728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 22 November 2017

    #Warta : Setya Novanto dan Rebutan Golkar, Jokowi Buang Mitos Kekuatan Jusuf Kalla

    Setya Novanto telah digunduli kekuatannya oleh KPK. Perebutan Golkar justru membuat kegalauan di kubu pendukung Jokowi terkait kemungkinan Jusuf Kalla menang dan membawa Golkar ke kubu Islam radikal. Ini tidak beralasan. Presiden Jokowi pun tidak memiliki kekhawatiran tentang arah Golkar pasca Setya Novanto. Dia memiliki perhitungannya sendiri.

    Banyak orang membuat spekulasi tentang perebutan Golkar pasca Setya Novanto dicokok oleh KPK. Perebutan kekuasaan telah berlangsung. Muncul aneka nama dari Bude Titiek Soeharto sampai Airlangga Hartarto. Juga nama Nurdin Halid. Bahkan Idrus Marham dan Ade Komaruddin pun muncul ke permukaan. Perubahan di tubuh Golkar dinilai akan melemahkan Presiden Jokowi di parlemen dan dukungannya untuk Pilpres 2019.

    Munculnya nama-nama itu, bahkan setelah Bude Titiek menemui Presiden Jokowi membuat spekulasi sengit. Terjadi penyeimbangan kekuatan. Merapatnya dia ke Istana diyakini sebagai laporan awal tentang masa depan Golkar dan komitmennya ke Presiden Jokowi. Jokowi pun sebagaimana biasa menerimanya dengan cara normatif standard. Pun kedatangannya menunjukkan dinamisasi di tubuh Golkar.

    Sejak Setnov ditangkap maka publik banyak mengungkapkan ketakutan tentang kekuatan Jusuf Kalla. Jusuf Kalla dianggap pihak yang bermain dalam kasus Ketua DPR itu. Dia dianggap sebagai orang yang berkepentingan untuk merebut Golkar dan menggunakannya untuk gerakan politik identitas Islam radikal.

    Hal ini wajar muncul ke permukaan karena sepak terjangnya mendukung Anies Baswedan di Pilkada DKI 2017. Dia menjadi barisan pendukung kampanye paling mengerikan dalam sejarah Indonesia bersama FPI, FUI, GNPF, dan HTI.

    Bahkan di tengah panasnya suasana kampanye, dia mengundang penceramah provokator buronan teroris Zakir Naek. Tindakan provokatifnya itu lebih membuat manusia bigot seperti Eep Saefulloh menggunakan masjid untuk kampanye ayat dan mayat. JK yang sebagai Ketua Dewan Dakwah Indonesia (DMI) pun membiarkannya.

    Dari dalam Istana tidak tampak sama sekali ketakutan atau kekhawatiran perubahan posisi Golkar. Pun juga Jokowi paham betul bahwa Golkar adalah institusi kolegial dan bukan individual. Ketika partai tidak sejalan dengan kepentingan orang-orang Golkar yakni memeluk kekuasaan maka pimpinan Golkar akan diganti. Golkar selalu memeluk ke kekuasaan. Kasus kisruh kesalahan Ical mendukung calon kalah di Pilpres 2014 Prabowo membuat Ical terbuang dari Golkar – seberapa pun kekuatan Ical.

    Kini, ketika muncul kekhawatiran para pendukung Jokowi terhadap hilangnya dukungan Golkar, akibat ketakutan Golkar jatuh ke tangan Jusuf Kalla atau anteknya, melalui perebutan kekuatan brutal di internal Golkar, justru yang terjadi adalah munculnya reaksi alamiah politis yakni melawan kekhawatiran itu.

    Maka muncullah nama-nama lain yang lebih banyak seperti Bambang Soesatyo, sampai Agung Laksono dan bahkan Idrus Marham. Ini menunjukkan bahwa Jusuf Kalla bukanlah satu-satunya kekuatan yang dengan gampangnya akan merebut Golkar.

    Terkait pengalaman Pilkada DKI 2017 pun semua fungsionaris Golkar tidak akan dengan mudah menyerahkannya kepada Jusuf Kalla. Meskipun kekayaannya bejibun sampai 7 turunan, namun ambisi berdekatan dan memeluk Islam radikal dalam Pilkada DKI membuat Golkar berpikir 100 kali untuk menyerahkan leher mereka kepada Jusuf Kalla.

    Di dalam Golkar pun juga terjadi penyeimbangan pembersihan nama yang tercantum di dalam daftar yang berpotensi terlibat dalam E-KTP, seperti Agun Gunanjar dan Ade Komaruddin, akan tersingkir dari perebutan kekuasaan. Golkar pun memiliki instink politik untuk penyelamatan diri. Tidak mau terpuruk dalam Pileg dan Pilpres 2019.

    Jokowi pun dalam kasus Setya Novanto ditangkap KPK tetap menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang konstitusional. Baginya siapa pun yang berkuasa di Golkar tidak membuat dirinya khawatir. Ini terkait dengan karakter Golkar yang selalu ingin memeluk kekuasaan. Dan kekuasaan ini dipegang Jokowi.

    Selain itu, Jokowi juga tidak takut Golkar menyeberang ke Prabowo dalam sisa dua tahun masa pemerintahan ini. Pun jika itu terjadi justru kekuatan Golkar melemah karena banyak kekuatan Golkar ada di pemerintahan Jokowi seperti Airlangga Hartarto, Nusron Wahid, Agung Laksono, dan tentu Luhut Binsar Pandjaitan.

    Justru kekuatan minimal partai pendukung yang efisien bisa membuat kekuatan Jokowi menjadi solid seperti Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2012. Dukungan partai jumbo namun rapuh juga bisa gagal total seperti kasus Ahok di DKI Jakarta dan Prabowo di 2014 yang keok oleh minoritas.

    Maka kekhawatiran Jusuf Kalla merebut Golkar dan membawanya ke kandang kuda Prabowo sangat tidak beralasan. Lebih tidak beralasan lagi jika Jusuf Kalla dianggap akan membawa Golkar sebagai kendaraan Anies dan Islam radikal menjadi calon presiden.

    Jujur saja, framing tentang kekuatan Jusuf Kalla hanyalah tindakan bodoh dan paranoid. Sesungguhnya, Jusuf Kalla tidak sekuat yang dibayangkan. Ada AH2 yang memiliki kekuatan sampai saat ini yang tidak dipahami politikus permukaan dan pengamat abal-abal kelas medsos.

    Pun Presiden Jokowi tidak memiliki kekhawatiran politis terkait Golkar, Jusuf Kalla, dan kasus Setya Novanto karena itu bagian dari dinamika politik Indonesia. Dia juga sangat paham akan aksi dan reaksi serta maneuver dalam politik. Demikian ^the Operators*. Salam bahagia ala saya.




    Penulis  :    Ninoy N. Karundeng    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Setya Novanto dan Rebutan Golkar, Jokowi Buang Mitos Kekuatan Jusuf Kalla Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top