728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 22 November 2017

    #Warta : Nikmatnya Dunia, Anggaran Kunker DPRD DKI Dari 28,7 Miliar Menjadi 107,7 Miliar

    DKI Jakarta zaman now kembali ke zaman old, lantaran ditinggalkan oleh Ahok. Tanah abang kembali semrawut, RT/RW boleh melakukan pungutan biaya kepada warga, intensitas banjir kembali mengepung Jakarta dan masih banyak lagi.

    Yang tidak kalah penting yaitu kembali akurnya legeslatif dan eksekutif. Jika dulu Ahok sering membuat kisruh dan ribut dengan para anggota dewan yang terhormat, saat ini pengganti Ahok begitu mesra dengan anggota dewan yang terhormat. Secara kasat mata, ini terlihat baik, tetapi apakah ini berdampak baik secara nyata? Normalnya harusnya begitu, tetapi sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak oknum di negara ini yang hobi memakan uang rakyat, dari instansi apapun itu, tanpa terkecuali seperti anggota dewan.

    Jika zaman Ahok, saat menentukan anggaran seperti ini sering terjadi keributan, lantaran Ahok yang suka mencak-mencak karena menemukan anggaran yang tidak penting dan juga dana siluman. Tetapi di zaman gubernur now, semua adem ayem, tidak ada keributan antara legeslatif dan eksekutif. Tetapi yang justru ribut adalah rakyat, karena mengetahui anggaran yang diblowup oleh media.

    Masyarakat meributkan anggaran pengharum yang luar biasa nilainya, anggaran air mancur yang kurang begitu penting, serta anggaran untuk menggaji TUGP yang besar, sampai anggaran daging untuk masyarakat miskin yang justru dipangkas.

    Saya jadi rindu tulisan “pemahaman nenek lo” melihat anggaran yang masih simpang siur dalam hal efisiensi serta tepat sasaran. Termasuk anggaran kunjungan kerja DPRD DKI yang naik begitu drastis dari 28,7 miliar menjadi 107,7 miliar.

    Dana tersebut meliputi biaya hotel, biaya representasi, biaya taksi, hingga biaya tiket pesawat. Jumlah orang yang mengikuti kunjungan tersebut dituliskan dalam situs apbd.jakarta.go.id sebanyak 7.752 orang, meskipun anggota dewan yang ada berjumlah 106 orang, ini merupakah hal yang sangat aneh bin ajaib. Jangan-jangan anggota dewannya digandakan oleh Dimas kanjeng, atau jumlah tersebut karena disertakan keluarga anggota dewan untuk sekalian jalan-jalan.

    Sebaiknya 58 % yang memilih gubernur zaman now kembali intropeksi, apakah ini benar atau salah. Jika menganggap ini benar, berikan alasan yang tepat. Mengapa saya bertanya pada pemilih, karena itu hasil pilihan mereka, dan karena Anies juga sudah pernah menyatakan bahwa dia tidak begitu memperdulikan kritik.

    Menurut saya, Anies-Sandi menang banyak, karena mau diakui atau tidak, dia bisa menduduki kursi DKI karena isu SARA yang dihembuskan saat pilkada DKI Jakarta yang lalu, dari jangan memilih pemimpin kafir, sampai jangan mesalatkan jasad pendukung Ahok jika mati. Ditambah lagi dakwaan yang dituduhkan kepada Ahok terkait penistaan agama.

    Terkait siapapun yang menghembuskan isu SARA tersebut, bagi saya tidak penting, tetapi yang perlu digaris bawahi, mereka berdua diuntungkan akan hal itu. Jadi kritik, saran, logika tidak akan bisa mempan terhadap mereka berdua, karena pemilihnya banyak yang dipengaruhi oleh isu-isu tersebut. Jika ada yang tidak mau mengakui hal ini, itu sangat naif sekali. Bahkan saya berani mengatakan, bahwa pada saat itu, jika yang melawan Ahok adalah sendal jepit, maka sendal jepit yang akan menang, karena masyarakat sudah diracuni oleh ketakutan yang dihembuskan oleh oknum-oknum yang mengharapkan Ahok lengser. Baik itu ketakutan tentang masuk neraka jika memilih Ahok, ketakutan jasad tidak disalatkan jika memilih Ahok, sampai ketakutan terjadi kerusuhan jika Ahok terpilih kembali.

    Ke depannya, bila negara kita masih saja mudah terpengaruh dengan isu SARA, saya sangat yakin Indonesia akan makin mundur, bukan makin maju, sebab tidak perlu pintar untuk menjadi penguasa, cukup pandai bersilat lidah memainkan isu SARA, itu sudah bisa menghantarkannya mendapatkan tapuk kekuasaan. Dan rampok pun akan bisa menjadi pemimpin.

    Sesuatu yang diraih dengan cara-cara yang tidak benar, maka menghasilkan hal yang tidak benar. Misalnya orang pingin kaya, lalu tidak mau bekerja keras, tetapi justru menipu dengan berbagai cara seperti yang dilakukan oleh bos first travel, dimana dana umroh umat Islam ditilep. Begitu juga dengan pemimpin, jika cara-cara yang digunakan tidak baik, salah satunya menggunakan isu SARA bukan adu program, maka sudah jelas tujuannya hanya duit dan kekuasaan.

    Jika memang anggaran DKI saat ini tidak tepat sasaran, kurang efisien dan berpotensi untuk ditilep, maka harapan kita satu-satunya adalah mendagri.



    Penulis  :    Cak Anton     Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Nikmatnya Dunia, Anggaran Kunker DPRD DKI Dari 28,7 Miliar Menjadi 107,7 Miliar Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top