728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 02 November 2017

    #Warta : Paranoid! Larangan Sebut Anies dan Strategi Victimizing Tragedy, Dividing NKRI

    Nama Anies tiba-tiba ditakuti.Sangat mengherankan. Terjadilah paranoia di kalangan Bumi bulat – bukan Bumi datar – yakni para oposan Anies. Betapa tidak, belakangan di berbagai group medsos, seperti Facebook, WA, Telegram, Instagram, tersebar larangan menyebut nama Anies. Tujuan untuk tidak menyebut nama Anies adalah agar dia tidak popular.

    Berbagai alasan dimunculkan untuk tidak menyebut namanya. Nama gabener itu pun dijadikan momok menakutkan. Dengan berbagai alasan yang seolah rasional – di tengah kecaman kepadanya – kaum Bumi datar dengan cerdas menyusupi kaum Bumi bulat dengan larangan menyebut nama gabener itu. Apa sebenarnya motif di balik berbagai alasan larangan tersebut digunakan kaum Bumi datar untuk mencegah kaum Bumi bulat mem-bully, menghantam, dan mengecam Anies?

    Larangan Menyebut Nama Anies

    Larangan itu seolah berdasarkan scientific reasons, computerized-like consideration, algorithm automated reasoning tasks, dan sebagainya yang sama sekali tak ada kaitannya dengan kenyataan perang media. Alasan yang ditampilkan lebih banyak mengada-ada dan jauh dari disiplin teori kampanye dan propaganda yang sedemikian masif dilakukan.

    Publik waras di media sosial sudah semestinya lebih mewaraskan diri dengan melihat dari berbagai sudut pandang dalam menyikapi sesuatu himbauan. Strategi kampanye dan propaganda membutuhkan keahlian khusus dan bukan hanya berdasarkan perasaan lalu menyusun strategi. Bukan seperti itu. Fakta nyata menunjukkan bahwa seluruh rangkaian perang opini disusun berdasarkan kekuatan yang terencana. Tidak ngawur.

    Kasus Strategi Propaganda Pilpres 2014

    Salah satu contoh adalah pengalaman Pilpres 2014. Di sana terjadi perang media – yang mayoritas dikuasai oleh Prabowo dan geng-nya yang mirip sekarang ini. Fadli Zon bukanlah orang tolol dan bahlul, dia sangat cerdas dan mampu mengatur seluruh ritme kampanye dan propaganda – bahkan sampai sekarang. Namun, di balik itu, ada penjerumusan dan penyusupan atas euphoria puisi Boneka yang jebakan yang begitu hebat.

    Sesungguhnya hanya dengan Boneka, dan fokus di sana, tanpa perlu membuat puisi baru Raisopopo, kekuatan pesan tertangkap lebih kuat. Dengan munculnya selain Raisopopo kekuatan tagline Boneka terimbangi dan terjadi pengaburan yang melambat melaun menghempaskan puisi pertama – dan dilupakan.

    Penguasaan media ini masih tetap sama dengan pola yang juga masih sama. Dengan meluncurkan berita tentang Obor Rakyat – secara sengaja media online dan offline mewartakan konten ‘penyebab’, ‘kesalahan’, ‘larangan’, ‘fitnah’, dan ‘hoax’ namun dengan lantang media menyebutkan ‘isi’ berita.

    Artinya, media online dan offline memviralkan ‘kebohongan’ dengan mewartakan dan memberitakan fitnah dan kebohongan dari sumber pertama yang illegal dan salah. Jadi mereka memberitakan berita salah sebagai berita dengan tujuan memasukkan keyakinan tentang kebenaran adanya berita.

    Jelas pesan ini dimakan dan menjadi santapan dan tertanam di benak pembaca atau pemirsa. Tidak penting benar atau tidak bagi mereka, penanaman keyakinan tentang berita itu yang menjadi tujuan.

    Perlawanan Timses Jokowi

    Perlawanan sengit dilakukan oleh netizen pendukung Jokowi dengan menyerang Prabowo. Tentang pecatan militer, tentang apapun negatif diwartakan sebagai wujud perlawanan. Bahkan segala bentuk berbau Prabowo, Titiek, Didit, Fadli Zon, dan bahkan partai agama PKS pun menjadi sasaran serangan. Puisi Rapopo pun diviralkan untuk menghantam puisi Raisopopo – yang sesungguhnya Boneka tidak bisa dilawan dan dipatahkan.

