728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 November 2017

    #Warta : Seruan Penyelamatan Golkar oleh Dedi Mulyadi dan Partai Konglomerat yang Tersemat

    "DPP Golkar harus segera mengambil langkah strategis. Simpan seluruh agenda jangka pendek untuk menata kembali Partai Golkar secara jangka panjang," kata Dedi melalui keterangan tertulis, Jumat (17/11/2017) .

    "Saya kira jangan dulu lah kita bicara siapa Ketua Umum barunya atau siapa PLT-nya. Hal yang paling penting adalah selamatkan Golkarnya dulu," ujar Bupati Purwakarta sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu, seperti yang dilansir kompas.com.

    Jika saya merupakan bagian dari Golkar, maka saya akan menyambut baik seruan Dedi Mulyadi tersebut. Karena jika belajar dari pengalaman yang sudah ada, Ketua Umum sangat mempengaruhi partai politik dalam perolehan suara pada pemilihan umum. Dengan tersangkutnya Ketum Golkar Setya Novanto dalam kasus korupsi E-KTP seperti yang didakwakan oleh KPK, hal tersebut berpotensi menenggelamkan partai Golkar, atau paling tidak berpotensi menurunkan suara golkar pada pemilihan selanjutnya.

    Sebagai contoh, PKS yang dari berdiri memiliki agenda dengan strategi “perang badar” untuk merebut posisi 3 besar, hingga harapan membuat “hijrah” pemerintahan berada ditangannya kandas lantaran ketuanya tersangkut masalah korupsi sapi ditambah lagi dugaan kasus asusila yang dilakukan bersama wanita bukan muhrimnya. Dan akhirnya, partai yang menggunakan kekuatan sentimen agama dalam meraih dukungan ini terjerembab.

    Selain PKS, contoh partai yang terjungkal lantaran ketua umum tersangkut korupsi adalah partai Demokrat. Meskipun Demokrat tergolong partai baru yang terbentuk saat SBY maju dalam pilpres, tetapi berkat strategi SBY, partai ini menjadi partai yang besar meskipun baru. Tetapi setelah Anas Ubaningrum sang Ketum bersama beberapa petinggi Demokrat tersangkut kasus korupsi, Demokrat pun terjungkal hingga berdarah-darah sampai suaranya menurun drastis.

    Golkar sebaiknya memperhitungkan apa yang sudah terjadi pada PKS dan Demokrat. Jika mereka tidak mempertimbangkan hal tersebut, kemungkinan para petinggi golkar menganggap rakyat masih banyak yang goblok.

    Secara kasat mata, saya memandang Dedi Mulyadi merupakan sosok yang keren di Golkar. Meskipun dia sangat dibenci oleh para oknum radikal yang tidak begitu suka dengan adanya kebhinekaan, tetapi secara rasional beliau keren dan bisa menjadi pertimbangan untuk dapat membesarkan Golkar. Itu penilaian sementara terkait apa yang beliau lakukan belakangan ini dalam kiprah politik dan pelayanannya terhadap masyarakat saat menjadi Bupati Purwakarta.

    Tetapi, secara intern, Dedi Mulyadi menurut saya tidak bisa menjadi pimpinan Golkar secara nasional, hal itu melihat dari perjalanan Golkar, orang terkaya di partai tersebutlah yang terpilih menjadi ketua umum. Itu menyebabkan Golkar seperti terlihat menjadi partainya orang konglomerat, karena ketua umumnya kaya dari antara yang kaya. Sebagai contoh, sebelum Setya Novanto yang kaya, ketua umum sebelumnya juga kaya diantara yang kaya, yaitu Aburizal Bakri. Entah itu suatu yang kebetulan atau tidak, saya juga kurang faham, tetapi paling tidak, itulah yang terlihat secara kasat mata.

    Jika Golkar tetap tidak mengikuti perkembangan pola pikir pemilih, maka jangan kaget jika suatu saat Golkar pun semakin terpuruk, meskipun mereka mengandalkan mesin partai untuk menggapai suara dengan berbagai cara. Tetapi yang perlu disadari, pola pikir manusia akan mengikuti perkembangan zaman, jika Golkar tidak mengikuti pola tersebut, ya sudah, tunggu waktu saja.

    Terlepas dari itu semua, konflik di Golkar menurut saya memang terjadi lantaran ada agenda politik yang berlawanan dalam tubuh partai berlambangkan pohon beringin tersebut. Meskipun saya rakyat jelata, saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Dedi Mulyadi, bahwa Golkar semestinya mementingkan soliditas terlebih dahulu dibandingkan agenda politik jangka pendek.

    Seperti yang terbaca kasat mata, upaya mengoyang golkar untuk kembali tidak mendukung Jokowi dalam pilpres mendatang sangat terasa. Ini bukan berarti Jokowi melindungi Setya Novanto, karena dengan tegas, Jokowi sudah meminta Setya Novanto mengikuti proses yang seharusnya dijalani.

    Peta politik dalam pilpres sangat dinamis, kemungkinan besar Golkar diharapkan elit besar partai untuk kembali melawan Jokowi dalam pilpres mendatang. Karena melihat dari tokoh-tokoh dalam Golkar sendiri terbagi menjadi dua kubu, hal ini dibuktikan dengan pernah terpecahnya golkar menjadi dua bagian.

    Menurut saya, Jokowi dalam pilpres nanti tidak perlu memusingkan dan berharap banyak terhadap Golkar untuk mendukungnya. Biar saja semua berjalan apa adanya, toh masyarakat sudah merasakan apa yang telah diperbuat oleh pemerintahan saat ini, hal itu terbukti dari survei kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi. Bukan hanya itu, pasar pun ikut merasakan setiap kebijakan yang dibuat Jokowi, sehingga membuat indonesia naik peringkat menjadi layak investasi. Meskipun begitu, yang perlu diwaspadai oleh Jokowi hanyalah satu, strategi politik identitas, karena celah terbesar ada di situ, sama dengan apa yang menjadi penyebab kekalahan Ahok di pilkada DKI.



    Penulis  :  Cak Anton   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Seruan Penyelamatan Golkar oleh Dedi Mulyadi dan Partai Konglomerat yang Tersemat Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top