728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 11 November 2017

    #Warta : Tanda Peringatan Jokowi: Serangan Setya Novanto Bikin KPK di Ujung Tanduk

    Jokowi mengeluarkan pernyataan terkait pengaduan Tim Hukum Setya Novanto. Tidak ingin terjadi seperti kasus Cicak versus Buaya I dan II, Jokowi mengeluarkan pernyataan. Ini pertanda seriusnya kasus ini bisa menjadi Cicak lawan Buaya III, menuju runtuhnya KPK.

    Kembali kegaduhan memuncak terkait perang antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melawan Setya Novanto atau Polri. Keberanian KPK menetapkannya kembali sebagai tersangka sontak dijawab oleh tim pengacaranya. Dua pimpinan KPK Agus Rahardjo dan Saut Sitomorang dibidik untuk kriminalisasi. Tak pelak, hanya dalam hitungan hari Bereskrim Polri secara cepat merespons laporan pengacara. Luar biasa.

    Unjuk Kekuatan Setya Novanto

    Dengan cerdasnya Setya Novanto – manusia terkuat di Indonesia versi Trump – the untouchable, the mighty ini berupaya menggoreng perseteruan kepentingan Polri versus KPK. Signal untuk memaparkan kepentingan kedua institusi dan taruhannya pun adalah kedua institusi itu sendiri.

    Dalam kasus pengaduan dan reaksi Polri ini tampak sekali bermainnya kekuatan Setya Novanto. Di sisi lain KPK juga memiliki dukungan. Yang peduli dengan KPK dan Polri bereaksi cepat. Imigrasi menyebutkan prosedur pencekalan terhadap Setya Novanto sah dan standard alias tidak ada yang dilanggar.

    Tim pengacara Setya Novanto tampaknya ingat kasus penyingkiran Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Kekuatan masif membuat keduanya mundur dari jabatan sebagai pimpinan KPK. Bahkan terkait Abraham Samad, pelanggaran hukum yang dijadikan bahan laporan adalah kasus pinjam alamat untuk pembuatan paspor – ketika Abraham Samad masih menjadi pengacara berbulan di belakang.

    Untuk itu, maka menjadi sangat kentara perlawanan frontal dilakukan oleh Setya Novanto – yang perannya nyata namun menjadi abu-abu. Keberanian Tim Hukum-nya yang mengadukan tuduhan pelanggaran hukum Pimpinan KPK adalah wujud perlawanan dan unjuk kekuatan dan pengaruh yang luar biasa.

    Praperadilan Alat Konspirasi Pembebasan

    Perlawanan hukum ini pun akan berlangsung kembali. Praperadilan akan diambil sebagai opsi untuk membebaskan secara permanen Setya Novanto. Ini akan terjadi karena kekuatan dan pengaruhnya di berbagai lembaga dan institusi tak tertandingi oleh siapa pun di Indonesia – selain Riza Chalid dan kroninya tentu.

    Pengajuan praperadilan ini pun akan menjadi jebakan mematikan bagi KPK yang sering sembrono – akibat intrik dan faksi di KPK- dalam melihat loopholes atau celah hukum yang bisa membebaskan tersangka.

    Publik masih ingat betul kasus pembebasan tersangka ala KPK. Kasus paling spektakuler dan sampai kini KPK tidak berani menetapkan Hadi Poernomo dalam kasus pajak yang merugikan negara ratusan miliar. Hadi pun bebas melenggang kangkung mengangkangi dan menertawai KPK.

    Karena nilai pentingnya kasus Setya Novanto ini, untuk menghindari praperadilan, maka KPK harus segera mengeluarkan surat panggilan pemeriksaan terhadap Setya Novanto sebagai tersangka. Hal ini perlu dilakukan mumpung Setya Novanto sedang sehat – tidak ada alasan untuk ngumpet lagi di Rumah Sakit dengan selang penderita sesak napas lagi.

    Mengulur waktu berbulan-bulan hanya akan memberikan amunisi – atau KPK memang sengaja – untuk memberikan ruang sandiwara kasus E-KTP agar Setya Novanto bebas. Pun pintu yang dipakai adalah institusi lain, pengadilan.

    Di mata publik KPK tampak menjadi pemberani. Lalu pengadilan dan hakim menjadi kambing hitam sekaligus alat exit paling sempurna. Kenapa? Hakim adalah penguasa tunggal yang memiliki wewenang penuh. Pun keputusannya mutlak. Itulah skenario terburuk skandal pembebasan Setya Novanto.

    KPK Harus Menang atau Jadi Pecundang

    Seolah tidak mau kehilangan taji, KPK pun bereaksi segera cepat tanpa takut-takut – tetapi tampak ragu – menetapkan kembali Setya Novanto sebagai tersangka kasus korupsi E-KTP. Penetapan kembali dia sebagai tersangka adalah wujud keyakinan institusi anti rasuah itu terhadap keterlibatan Ketua DPR yang jelas dan tak terbantahkan.

    KPK harus menang melawan Setya Novanto. Kenapa? Karena dia adalah kunci ditangkapnya dan dikurungnya para politikus Senayan dan para pejabat publik sekarang ini. Bebasnya dia akan menjadi preseden buruk bagi pemberantasan korupsi. Jika bisa menjeratnya, maka KPK akan mampu mencokok lebih banyak lagi koruptor terkait korupsi E-KTP dan korupsi lainnya.

    Jika pentolan DPR itu bisa dibui, maka dipastikan berbagai kasus lain akan relatif mudah untuk dibongkar karena timbul – disarray dalam dunia kejahatan dan mafia. Chaos dalam dunia para koruptor dan soliditas antar geng mafia pun terkoyak. Upaya saling menopang dengan jaringan dan duit tak terbatas jumlahnya pun tidak akan efektif lagi.

    Di Balik Reaksi Jokowi

    Presiden Jokowi sebagai garda pengamat perseteruan KPK-Polri oleh Setya Novanto, dengan informasi komprehensif intelejen tentu pun, angkat bicara. Polri harus menghentikan proses penyidikan terhadap dua Pimpinan KPK jika tidak ada bukti. Pernyataan Jokowi ini sebagai wujud nyata tentang betapa jika kasus ini melebar, maka KPK akan dirugikan dan bisa hancur.

    Namun, sesungguhnya pembusukan ini bukan hanya karena unsur luar institusi KPK, namun di dalam KPK sendiri terdapat saling berpeluk kepentingan dalam berbagai faksi – di tingkat direktur ke bawah. Keroposnya KPK ini harus segera diperbaiki agar kebocoran sprindik tidak terjadi.

    Pun Tim pengacara Setya Novanto juga tak akan mendapatkan internal procedures KPK seperti halnya surat-menyurat jika tidak memiliki kontra intelejen sendiri yang bisa masuk ke mana-mana. Ingat, berkat Masinton dkk. Setya Novanto memeroleh dokumen tentang audit KPK yang amburadul yang menjadi pintu si Cepi membebaskan Setya Novanto.

    Maka menjadi wajar di depan, Jokowi memerintahkan Polri untuk bertindak tepat dan cepat untuk melokalisir dan meredam upaya perlawanan buying time Setya Novanto, yang dipastikan akan berdampak pada keberadaan KPK – yang dipreteli pimpinannya hingga menjadi lumpuh dan bahkan bubar. Demikian the Operators. Salam bahagia ala saya.




    Penulis  : Ninoy N. Karundeng     Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Tanda Peringatan Jokowi: Serangan Setya Novanto Bikin KPK di Ujung Tanduk Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top