728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 14 November 2017

    #Warta : Warga: “Maaf-maaf Ya, Waktu Zaman Pak Ahok Enggak Pernah Banjir..."

    Menjadi pejabat di era modern dan keterbukaan seperti saat ini tidak gampang, karena bukan hanya lembaga resmi yang mengawasi, media dan masyarakat pun ikut mengawasi setiap kebijakan yang diambil. Oleh sebab itu, pejabat tidak dapat semaunya dalam mengambil kebijakan. Jika bodoh ya akan dibully, jika pintar akan diapresiasi, itu sudah menjadi resiko pemimpin zaman Now.

    Dulu Anies-Sandi bisa saja nyinyirin Ahok-Djarot sebagai upaya untuk menjatuhkannya di pilkada DKI. Setiap kebijakan dikatakan gak berpihak kepada wargalah, menggusur itu tidak manusiawilah, tetapi setelah menjadi Gubernur baru tahu rasa, bahwa keputusan Ahok dalam melakukan kebijakan itu merupakan kenyataan yang harus dihadapi, bukan sekedar retorika belaka. Karena permasalahan di dunia nyata itu tidak akan selesai dengan beretorika saja. Masalah di dunia nyata itu tidak cukup dengan hanya berdoa dan bersabar, tetapi memang harus dicarikan solusi yang tepat.

    Saat mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat di tahun 2014, retorika Anies sangat berguna untuk memenangkannya. Begitu pula dalam menjadi tim sukses Jokowi, retorika Anies sangat berguna untuk menarik simpati. Tidak kalah penting pula saat dia mencalonkan diri menjadi Cagub DKI Jakarta yang lalu, retorika sangatlah penting dalam memprovokasi warga supaya memiliki alasan mau memilihnya.

    Tetapi di dunia nyata, retorika menjadi nomer kesekian. Dalam menjalani kehidupan nyata, teknis yang jelas itu yang dapat dibuktikan. Sebagai contoh, jika orang ingin berkebun untuk menanam jagung maka yang dilakukan adalah mencangkul atau membajak lahan supaya gembur, mengukur jarak tanam, melubangi tanah sebagai tempat benih ditabur, lalu ditutup dengan tanah, setelah tumbuh dirawat, di siram dengan air, dibersihkan rumput yang menggangu dan lain-lain.

    Bisa dibayangkan jika orang ingin menanam jagung tetapi yang tahu hanya beretorika. Sebagai contoh, jika ingin menanam jagung itu yang pertama adalah menggemburkan tanah dengan doa dan harapan, setelah itu membalut benih dengan bersyukur serta berdiskusi dengan rumput yang bergoyang untuk menjaga ketahanan sang jagung agar tidak terkontaminasi. Pusing gak lo?

    Retorika itu hanya berfungsi memperindah kata-kata supaya mampu menggetarkan hati, memupuk semangat berapi-api, tetapi tidak berguna jika sudah berjibaku di dunia nyata. Anies-Sandi harus segera terbangun dan menyadari hal itu, oleh sebab itu mereka harus segera belajar dengan cepat apa yang harus dilakukan secara nyata untuk DKI Jakarta. Dia tidak bisa hanya berkata akan melukis kampung kumuh di bantaran sungai supaya indah, tetapi dia harus berkata seperti Ahok,”kalian akan direlokasi ke tempat yang lebih manusia yaitu rusun, karena sungai akan dinormalisasi supaya tidak banjir di saat musim penghujan”.

    Di saat musim penghujan menyerbu DKI Jakarta, sudah semestinya Anies-Sandi tahu apa yang dilakukan, karena jika tidak tahu, maka banjir akan melanda dalam waktu yang cukup lama, bukan hanya sekedar genangan dengan waktu singkat.

    Dia harus mendengar keluhan warga seperti yang dikeluhkan oleh pak Sugiyanto, warga Jalan Padang RT 006 RW 002 Ulujami, Jakarta Selatan. Pak Sugiyanto mengatakan, bahwa di Jaman Jokowi, hingga Ahok, dia sudah tidak khawatir dengan banjir. Namun setelah Anies-Sandi yang memimpin Jakarta, perasaan was-was akan banjir kembali muncul, karena air Kali Pesanggrahan yang terletak beberapa puluh meter dari rumahnya meluap.

    "Semalam banjir, kalau di depan rumah saya tidak sampai masuk karena tinggi, tapi di ujung jalan dekat jembatan Kali Pesanggrahan sampai sedengkul," kata Sugiyanto ketika ditemui di rumahnya, Senin (13/11/2017) petang, seperti yang dilansir laman kompas.com.

    "Maaf-maaf ya, waktu zaman Pak Ahok enggak pernah banjir, baru kali ini aja setelah gubernur baru," ujar Sugiyanto.

    "Dulu kebanjiran hampir setiap hari waktu musim hujan, alhamdulillah begitu zaman Pak Jokowi sudah berkurang banget, terasa enggak pernah banjir lagi," katanya.

    Hal yang sama diungkapkan warga IKPN Bintaro, Pal. Warga RW 004, Bintaro, Pesanggrahan, itu mengatakan, "Iya baru semalam saja banjir, sudah empat tahun ini enggak banjir, kan," kata Pal ketika dihubungi.

    "Ya gara-gara gubernurnya ganti mungkin," kata Pal berseloroh.

    Sebenarnya, saya juga tahu bahwa pada saat Ahok memimpin Jakarta, warga tidak terlalu was-was terhadap banjir, karena dulu pacar saya tinggal di Jakarta yang tidak jauh dari sungai. Sebelum zaman Ahok, banjir masuk sampai lantai bawah dan surutnya lama. Tetapi giliran Ahok yang memimpin Jakarta, banjir tidak sampai masuk rumah, paling mentok sampai jalan saja, karena memang jika hujan, para pekerja dari pemda sudah siap berjibaku untuk menanggulangi banjir tersebut, dari petugas pompa sampai pasukan pembersih sampah beraksi. Itu semua karena Ahok menguasai permasalahan, dan tahu apa yang harus dilakukan melalui tim yang dia bentuk seperti pasukan orange, hijau sampai biru.



    Penulis  :  Cak Anton    Sumber  :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Warga: “Maaf-maaf Ya, Waktu Zaman Pak Ahok Enggak Pernah Banjir..." Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top