728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 Desember 2017

    #Warta : Ketika Narasi "Jokowi Bisa Kalah" Sengaja Dibangun Kubu Lawan

    Belakangan ini saya lihat di beberapa sosial media sedang gencar-gencarnya penanaman narasi “Jokowi bisa kalah” atau yang lebih ekstrim lagi “Jokowi pasti kalah” di tahun 2019 nanti. Narasi ini dibangun begitu sempurna, sampai kita tidak bisa membedakan mana suara asli pendukung Jokowi dan mana yang suara pesanan. Semuanya membaur dan membentuk satu kesimpulan yang sama.

    Saya pribadi memiliki kecurigaan kepada salah satu lembaga survey dan konsultan politik, curiga bahwa mereka lah yang membuat narasi tersebut, menyebarkan dan mengevaluasi efeknya. Namun kecurigaan saya ini tidak bisa dibuktikan, meskipun ada banyak faktor dan indikasi yang mengarah ke sana.

    Narasi “Jokowi bisa kalah” di 2019 ini adalah narasi ibarat pisau bermata dua. Bisa melukai ke bagian kanan, bisa juga menusuk ke kiri. Narasi ini mampu membuat para pendukung menjadi lebih militan, tapi bisa juga menjadi penyemangat kubu lawan. Namun konsekuensi yang paling buruk adalah membuat orang awam merasa bahwa kalau nanti Jokowi kalah, semua itu bisa diterima oleh akal sehat.

    Konsekuensi terburuk ini sangat perlu disadari dan diantisipasi oleh kubu Jokowi, baik partai maupun relawannya.

    Kepemimpinan Jokowi harus diakui sangat berpengaruh terhadap kemajuan Indonesia. Wilayah yang dulunya tak tersentuh listrik, sekarang dialiri listrik. Dibangunkan bandara, dibuatkan jalan raya, dibangun jembatan megah dan nyaman. Meskipun wilayah tersebut tidak ramai penduduk, namun Presiden Jokowi tetap membangunnya, alasannya adalah sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Selain menyiapkan infrastruktur, Presiden juga menginstruksikan kebijakan-kebijakan pro rakyat seperti menerapkan sistem BBM satu harga dan membangun jalur Tol Laut.

    Semua yang dilakukan oleh Jokowi selama 3 tahun terakhir ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa. Sepertinya kita tidak pernah berpikir negeri ini akan memiliki pembangkit listrik tenaga angin, yang dibangun megah dan instagramable. Tidak pernah terbayang juga bagaimana jalur transpapua bisa dibangun membelah bukit dan pegunungan. Dan pada kenyataannya sekarang, semua itu benar-benar dibangun dengan sempurna.

    Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi adalah pekerjaan-pekerjaan yang mudah sekali dilihat dan dimengerti, bahwa pemerintahan ini sedang melakukan yang terbaik untuk menuju Indonesia yang maju. Sehingga secara teori seharusnya rakyat akan lebih memilih Jokowi dibanding calon-calon lain yang belum terbukti ataupun masih omong kosong.

    Jokowi menjadi Presiden sampai 2024 akan menjadi sebuah fakta yang sangat mudah diterima oleh publik. Sebab beliau memang bekerja dengan benar dan hasilnya jelas terlihat. Sementara calon lainnya seperti Prabowo, Gatot atau siapapun itu, semuanya masih belum melakukan sesuatu. Hanya sebatas orasi-orasi kampanye, dari teori-teori yang masih bisa diperdebatkan. Sehingga kalau di 2019 nanti Prabowo atau yang lainnya lah yang menang, itu akan menyisakan sebuah tanda tanya besar.

    Jokowi pada tahun 2014 lalu menang dari Prabowo karena masyarakat melihat hasil kerja beliau di Solo dan Jakarta. Hasil-hasil kerja beliau yang sebenarya tidak pernah diniatkan untuk jadi materi kampanye, berhasil mengantarkannya ke kursi Presiden. Mengalahkan seorang Prabowo, orator handal yang sudah bertahun-tahun melakukan kampanye. Bahkan dua tahun sebelum Pilpres, bisa dibilang Prabowo numpang tenar dengan mengusung Jokowi saat itu.

