728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 23 Desember 2017

    #Warta : Menang Taruhan, Ahok Tekuk Mulut Anies, Normalisasi Jawabannya

    Jika pepatah mengatakan sebab nila setitik, rusak susu sebelanga, maka pepatah ini sedang benar-benar terwujud di Jakarta. Satu faktor saja gagal diberesi oleh seorang pemimpin, ia akan dibully habis-habisan oleh warga. Pemimpin yang baik sebenarnya mudah didefinisikan. 

    Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengadministrasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Karakter pemimpin semacam ini ditemukan dalam diri Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Namanya manusia, kita harus realistis. 

    Tidak semua segi bisa dibereskan oleh Ahok, tetapi dapat dilihat dengan jelas bahwa salah satu pemimpin yang bisa membereskan banyak hal, tak bisa dimungkiri lagi, orang yang tepat adalah Ahok. Terdakwa penista agama ini tidak perlu diragukan lagi, membereskan hal-hal fokus yang jadi permasalahan di ibu kota. 

    Kesemrawutan transportasi di berbagai titik-titik macet Jakarta diurai dengan membuat jalur Trans Jakarta, perbaikan jalan, dan relokasi pedagang kaki lima. PKL di Tanah Abang, menjadi wujud kerja Basuki Tjahaja Purnama, menghadapi kerasnya preman-preman di Jakarta, yang dibela oleh Lulung – mungkin dipelihara? 

    Untuk masalah banjir, Ahok pun melakukan kegiatan administrasi keadilan sosial, dengan cara melakukan relokasi dengan pemberian rusun sewaan. Perbaikan gorong-gorong di pinggir jalan juga dilakukan. 

    Sungai-sungai dikeruk, turap-turap dipasang di bibir sungai, agar cipokan air tidak meleber kemana-mana. Semasa ia menjabat sebagai gubernur, ia pun mengerjakan hal-hal besar dan hal-hal kecil secara bersama-sama. Bersama Djarot Saiful Hidayat, Ahok berhasil membenahi kota. Pak Djarot yang santun bisa mengimbangi Pak Ahok yang meledak-ledak.

    Tim gubernurnya bekerja secara sangat efektif. Tentu kita harus realistis, Ahok seorang diri rasanya sulit untuk membereskan banyak permasalahan Jakarta. Kita harus tetap memiliki akal sehat, dan tidak terlalu mendewa-dewakan sosok Ahok ini, toh dia juga tidak ingin dielu-elukan sampai seperti itu. 

    Namun kita harus akui bahwa Ahok seorang diri jauh lebih berfaedah ketimbang Anies dan 73 orang tim yang menunggu kue lezat untuk dibagi-bagikan. Jadi sudah faham kan bagaimana perbedaan Ahok dan Anies? Ini sudah tidak perlu kita perdebatkan lagi. 

    Bahkan para pemilih Anies, semakin terpecah, dan semakin renggang persatuannya. Mereka dipaksa bersatu atas nama agama, dan terpaksa diceraikan atas nama ketidakbecusan pilihannya. Dipilih dengan ancaman ayat, dipecah dengan ancaman banjir. Mana yang lebih realistis? 

    Semua bermula dari Februari 2017, membahas mengenai banjir, dan solusi yang ditawarkan oleh Ahok, sang avatar air.

    20 Februari 2017, Ahok Pasang Taruhan

    "Kalau Pak Anies diizinkan Tuhan jadi gubernur DKI, kalau dia enggak lakukan normalisasi seperti yang saya lakukan, BOHONG DIA ITU. Berani taruhan kita… Siapa pun jadi gubernur, kalau dia enggak lakukan normalisasi, pasti dia enggak kerja. Kamu pilih banjir atau normalisasi… Kalau ada teori yang lain, berarti (Kementerian) PU pusat teorinya enggak benar, dong," kata Ahok di Kelurahan Bukit Duri, Jakarta, Senin (20/2/2017). SUMBER

    9 Februari 2017, Anies Sindir Ahok di Hadapan Ibu-Ibu Dewan Dakwah Islam

    "Tapi yang kedua adalah (memilih berdasarkan) kinerja. Karena itu, saya kepada ibu semua dalam ibu-ibu mengampanyekan bicarakan juga kinerja… Kalau mau digusur, ya pilih yang biasa gusur… Ingin enggak di Jakarta banyak pekerjaan? Kalau ingin, pilih yang sudah membuktikan yang sudah membuat pekerjaan banyak…" kata Anies di hadapan ibu-ibu majelis taklim Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (9/3/2017). SUMBER

    2 Mei 2017, Ahok Jaga Muka Anies

    "Aku sih sudah bilang Wali Kota, (Pasar Ikan) gusur saja, kasihan sama Pak Anies nanti kalau enggak digusur… Janjinya (Anies) enggak digusur, tahu-tahu digusur kan enggak enak. Kalau sekarang kan enak, bilang, 'Bukan gue yang gusur, Ahok yang gusur'... Iya kami akan sikat sudah, ya kami sikat terus, he-he-he…" ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa sore. SUMBER

    21 Desember 2017, Anies Kalah Taruhan, Mulut Anies Ditekuk

    "Memang tidak ada pilihan lain, di tempat ini harus ada pelebaran… Sungainya makin kecil, makin kecil, karena warga menempati, membangun di... betul-betul mengurangi lebar sungai… Ini bukan sekadar ikut aturan soal peraturan, ini soal penderitaan. Pada tega enggak tetangga-tetangganya menderita karena lebarnya sungai itu dikurangi rumah-rumah warga sendiri… Sesudah musim hujan ini kami akan perbaiki secara tuntas. Kami hanya bisa mengerjakan sesudah musim hujan selesai…" ujar Anies seusai meninjau tanggul jebol di Jatipadang, Rabu (20/12/2017) malam. SUMBER

    Menang taruhan masalah banjir, Ahok tekuk Anies! Sudah jelas, bahwa Anies kalah taruhan, ia harus menjilat ludahnya sendiri saat ini, dengan cara melakukan normalisasi. Mana suara Zeng Wei Jian, corong Anies yang selama ini membela secara sadis? Zeng Wei Jian, ibarat naga, mendadak jadi tikus yang menjerit-jerit histeris, terjebak dengan ucapan yang dilontarkan oleh Anies Sendiri. Mirip dengan teriakan Jonru ketika digertak Akbar Faisal. Hahaha.

    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis   :  Hysebastian    Sumber   :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Menang Taruhan, Ahok Tekuk Mulut Anies, Normalisasi Jawabannya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top