728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 23 Desember 2017

    #Warta : Jalan Tanah Abang untuk PKL, Ibarat Jarussalem untuk Israel

    Hari ini saya terkejut luar biasa ketika membaca berita bahwa salah satu ruas jalan raya di pasar tanah abang kini ditutup dan secara resmi dipergunakan untuk Pedagang Kaki Lima (PKL). Apa tujuannya? Supaya trotoarnya bisa digunakan oleh pejalan kaki. Sebab sebelumnya PKL dianggap mengganggu karena berjualan di trotoar dan para pejalan kaki susah lewat. Untuk menyukseskan program ini, Pemprov DKI memberikan tenda gratis untuk PKL berjualan.

    Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Anies Sandi adalah hal yang patut diapresiasi. Mereka sudah coba melakukan sesuatu untuk menyelesaikan kesemrautan Tanah Abang. Namun caranya menurut saya tidak bisa dibenarkan. Sebab jalan raya tersebut adalah fasilitas publik. Jalan itu dibangun memang untuk dilalui dan dilintasi kendaraan, bukan malah untuk memfasilitasi PKL dan merampas hak pengendara bermotor.

    Katakanlah niat Anies baik, ingin memfasilitasi dan tidak ingin mengusir PKL. Peduli dengan rakyat kelas bawah dan peduli terhadap perekonomian mereka. fine! Tapi kenapa kepedulian tersebut harus mengambil hak-hak orang lain? apa bedanya dengan Trump yang mengakui Jarussalem sebagai Ibukota Israel dengan tujuan agar konflik bisa selesai? memberi sesuatu kepada kelompok yang tak memiliki hak di sana, dan dalam waktu yang sama dia mengambil hak orang lain! apa bedanya dengan memberi sedekah dari hasil mencuri?

    Hari ini saya benar-benar kangen dengan Ahok. Teringat dengan ucapannya saat debat Pilgub. Jakarta ini ibarat anak yang sudah dididik sedemikian rupa, lalu kemudian datang om dan tante dan memberikan semua yang diinginkan sang anak padahal itu melanggar dan tidak baik untuk dirinya dan masa depannya. Persis seperti yang kita lihat sekarang ini. PKL malah disuruh jualan di jalan raya.

    Saya jadi teringat bagaimana perjuangan Jokowi di tahun 2012 lalu. Menemui PKL dan berdiskusi untuk mencari solusi atas semrautnya Tanah Abang. Jokowi sempat memberi toleransi selama 2 minggu agar PKL bisa berjualan di pinggir jalan, karena saat itu menjelang lebaran. Jokowi ingin memberikan semacam bonus, sebelum akhirnya mereka dipindahkan ke tempat yang lebih layak untuk berjualan.

    Pasar Blok G kemudian dipermak dan dipercantik agar para pengunjung dan pedagang nyaman bertransaksi. Selama satu tahun penuh Jokowi memantau langsung dan mengawasi proses relokasi PKL. Bahkan kalau ada laporan pungutan liar, beliau langsung tanya siapa namanya? Kemudian ditindak dan ditelusuri untuk diberi hukuman.

    Tempat PKL yang identik dengan bau dan kumuh itu kemudian berubah menjadi tempat yang nyaman dan rapi untuk jualan. Sementara jalan raya tanah abang, yang setelah puluhan tahun identik dengan macet kanan kiri, pada 2013 lalu sudah berhasil ditata dengan sangat rapi dan lancar.

    Setelah menjadi Presiden, Gubernur Jakarta selanjutnya Ahok dan Djarot tetap mempertahankan warisan yang baik tersebut. Pasar tanah abang tetap rapi dan tidak semraut. Tapi setelah Anies Sandi berkuasa, tempat tersebut langsung amburadul, macet lagi karena PKL kembali berdagang di trotoar. Preman berkeliaran lagi untuk menagih jatah keamanan.

    Sebenarnya, Sandiaga sempat mengaku akan mengikuti cara Jokowi pada 2012 lalu. “Tadi disampaikan juga sama Pak Jokowi saat pembicaraan, soal penataan kampung kumis, kumuh miskin. Pak Jokowi sampaikan, orang Indonesia diajak makan aja, undang ke balai kota, pasti rapi. Nanti ada juga rencana seperti gitu (di Tanah Abang),” katanya Oktober lalu.

    Namun entah bagaimana ceritanya kini jalan raya di tanah abang malah ditutup dan PKL dimita berjualan di tengah jalan. Saya curiga karena Sandiaga salah ambil langkah, karena pada November lalu dia mengajak preman-preman tanah abang untuk berdiskusi menyelesaikan kesemrautan serta kemacaten. Sehingga kalau sekarang jalan tanah abang malah ditutup, mungkin itu ide dan usulan para preman di sana, yang memiliki juragan atau backup pejabat daerah setempat.

    Pada akhirnya, terlepas apakah strategi ini berhasil mengurai kemacetan dan meningkatkan pemasukan PKL, saya lihat negeri Jakarta justru tambah mundur kalau masih memiliki PKL dengan tenda-tenda ala kadarnya, yang memiliki beragam mau apek dan menyengat. Sudah seperti daerah tertinggal. Padahal di desa-desa, termasuk desa saya, sekarang para pedagang di pasar tradisional yang dulu kumuh dan baru, kini sudah berjualan di dalam gedung yang rapi dan bersih berkat revitalisasi pasar oleh pemerintah pusat.

    Meski di sisi lain saya juga menyadari, bahwa jatah sewa atau uang keamanan pertenda sungguh cukup lumayan. Cukuplah buat bayar Saracen selama setahun, nikah lagi ataupun umroh lagi kangen-kangenan sama Rizieq. Sehingga mungkin itu juga jadi pertimbangan yang win-win solution bagi preman dan pencitraan. Begitulah kura-kura.



    Penulis   :  Alifurrahman      SUmber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Jalan Tanah Abang untuk PKL, Ibarat Jarussalem untuk Israel Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top