728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 November 2017

    #Warta : Ternyata Pengacara Setnov Pernah Gagal Seleksi Pimpinan KPK, Sakit Hati?

    Jika kita melihat latar belakang seseorang, tentu kita bisa kira-kira tahu mengapa ia menjadi sampai seperti ini. Menurut seorang teolog, sejarawan, dan budayawan yang tidak perlu saya sebutkan namanya – karena memang ia juga tidak ingin disebutkan, sejatinya ada tiga macam orang di dunia yang memandang mengenai sejarah.

    Pertama adalah orang yang dibawa arus sejarah, kedua adalah orang yang mempelajari sejarah, dan ketiga adalah orang yang menantang dan membentuk sejarah.

    Orang yang terbawa arus sejarah adalah orang level satu yang tidak berkontribusi bagi dunia. Orang yang mempelajari sejarah adalah orang level dua, yang lebih tinggi dari level satu. Mereka adalah orang yang mengerti dan bisa membaca zaman. Mereka bisa memprediksi kejadian ke depan, dan menjalani hari-hari dengan baik. Namun ada orang ketiga, mereka ditakdirkan untuk membentuk dan menantang sejarah. Orang level ketiga ini langka.

    Semakin tinggi level pengenalan orang akan sejarah, semakin sedikit jumlahnya. Orang yang terbawa arus sejarah adalah orang-orang yang tidak bisa lepas dari rasa sakit hati. Sejarah membentuk orang ini, membuat orang ini terkubur dalam balutan luka masa lalu, dia bukanlah Bi Narti, namun Yunadi.
    Ya, dialah Friedrich Yunadi, pengacara Setya Novanto yang saat ini dikenal sebagai “keset kaki” Setya Novanto. Apa yang Setya Novanto lakukan selalu dianggap benar, meskipun memang tidak total salah. Ada penulis pun yang mempertanyakan alasan penetapan tersangka lagi oleh KPK bernama Ricky Vinando.

    Ia mengatakan langkah KPK menetapkan Setya Novanto itu kurang tepat dan tidak beralasan. Pendapat boleh berbeda dan kita harus menghargai itu karena memang secara permasalahan, bisa diperdebatkan. Namun lucunya, respon dari pengacara bernama Friedrich Yunadi terhadap penetapan tersangka sangatlah berlebihan, jelas terlihat mental suruhan.

    Bayangkan saja ia pernah mengatakan bahwa pemeriksaan kliennya, si Papa harus dalam persetujuan Presiden RI Joko Widodo. Terlepas dari strategi apapun yang dimiliki, terlihat bahwa orang ini sangat membela kliennya, bahkan jika perlu, ia bisa menggunakan cara apapun. Bahkan sempat beredar kabar bahwa Setya Novanto akan minta perlindungan TNI dan Polri.

    Panglima TNI pun langsung memberikan respons bahwa urusan perlindungan Setnov bukan urusannya. Kita tahu bahwa TNI dan Polri memiliki tugas yang jelas, dan urutan komunikasi yang jelas, yakni dari Presiden. Maka jika Gatot bisa berkata demikian, artinya tidak ada arahan langsung dari presiden untuk lindungi Setnov.

    Mengapa Friedrich Yunadi bisa berkata-kata banyak, namun semuanya terkesan kosong, tidak tepat sasaran dan blunder? Rasanya satu jawaban sederhana dari saya, yakni “orang ini sakit hati dan gagal move on”. Ya, seperti Prabowo yang begitu delusional dan menganggap semua kerjaan Jokowi hanyalah pencitraan dan penumpukan utang negara, Friedrich Yunadi pun demikian. Ia ternyata pernah gagal seleksi pimpinan KPK periode 2011-2015. Friedrich mengikuti psikotest usai lolos seleksi makalah. Namun ia gagal lolos ke tahap fit and proper test di DPR. Artinya, ia tidak pantas jadi komisioner KPK.

    Pada akhirnya, Friedrich tetap melanjutkan profesinya sebagai pengacara yang sudah dimulai sejak 1994 di kantor Yunadi & Associates. Inilah yang saya katakan keberpihakan kepada barisan sakit hati. Tidak berlebihan dong jika kita berkesimpulan bahwa ternyata kerasnya ke KPK, sedikit banyak menjadikan dirinya seperti ini. SUMBER

    Terlihat sekali bahwa orang ini terbawa arus pemikiran sejarah hidupnya. Namun kebanyakan orang yang terbawa arus sejarah, hanya akan hidup begitu-begitu saja. Mereka akan terkenal pada saatnya, namun suatu saat akan dilupakan begitu saja. Orang-orang semacam ini tidak berkontribusi bagi bangsa dan negara. Mereka ibarat embun di pagi hari yang hilang ketika terik fajar menyinari mereka. Mereka tidak long last. Maka orang seperti Prabowo dan Yunadi ini tidak akan dikenang dalam sejarah, boro-boro mau jadi pahlawan. Mimpi saja sudah sulit.

    Bayangkan mereka yang akan masuk tong sampah sejarah akan dicampakkan oleh sejarah, dengan tangannya yang tidak pernah bisa kompromi. Sejarah adalah guru yang paling realistis, sekaligus paling kejam. Waktu dan sejarah adalah dua hal yang berbeda, namun berjalan bergandengan. Kronos dan kairos menjadi sebuah fakta yang tidak bisa dihindarkan. Maka tidak heran jika pada akhirnya, orang-orang semacam ini – seperti yang dikatakan penulis Ninoy Karundeng – akan terbuang ke tong sampah politik. Izinkan saya tambahkan, mereka akan terbuang ke tong sampah sejarah.
    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis  : hysebastian   Sumber   :    Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ternyata Pengacara Setnov Pernah Gagal Seleksi Pimpinan KPK, Sakit Hati? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top