728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 November 2017

    #Warta : Pengalaman Sang Raja 58

    Alkisah di negeri impian beribu-ribu tahun dari sekarang terdapat sepasang sahabat yang hidupnya penuh dengan basa basi. Keahlian yang satu menyempurnakan yang lain. Satu suka berjanji yang satu suka tarik janji. Yang satu pandai berandai-andai yang satu lebih suka melamun pakai bahasa lucu. Lebih parahnya mereka berdua saling memuji kedunguan masing-masing dengan senyum lugu yang terkembang.

    Mereka punya keinginan untuk mencari kekuasaan dengan jalan yang sangat singkat, jalan terjal yang seharusnya sulit didaki bisa diproyeksi dengan manisnya janji. Terarah pada satu keseruan yang manipulatif dan menggiring opini sebagai wakil dari langit yang harus dipilih. Suka ganti warna kulit untuk samar sana sini hanya untuk berbagi janji tanpa takut dihakimi.

    Mereka merasa mirip Arjuna dan Yudisthira, sang pahlawan yang punya kemurnian nurani tanpa noda. Tidak seperti seorang penista agama yang pernah ada, divonis bersalah langsung ditahan tanpa aba-aba. Yang pada akhirnya menjadi cerita antar anak bangsa bahwa pernah ada satu orang yang bekerja untuk warganya, namun jatuh karena isapan jempol tujuh juta orang yang beradu bebal karena keterbatasan volume otaknya.

    Pemilihan selanjutnya membawa dua sahabat kusut ini tidak lagi cemberut. Mereka cenderung membagi senyum untuk mengatasi masalah riil yang terjadi di antara warganya. Kemampuan berpikir secara teknis memang tidak diperlukan untuk memimpin suatu kota. Yang diperlukan adalah keberpihakan, merangkul dengan peluk hangat supaya kuat menghadapi ribuan masalah.

    Tidak perlu ada tulisan tangan pemahaman nenek lu !!! yang muncul dalam lembaran penting rincian APBD karena semuanya sudah dikunci kepentingannya terlebih dahulu. Keberpihakan antar kelompok hanya mitos saja itu tidak pernah terjadi, angka-angka dulu yang penuh muslihat kini muncul seakan tiada luka.

    Membela kepentingan warga itu bisa diwujudkan dengan menaikkan penghasilan bagi RT dan RW. Tanpa mengecilkan jabatan tersebut, namun kenaikkan anggaran untuk hal tersebut tidak berpengaruh secara signifikan untuk seluruh masyarakat. Ketiadaan target yang harus dicapai namun anggaran penghasilan dibuat naik, cenderung membuat jabatan tersebut bergeser ke arah nepotisme.

    Sistem yang sudah dibangun untuk mengejar ketinggalan dengan kota besar di penjuru dunia diacuhkan begitu saja. Diganti dengan sistem kekeluargaan yang pernah sukses membawa kota itu dalam kegelapan keadilan sosial. Tidak menutup kemungkinan pembayaran gaji untuk ujung tombak pembersih kota kembali ada sistem potong meja sana sini. Atau kematian akan meninggalkan masalah besar untuk keluarga tidak mampu karena tanah untuk dikubur saja tidak terjamin, sudah ada orang yang lebih mampu membayar tanah 2 x 1 itu.

    Anggaran penyertaan modal supaya calon pemimpin masa depan bisa merasakan makanan yang bergizi-pun dicoret. Padahal seorang dari pasangan dungu itu harusnya sangat paham dunia pendidikan. Bahkan dirinya punya organisasi dimana setiap orang punya visi supaya anak-anak yang tidak punya kesempatan belajar bisa mendapat pelajaran dari orang-orang yang hidup karena hati. Entah ketidaksanggupan menahan nafsu jabatan yang membuat dia kembali kepada hal-hal yang egosentris termasuk memendam keinginan menjadi Raja.

    Seberapa besarlah jumlah lima ratus ton yang harus disubsidi supaya anak-anak bangsa tidak merasa rendah diri ketika ditanya teman-temannya bagaimana rasa daging. Ini salah satu bentuk wujud tiada keadilan sosial. Untuk mengatasi masalah tersebut dibuatlah sistem KJP untuk pelajar yang tidak mampu. Dimana negara hadir dan berperan aktif untuk langsung menutup celah yang ada.

    Tidak perlu pengamatan yang butuh keseriusan untuk memahami konsep Sila Ke Lima dari Pancasila. Wujud keadilan sosial harus dipandang keberpihakan kepada semua orang yang menjadi warganya. Bagaimana bisa slogan itu terucap, maju kotanya bahagia warganya. Warga bagian sebelah mana yang bahagia dengan penghapusan subsidi pelajar bisa makan daging.

    Entahlah mungkin warga yang memilih karena emosi yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Warga kota 58 mungkin tidak pernah menyesal karena mereka bisa menunjukkan kolam air mancur yg ada di Gedung Wakil Rakyat itu lebih berfaedah untuk rakyat. Dimana mereka bisa duduk di dekat air mancur itu sambil merenungi kok bisa yah kita pilih pengumbar janji.

    Tidak diperpanjangnya izin Alexis menjadi suatu prestasi yang bisa menyamarkan program rumah lapis biknarti tanpa DP. Karena janji adalah rangkaian kata indah yang terucap saja lebih dulu tanpa ada niatan untuk mewujudkannya. Berlari ke kantor itu lebih penting daripada menyelesaikan permasalahan warga yang tidak ada ujungnya. Kembalikan ke kecamatan masing-masing saja masalah yang ada, kan seperti itu prosedurnya. Jadi tuntas sudah janji kampanye tiada isi itu. Saling berpelukan menjadi simbol mengatasi permasalahan.

    Karena urusan menjadi Raja 58 sangat mudah, jangan cepat lupa kepada yang membantu. Jangan seperti kacang lupa kepada kulitnya. Semua ada solusinya tapi untuk sementara masih tahap pengumpulan saja kata sahabat itu di depan warganya ketika musim banjir tiba. Karena semua mantra sudah tersedia untuk menata kesabaran hati, bukan tata kotanya. Naikkan dulu anggaran untuk teman sekerja supaya impas sudah hitungan balas budi. Semua bisa dijelaskan kepada warga, supaya tidak ada overspekulasi marjinal sahut sahabat yang berkacamata setelahnya. Sungguh aneh tapi nyata.

    Sudahlah ini hanya cerita fiktif belaka, kalau ada kemiripan suasana dan kalimat yang terucap itu hanya kebetulan belaka. Satu hal yang memang kalau bisa diwujudkan, mohon bantuan dari Pemerintah Pusat untuk menutup subsidi yang dibutuhkan calon pemimpin bangsa ini. Tangisan duka pemilih yang waras tidak akan bisa melawan ketamakan hati pemimpin yang beringas. Hanya kepada pemimpin yang berintegritas kami titipkan pesan ini, supaya keadilan sosial bukan hanya ucapan belaka.

    Salam kepadamu Raja 58



    Penulis   :     Hisar Ivan Hutabarat      Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Pengalaman Sang Raja 58 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top