    Di tahun 2019 nanti, capaian dan hasil kerja Jokowi tentu saja sudah jauh lebih besar, lebih luas dan tersebar di semua provinsi. Masyarakat juga lebih mudah melihat hasil kerjanya, karena mungkin satu atau dua infrastruktur yang dibangun, berada tak jauh dari tempat mereka tinggal. Kita tidak perlu lagi mencari-cari berita tentang apa yang dilakukan Jokowi di Jakarta dan Solo. Sebab kebijakan dan pembangunan infrastruktur oleh Jokowi sudah begitu dekat dengan kita.

    Di saat Jokowi begitu berhasil membangun ‘kewajaran’ untuk menang, menjadi masuk akal kalau lawan-lawannya membangun narasi “Jokowi bisa kalah” untuk terbentuk sebuah pemahaman publik bahwa semua ‘kewajaran’ milik Jokowi bisa dikikis sedikit demi sedikit. Setelah itu disiapkan serangkaian janji kampanye, dan daftar kegagalan Jokowi selama memimpin Indonesia.

    Mengapa narasi “Jokowi bisa kalah” ini penting bagi lawan Jokowi? karena kalau hanya menyerang daftar kegagalan –yang sebenarnya putar balik fakta saja- semuanya lebih mudah dipatahkan, sebab masyarakat melihat hasil kerja Presiden. Narasi “Jokowi bisa kalah” diperlukan agar masyarakat bisa menerima bahwa Jokowi sebenarnya gagal, bahwa di sisi lain masyarakat merasakan betul hasil pembangunan dan kemajuannya, tidak masalah, yang penting diterima dulu bahwa Jokowi punya daftar kegagalan dan itu akan menjadi alasan mengapa dia bisa kalah.

    Meskipun Prabowo tak lagi tampil di televisi dengan iklan-iklan macan asianya, namun mesin buzzer dengan materi kampanye 2014 lalu terus bergerak dinamis. Jokowi difitnah nonmuslim dan kini berkembang menjadi anti Islam, keturunan PKI dan kini berkembang menjadi pemerintahan komunis. Sehingga puncaknya ada umpan lambung dari Ahok –orang yang selama ini dikenal dekat dengan Jokowi dan diusung oleh PDIP di Pilgub DKI- yang kemudian memunculkan demo berjilid-jilid.

    Klaim jumlah peserta demo 7 juta orang atau 7.5 juta orang rasanya bukanlah klaim yang asal-asalan. Itu adalah satu kesatuan dari narasi “Jokowi bisa kalah” demi membentuk ‘kewajaran.’ Kita tahu pada 2014 lalu Jokowi-JK menang dengan perolehan 71.107.184 suara, sementara Prabowo Hatta hanya meraih 62.578.528 suara. Sehingga kalau suara tersebut dikurangi atau ditambah 7 juta suara, akan membentuk angka yang ‘wajar’ untuk menang. Sementara kalau dikurangi atau ditambah dengan angka di bawah 7 juta, akan menjadi angka yang tidak wajar atau tidak aman, karena selisinya terlalu sedikit. Silahkan dihitung sendiri. Bagaimanapun angka-angka tersebut mungkin saja memang kebetulan, tapi tetap saja sebuah kebetulan yang luar biasa.

    Terakhir, saya cukup tahu harga dari sebuah konsultan politik dan penggerak sentimen publik di media dan media sosial. Tahu bagaimana mereka menyusun strategi sampai melakukan operasi. Sehingga saya berkesimpulan bahwa narasi “Jokowi bisa kalah” yang cukup viral dan diperbincangkan dari berbagai sudut pandang oleh banyak pengamat ataupun penulis, dapat dipastikan sebagiannya adalah titipan atau bayaran.

    Sehingga saya pikir kelompok relawan dan partai pendukung Jokowi seharusnya juga sudah bergerak membuat narasi pendukung, guna membantu Presiden kita itu menyelesaikan pekerjaannya dengan tuntas sampai 2024. Begitulah kura-kura.




    Penulis   :    Alifurrahman      Sumber   :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ketika Narasi "Jokowi Bisa Kalah" Sengaja Dibangun Kubu Lawan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top