728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 24 November 2017

    #Warta : Uskup Agung Romero dan Ahok Tentang Salib sebagai Simbol Perjuangan Kemanusiaan


    Uskup Agung Romero dan Ahok Tentang Salib sebagai Simbol Perjuangan Kemanusiaan
    Zétiy@di / 23 minutes ago in Spiritual / 0 view / 4 min read
    Uskup Agung Romero dan Ahok Tentang Salib sebagai Simbol Perjuangan Kemanusiaan

        ”Uskup Agung Romero sungguh seorang saksi iman yang besar, dia adalah pribadi dengan kebajikan Kristiani sejati”

    Paus Benediktus XVI

    Kata-kata Paus Benediktus XVI untuk Uskup Agung Oscar Romero tersebut, rasanya tidak berlebihan bila dialamatkan kepada Ahok juga. Pasalnya, Ahok di mata saya adalah pribadi dengan kebajikan Kristiani sejati. Kesejatian itu nampak dalam keberpihakannya.

    Ketika masih menjabat sebagai Gubernur DKI, salah satu kebajikan Ahok yang tak mungkin saya lupa adalah saat memberangkatkan para penjaga masjid umrah. Ahok pun berharap setiap tahun selalu ada para marbot berangkat ke Tanah Suci.

    "Kita sih penginnya tiap tahun ya (ada program ini) supaya para Marbot bisa jadi kunci kan tiap hari jaga bersihin di situ. Dananya dari APBD kita ajukan ke APBD kan di Dikmental ada. Kita harap para marbot bisa jadi agen untuk bisa membuat orang jadi tertarik datang ke masjid," kata mantan Bupati Belitung Timur itu.

    (https://news.detik.com/berita/2778891/berangkatkan-30-penjaga-masjid-umrah-ahok-didoakan-sukses)

    Ahok memperlihatkan sebuah kebajikan Kristiani dalam tindakan nyata. Sebuah kebajikan yang didasari keyakinan bahwa hanya kebaikanlah yang bisa mengalahkan kejahatan (bdk. Roma 12:21). Maka ia terus berbuat baik. Sebuah kebaikan yang tidak bisa dibatasi oleh sekat dan dinding suku, agama, maupun ras. Ibarat cahaya mentari yang memberikan sinarnya kepada semua ciptaan (bdk. Matius 5:45).

    Menarik untuk dipertanyakan. Mengapa bukan para pendeta yang diberangkatkan ke Yerusalem untuk berwisata rohani? Bukankah Ahok adalah seorang Kristen? Bukankah kalau membiayai para pendeta wisata rohani dia bisa mendapatkan banyak doa untuk melanggengkan kekuasaan di DKI Jakarta?

    Nah, mengapa justru para marbot yang diberangkatkan umrah? Inilah keunggulan seorang Ahok. Dia mengerti makna ‘magis’ (lebih) dari kutipan Injil di bawah ini:

    “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (Matius 5:46-47)

    Dalam tulisan saya sebelumnya, berjudul ‘Benarkah Salib Sudah Kehilangan Daya Ilahi?’, saya menguak siapa sejatinya sosok Uskup Agung Oscar Romero. Seorang Uskup yang berani menjadi musuh bagi penindas dan martir bagi kaum tertindas. Seorang Uskup yang memilih berani memanggul salib daripada menjadi hamba fasilitas dan kenyamanan. (https://www.seword.com/spiritual/benarkah-salib-sudah-kehilangan-daya-ilahi-r1676nQxG)

    Maklum, dengan pilihannya itu Uskup Romero dimusuhi koleganya sesama imam. Banyak surat, bahkan disebut ada berkilo-kilo surat yang sampai di Vatican yang berisi laporan bahwa Romero adalah seorang politisi dan pengikut setia teologi pembebasan. Ya, selama tiga tahun menjadi Uskup Agung San Salvador (1977 – 1980), Romero begitu dimusuhi teman-temannya sesama imam yang mendapatkan fasilitas kenyamanan dari rezim otoriter.

    Tidak cukup sampai di situ. Oleh sesama Uskup di El Salvador dia dikucilkan. Ketika dia dibunuh, tak ada satu pun uskup El Salvador yang hadir dalam misa pemakaman. Benar-benar edian njaran goyang! Sampai segitunya perlakuan tidak manusiawi dari koleganya para uskup yang berakrab ria dengan rezim yang sangat kejam. Alasan bahwa Romero adalah musuh politik rezim militer El Salvador cukup menjadi dalih bagi para uskup untuk absen pada misa pemakaman itu. Maklum, Oscar Romero dianggap membahayakan Gereja karena afiliasi dan komitmennya terhadap para petani dan buruh, orang-orang miskin dan tertindas di El Salvador.

    Selama menjadi Uskup Agung San Salvador, dari mimbar kotbah, berhadap-hadapan dengan rezim otoriter yang didukung para imam lain, tak secuil ketakutan pun diperlihatkannya. Dengan sakramen tahbisan yang diterimanya, dari atas mimbar selalu terdengar suara menggelegar menghunjamkan kata-kata kebenaran. Ibarat pedang yang menusuk kebusukan dan kekejian kekuasaan rezim militer yang berkuasa di El Salvador sejak tahun 1931.

    Spiritualitas panggilan sebagai imam hingga ditahbiskan menjadi uskup sangat dihayati Romero sampai akhir hayat. Dan, inilah kata-katanya yang selalu menggelisahkan nurani Gereja sepanjang masa:

    “Sebuah Gereja yang tidak memprovokasi suatu krisis, sebuah Injil yang tidak meresahkan, sebuah Firman Tuhan yang tidak menantang hati nurani siapa pun, Injil macam apakah itu? Pewarta yang menghindari isu-isu sensitif agar ia selalu aman, dia tidak menerangi dunia.”

    Oscar Romero dan Ahok sekalipun berbeda dalam memilih jalan, namun sama dalam penghayatan iman. Oscar Romero dan Ahok sama-sama beriman pada Yesus yang tersalib. Salib Yesus dipakai sebagai inspirasi perjuangan pada kemanusiaan yang jauh dari politik identitas. Kemanusiaan adalah identitas manusia universal tanpa pandang bulu agama, suku dan rasnya. Salib harus dikembalikan kepada kemanusiaan. Salib, semestinya tidak boleh dikuasai rezim Gereja sebagai alat penggelembung perut dan untuk mendapatkan fasilitas serta kenyamanan .

    Saya bersyukur dapat merenungkan keteladanan Uskup Oscar Romero yang menerima peluru dan Ahok yang dipenjarakan. Mereka memperlihatkan salib sebagai perjuangan pada kemanusiaan. Karena, salib yang mereka pikul adalah tanda keberpihakan kepada mereka yang tertindas, tersingkir dan terpinggirkan.



    Penulis  :  Zétiy@di     Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Uskup Agung Romero dan Ahok Tentang Salib sebagai Simbol Perjuangan Kemanusiaan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top