    Penjerumusan lebih lanjut dilakukan dengan membisiki tim kampanye Prabowo yang kebanyakan duit itu untuk membuat Obor Rakyat dan membeli media baik berupa iklan maupun memanfaatkan wartawan media online dan offline untuk memberitakan dan mem-framing seluruh akitivitas politik dan non-politik yang cerdas dan terstruktur. Hasilnya, dengan perlawanan secara masif pula lewat gerakan multi-layers dengan penggerak yang teratur dan cerdas, maka Obor Rakyat justru menjadi blunder bagi mereka.

    Strategi Anies Victimizing Tragedy, Dividing NKRI


    Kini, yang dilakukan oleh Anies adalah kampanye dan propaganda dengan dasar paling sederhana namun efektif: victimizing tragedy dan dividing NKRI. Semua langkah Anies dan kalangan Islam radikal menggunakan strategi dan filosofi tersebut.

    Sejak awal menjadi gabener, Anies menggunakan idiom pribumi sebagai pihak yang dianiaya, disiksa, tersiksa, terpinggirkan, oleh kekuatan penjajah dan asing. Baginya tidak penting benar atau salah terkait sejarah bangsa. Yang terpenting adalah memanfaatkan setiap hal yang negatif terkait Islam, NKRI, kecelakaan, penderitaan untuk diarahkan sebagai peristiwa buruk untuk melawan (Jokowi, Ahok, Pancasila, dan Islam rahmatan lil alamin).

    Ada delapan ciri dan latar belakang ciri dari strategi ini antara lain adalah 1) menggunakan retorika sebagai senjata (omong doang), 2) tidak peduli konten atau isi berita benar atau salah (ngawur), 3) dilakukan terus-menerus secara kreatif (tidak lelah membuat serangan), 4) tanpa adanya fact-checking dan tidak memedulikannya (tidak peduli kebenaran), 5) memiliki corong yang antagonis (Fadli Zon, Fahri Hamzah, Jonru, Amien Rais), 6) tujuannnya adalah untuk memecah-belah (adu domba dan kisruh politik), 7) jika kalah atau terpojok dalam strategi maka mereka akan merebut kembali peran seolah membela (seperti FPI yang menyebut pembela Pancasila dan NKRI), dan 8) hanya bisa terjadi dalam persaingan terpolarisasi dua kubu (sementara ini Jokowi melawan Prabowo, SBY dan Islam radikal).

    Untuk menjalankan aksinya Anies akan mencari-cari kesalahan apapun kecilnya. Juga misalnya menggunakan idiom halal-haram yang jelas akan memecah-belah. Tidak menghargai pluralisme, mencari kekurangan seperti kemacetan dicari alasan salah atau tanpa amdal. Namun, pada saat yang bersamaan dia tidak mampu bekerja dengan baik. Contoh tentang reklamasi dan rumah DP Nol persen sampai saat ini masih tidak tersentuh. Ini kesengajaan.

    Yakinlah Bad Publicity Is Bad Publicity


    Sesungguhnya, bad publicity is bad publicity. Itu yang benar. Nah dalam menghadapi serangan seperti ini, apakah layak dia dibiarkan untuk tidak mendapatkan perlawanan? Jika tidak dilawan dan tidak ada sumber berita yang pro NKRI sebagai konten perlawanan terhadap mereka, maka penguasaan berita menjadi legitimasi kebenaran dan dengan demikian keberhasilan strategi yang Anies berhasil. Kita harus memenangi dalam perang media ini dengan membuat perlawanan agar dalam sosial media analisis tetap menempatkan Anies sebagai orang yang dinilai negatif.

    Maka menanggapi himbauan dan larangan untuk tidak menyebut nama Anies adalah tidak beralasan dan tidak berdasar yang memang dihembuskan oleh kaum bigot untuk mengecoh kaum Bumi bulat, pencinta NKRI, agar menjadi korban dari politik identitas Islam radikal, dengan kekurangan berita atau konten medsos yang menghantam Anies.

    Pun dalam kempanye dan propaganda selalu ada dua sisi dan tidak ada satu pun cara atau strategi, taktik, perlawanan yang sempurna: ada manfaat dan mudharatnya, ada kerugian dan keuntungan, punya sisi negatif dan positif.

    Jadi tetap hantam tidak usah ragu dan abaikan himbauan kaum bigot atau orang yang sudah termakan hasutan kaum bigot. Apalagi Anies dan geng-nya menggunakan, sekali lagi, strategi victimizing tragedy dan dividing NKRI. Abaikan larangan itu dan tetap serang Anies, dengan menyebut atau tidak menyebut tidak menjadi masalah. Salam bahagia ala saya.


    Penulis  :   Ninoy N. Karundeng   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Paranoid! Larangan Sebut Anies dan Strategi Victimizing Tragedy, Dividing NKRI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top