728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 17 November 2017

    #Warta : Setya Novanto "DILINDUNGI" Oleh HUKUM

    Belakangan ini publik diramaikan oleh sebuah drama menggelikan sekaligus miris tentang saktinya seorang terduga koruptor yang lari dari panggilan hukum. Lalu kemarin (Kamis, 16 November 2017), kita mendapatkan antitesis baru bahwa Tiang Listrik ternyata jauh lebih sakti dari yang kita bayangkan. Betapa ia berhasil merubuhkan seorang Setya Novanto nan sakti mandraguna, yang konon dikatakan “Seandainya Setya Novanto bangun kesiangan, maka sang mentari akan cepat-cepat nyungsep kembali ke ufuk timur”.

    Tujuh puluh dua tahun bangsa ini telah merdeka, namun tetap saja Korupsi merajalela di bumi pertiwi. Semua akibat tidak adanya rasa takut di hati para pejabat negeri dalam hal pelanggaran hukum. Bagaimana tidak, kita hidup di negeri berasas hukum “Praduga Tak Bersalah”. Asas Praduga Tak Bersalah menghendaki agar setiap orang yang terlibat dalam perkara pidana harus dianggap belum bersalah sebelum adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Implementasinya dapat ditunjukkan ketika tersangka dihadirkan di persidangan pengadilan dilakukan dengan tidak diborgol. Termasuk dalam hal ini adalah proses penangkapan.

    Bahkan Tujuh puluh dua tahun kita merdeka, tetap saja terjadi paradoks nan konyol terhadap penegakan asas “Praduga tak bersalah”. Asas “Praduga tak bersalah” hanya berlaku bagi koruptor, seolah-olah selama ini HAM telah menjadi pelindung bagi iblis-iblis bermata bejat. Sedangkan di sisi lain para terduga teroris ditangkap dengan tidak manusiawi, dianggap salah sejak awal penjemputan, padahal tak jarang salah tangkap. Lebih tragisnya lagi ketika Korban salah tangkap terlanjur terbunuh oleh aparat.

    Pertanyaannya, mengapa terjadi inkonsistensi dalam penegakan asas “Praduga tak bersalah”? Mengapa hanya berlaku bagi terduga Koruptor? Mengapa sama sekali tidak berlaku bagi terduga Teroris?

    Bagi saya, Seorang Koruptor tidak ada bedanya dengan Teroris, TIDAK. Justru Dosa Koruptor melebihi Dosa para Teroris. Tujuh puluh dua tahun Indonesia merdeka, pembangunan negeri ini belum juga merata. Tujuh puluh dua tahun kita merdeka, triliyunan rupiah uang negara melayang akibat keserakahan tangan-tangan hina.

    Tujuh puluh dua tahun kita merdeka, jutaan anak-anak cerdas potensial terabaikan di pelosok sana. Akibat tak sampainya rangkulan tangan pemerintah menjangkau tangan-tangan mungil mereka. Semua terjadi akibat ulah para koruptor, yang dengan tega memutus tali-asih pemerintah dari jangkauan putra-putri negeri di ujung-ujung Indonesia. Pembangunan tersendat, Pendidikan, Kesehatan, dan Kesejahteraan terabaikan selama Tujuh puluh dua tahun lamanya. Semua itu lantaran di antaranya akibat keserakahan perut-perut buntalan tahi di senayan sana.

        “Indonesia tak pernah kekurangan orang-orang cerdas, namun Indonesia kekurangan orang-orang berintegritas.”

    Tujuh puluh dua tahun lamanya, ratusan Koruptor dilindungi oleh HAM, Tujuh puluh dua tahun pula HAM telah membunuh jutaan harapan anak-anak cerdas potensial nan berintegritas di pelosok negeri sana.

    Kita selama ini terjebak dalam spekulasi konyol bahwa “Masih lebih baik membiarkan bebas seorang penjahat, daripada terlanjur menghukum orang yang benar”. Bagi saya sungguh pemikiran yang naif.

    Asas Praduga Bersalah bagi saya bukanlah suatu perspektif yang buruk untuk diterapkan di tengah krisis kejujuran di negeri ini. Justru bagi saya, ketika seseorang terlanjur dicap sebagai Penjahat, namun kemudian pengadilan membuktikan bahwa ia tidak bersalah, maka orang tersebut justru akan semakin harum namanya. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika kita adalah orang yang benar.

    Tuhan saja menerapkan asas “Praduga bersalah” ketika menghakimi kita di akhirat kelak, mengapa kita tak meneladani kebijaksanaan-Nya? Jika seseorang benar, maka tidak perlu ada ketakutan menghadapi hukum-Nya. Dengan sendiri ia akan bisa menjawab setiap interogasi-Nya dengan baik, maka satu-persatu belenggu akan terlepas darinya, dan Surga nan indah-pun siap menantinya.

    Terakhir, hingga detik ini saya masih membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu di pelosok-daerah tertinggal sana. Saya tak kuasa membayangkan perasaannya ketika si ibu dipertontonkan segala adegan drama nan menggelikan ini, dan ia pun tengah menangis getir melihat anak-anaknya yang busung lapar, sedangkan ia tak mampu membawa suaminya pergi berobat karena ketiadaan biaya. Sementara Rumah Sakit memasang spanduk tak kasat mata bertuliskan “Orang Miskin Dilarang Sakit”.


    Penulis :   Dio Ahmadi Fadillah   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Setya Novanto "DILINDUNGI" Oleh HUKUM Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top