerja yang terstruktur dan sistematis. Ahok kenal betul kontur Jakarta, sebagai seorang lulusan S1 teknik metalurgi, ia sedikit banyak tahu tentang kontur tanah. Ahok tepat dalam mengatakan bahwa sebagian daerah Jakarta adalah di bawah permukaan air laut.

    Tidak berlebihan jika Ahok mengatakan Jakarta itu ibarat mangkok. Maka ia tahu bagaimana solusinya, yakni normalisasi sungati, bukan naturalisasi. Lantas bagaimana caranya melakukan normalisasi sungai? Ia harus merelokasi para warga yang tinggal di bantaran sungai yang akan dinormalisasi.

    Proses pengerukan kali untuk memperdalam dilakukan, sembari membangun jalan inspeksi di sepanjang bantaran sungai. Pembangunan ini mau tidak mau mengorbankan tempat tinggal para warga. Warga dipindahkan ke rusun-rusun, yang jauh, karena kendala lokasi.

    Namun ia menjamin transportasi gratis, pendidikan, dan kesehatan warga dengan BPJS. Ia melakukan segala sesuatu dengan perhitungan yang pasti, tanpa umbar-umbar janji, karena Ahok ingin Jakarta yang manusiawi. Selain banjir pun harus memikirkan transportasi.

    Sekitar dua tahun ia menjabat sebagai Gubernur, ia pun akhirnya mengalokasikan dana CSR alias corporate service responsibility sebagai dana denda yang digunakan untuk membangun Simpang Susun Semanggi. Hasilnya? Memuaskan! 20 persen kemacetan berkurang jauh karena simpang susun semanggi. Lagi-lagi ada saja orang-orang yang mengutuk-ngutuki Ahok karena simpang itu berbentuk angka 69 dan menyesatkan orang. Makan tuh nomor bokep!

    Sayangnya, para warga lebih memilih untuk tinggal di zona nyaman mereka, dan memilih Anies karena dianggap lebih santun dan seiman. Warga Bukit Duri, Kampung Air, dan beberapa tempat yang berhasil terbuai dengan janji manis Anies, memilih Anies karena pada saat itu dipandang lebih menjanjikan. Ya, MENJANJIKAN. Makan tuh janji! Hahaha

    Setelah melihat Ahok yang sangat mahir dalam menata kota, baik dari banjir, membangun tanggul yang mengamankan Jakarta dari banjir rob, dan membangun simpang susun Semanggi yang mengurangi 20 persen kemacetan, bagaimana dengan Anies yang mahir menata kata? Anies sekarang kewalahan menghadapi keluhan banjir, dengan segudang kontrak politik yang mustahil untuk dibatalkan, membuat dirinya semakin terjepit di dalam janji manisnya.

    Tanggul yang dibuatnya jebol berkali-kali. Bahkan para warga Jatipadang pun sudah kebingungan, dan akhirnya harus mencoba cara lain agar tanggulnya tak bisa dibuat jebol, dengan mengganti nama tanggul Baswedan.

    Apakah masalah banjir sudah selesai? Ah, nanti dulu, jika tahun ini berhasil lewat, saya percaya itu karena Tuhan sedang iba terhadap Jakarta. Lihat saja nanti tahun depan, apakah tanggul tersebut kuat untuk menahan air, yang hanya diberi ruang lebar dua meter, di mana seharusnya lebar kali adalah 20 meter?

    Apakah air berpihak kepada Anies, atau ia harus terpaksa berpihak kepada air? Hanya Anies yang tahu, karena Tuhan pun rasanya tidak mau urus. Hahaha. Bahkan ia sekarang sedang asyik berurusan dengan kemendagri perihal coret-mencoret dana TGUPP.

    Betul kan yang saya katakan?




    Penulis   :  Hysebastian      SUmber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Tanggul Basuki dan Tanggul Baswedan, Bikin Ahoker Gagal Move On! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top