728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 26 November 2017

    #Warta : Nek Mimi, Fredrich Yusnadi dan Sam Aliano

    Emosiku mendadak bergejolak saat melihat video yang menayangkan cuplikan wawancara Najwa dan Fredrich Yusnadi. Di situ FY berkata dengan pongahnya kalau dia plesiran ke luar negeri, minimum spend 3M sampai 5M. Dan tas merk anu juga dibelinya seharga 1M. Lalu terdengar suara menyebalkan dan bergaung frasa “Saya suka kemewahan… suka kemewahan… kemewahaannnn” itu di telingaku sepanjang malam. #Echo.

    Temanku bercerita setelah menonton klip video itu dia bermimpi buruk, mandi dalam bathtub penuh berisi uang kertas rupiah berwarna merah muda. Milyaran jumlahnya. Entah berapa, tak sempat dihitungnya karena ia sibuk berendam, berenang dalam uang. Seperti Paman Gober dalam gudang uang koin emasnya.

    Dan dia bertanya bagaimana mimpiku malam itu. Kujawab aku malah bermimpi bertemu Profesor Calculus tokoh kartun dari komik Tintin zaman Old, dia mengejarku layaknya orang kesetanan, berdengus nafasnya terdengar seiring megap-megapnya paru-parunya yang tersengal. Dengan dengkul tuanya yang gemetaran, dan rambutnya yang menipis dan membotak, Profesor Calculus ini ngotot memojokanku di sudut gang. Diayunkannya pendulum berat dari logam ke depan mataku, dan berujar dengan suara mistis.. Tatap mata sayaa…. Sambil terus digoncangkannya pendulum itu ke kanan dan ke kiri dengan sangat teratur… Tatap mata saya… Saya suka kemewahan… suka kemewahan…. Mwahahahaaa.. Arghhh. Aku terbangun di dini hari dengan jantung hampir mencelat keluar rongganya. Astaghfirullah…

    Sialnya kemudian aku dapat kiriman video lainnya, yang setelah kubuka ternyata menampilkan sesosok wajah berparas kearaban dengan logat cadelnya yang menunjukan kalau dia tak fasih berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Orang ini yang kukenali bernama Sam Aliano, pengusaha asal Turki, seorang imigran yang sudah dinaturalisasi di masa rezim Sby berkuasa, dan sekarang sudah sah menjadi warga negara Republik Indonesia, mengais rezeki dan hidup di Bumi Pertiwi kita.

    Sam Aliano ini dengan santainya petantang-petenteng menjejerkan bonggolan rupiah di atas meja. Ini satu ikat isinya sepuluh dikali sepuluh juta, dan totalnya ada 10 ikat, yaitu 1 Miliar rupiah. Ini akan dihadiahkan serius kepada siapapun yang bisa menunjukan keberadaan pria misterius itu yang merusak karangan bunga saya kepada Setya Novanto. Ini uang sudah siap. Dan saya berikan kepada yang bisa menangkap pria misterius itu, Karena ini adalah harga diri saya… Ini adalah harga diri saya.. Harga diri saya… Diri saya… #Echo.

    Jujur aku sudah malas membahas dinamika politik beserta deretan manuver politikus-tikus Indonesia yang berdasi itu. Aku muak membaca inkonsistensi dan betapa tak bertulangnya lidah mereka, betapa rapuhnya kulit mereka sehingga harus menyaru bak bunglon yang senantiasa berganti wujud tanpa identitas asli.

    Lalu ingatanku melayang kepada Nek Mimi, seorang janda berusia 72 tahun yang hidup sebatang kara di Rusun Pesakih di DKI Jakarta, yang mencari nafkah dari membuat kotak roti dari kardus yang hanya dihargai 5 ribu rupiah per 2 ribu lembarnya. Didera oleh keterbatasan fisiknya yang merapuh dan penglihatan mata tuanya yang mengabur, ia berusaha berkarya, berkarsa dan tidak mengemis meminta-minta di jalanan macet ibukota.

    Sudahlah, kita semua tahu betapa kontrasnya perlakuan Jokowi, Ahok, dan Djarot kepada Nek Mimi jika dibandingkan dengan penghiburan semu Gabener Anies Baswedan, “Yang sabar ya, Bu”. Aksi nyata beda dengan retorika kata-kata belaka. Fahamkan itu, kalian semuanya.

    Izinkan saya meminjam frasa Pribumi di pidato resmi pelantikan Gabener Anies Baswedan yang pertama kali di tanggal 16 Oktober 2017 silam. Apakah Fredrich bisa dikategorikan Pribumi menurut kamus Anies atau Bumiputera kalau manurut kamus JK? Ya, bisa saja. Tapi dalam wawancara ekslusif yang dilakukannya dengan Najwa, apakah elok mengucapkan pernyataan “Saya suka kemewahan”, dan sikap konsumtifnya hingga anggaran belanja dan plesiran ke luar negerinya yang mencapai 3M sampai 5M itu. Sedangkan pertanyaan Najwa hanya apakah dia dibayar mahal oleh Setnov sebagai pengacaranya. Itu kan namanya Jaka Sembung bawa golok sudare-sudare.

    Lalu Sam Aliano, jelas bukan pribumi. Dia imigran asal Turki, negeri kelahiran Ikhwanul Muslimin, yang mendapatkan paspor WNI pada tahun 2007, saat rezim SBY berkuasa. Karena keahliannya berbisnis dan merapat pada pihak-pihak yang berkepentingan dan bisa memberikannya keuntungan secara maksimal maka ia menjadi kaya raya bergelimang harta di bumi Indonesia. Ia ikut bernyanyi dengan lantang Bunuh Bunuh si Ahok pada aksi 411, ada videonya yang diupload di channel youtube atas namanya sendiri. Ia juga ikut melaporkan Ahok ke polisi, dan pasang badan membela Ahmad Dhani pada kasus pelecehan menyebut kepala negara dengan nama hewan itu.

    Dan di sini ada Nek Mimi seorang “pribumi asli” menurut kamus Anies. Yang sangat bersyukur dan menangis bahagia sambil mengucapkan Terima kasih.. terima kasih.. berulangkali sambil menyeka butiran air mata yang menuruni pipi keriputnya. Saat uang sewa rusunnya sudah dibayarkan lunas hingga Desember 2018 oleh Mbak Niluh Djelantik, seorang aktivis Pro NKRI dan pejuang kemanusiaan garis keras. Dari dana pribadi, atas nama kemanusiaan, tanpa memandang suku agama ras dan pilihan parpolnya.

    Mendungnya sore ini membuatku merefleksikan semuanya dengan sedih. Ada 3 nama, Fredrich, Sam dan Nek Mimi. Semuanya adalah warga negara Indonesia asli (terkecuali Sam yang melalui proses naturilisasi), dan semuanya berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.



    Sayangnya yang satu pamer uang 1 milyar senilai harga dirinya di atas meja, dan yang satu bercerita biasa menghabiskan dana 5 milyar untuk plesiran ke luar negeri karena dia suka kemewahan. Dan Nek Mimi atau Siti Bunga Rustanty bersyukur tanpa henti karena bisa tetap mendiami rusunnya hingga Desember 2018, nominal sewa 12 bulan sudah dibayarkan lunas sebesar 3.372.000 rupiah pada tanggal 24 November kemarin.






    Penulis  : Retha Putri    Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Nek Mimi, Fredrich Yusnadi dan Sam Aliano Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top