728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 28 November 2017

    #Warta : Mengurus Indonesia Tidak Perlu 73 Orang, Ngurus DKI Jakarta Kok Bisa Segitu? Memang Masalah Buat Lo?

    Kali ini saya setuju dengan anggota DPRD DKI Jakarta yang mempertanyakan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) mengapa begitu banyak. Bahkan salah satu anggota dewan mengatakan, bahwa mengurus Indonesia saja tidak perlu sebanyak itu, mengapa ini hanya mengurus DKI bisa sebanyak itu. Padahal pada era sebelumnya, TGUPP hanya berjumlah 13 orang saja.

    "Untuk urus republik ini saja enggak sampai 73 orang, Pak. Ini urus Jakarta sampai segitu," ujar anggota banggar Gembong Warsono, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Selasa (28/11/2017), seperti yang dilansir kompas.com.

    Saya berharap, anggota Dewan tersebut memang benar-benar menyatakan keberatannya, bukan hanya sandiwara saja. Karena jika dilihat, hubungan antara eksekutif dan legeslatif di era Anies-Sandi sangat akrab. Jangan untuk pencitraan saja, padahal nanti pada ujungnya masih tetap lolos itu anggaran untuk TGUPP yang jumlahnya dianggap kebanyakan.

    "Sudahlah kurangi itu. Bagaimana efektifitas itu sebagai tim? Komisi C memandang perlu dievaluasi terutama soal jumlahnya," kata Jhonny sebagai Anggota banggar dari Komisi C.

    Sebenarnya saya tidak menyalahkan Anies-Sandi jika mereka berdua membutuhkan 73 orang untuk membantu mereka, karena setiap orang mempunyai kemampuan dan kapasitas masing-masing. Anggota Dewan dan masyarakat seharusnya memahami hal tersebut, jangan asal membully dan tidak setuju. Sebagai sesama manusia, kita harus memiliki empati, apalagi ini terhadap seorang kepala daerah. Sebagai contoh, mungkin jika saya yang menjadi Gubernur DKI, juga akan mengajukan TGUPP dengan jumlah yang banyak, karena saya menyadari kekurangan saya jika harus mengurus Jakarta, mungkin jika saya yang menjadi Gubernur, saya akan membutuhkan 100 orang, bukan 73 orang.

    Selain alasan kemampuan, jika saya yang menjadi gubernur, maka alasan lain saya memperbanyak TGUPP untuk membantu tugas saya sebagai gubernur, supaya saya tidak terlalu capek, dan bahkan bisa dikatakan sangat ringan karena lebih banyak yang membantu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya saya kerjakan.

    Kembali saya ingatkan, marilah kita bijaksana dalam menilai, karena setiap orang itu berbeda-beda, mungkin jika zaman Ahok, bekerja dimaknai dengan keinginannya melayani masyarakat, dan mungkin jika saya yang menjadi Gubernur, maka kesempatan ini saya gunakan untuk memasukan saya dalam buku sejarah bahwa saya pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta, ditambah supaya saya dihormati dan tentunya bisa mendapat penghasilan yang lebih.

    Jika ada tudingan bahwa TGUPP yang banyak digunakan menampung tim sukses pada saat kampanye terdahulu, menurutku itu tidak masalah. Karena dalam hidup ini, tidak ada makan siang yang gratis, oleh sebab itu, sebagai ucapan terima kasih, sah-sah saja bekas tim sukses diberi pekerjaan supaya tidak dikatakan kacang lupa kulitnya, seperti yang pernah dikatakan oleh egy sujana kepada Anies lantaran tidak hadir di acara setahun 411 yang berhasil menggulingkan Ahok.

    Membandingkan DKI Jakarta dengan Indonesia itu tidaklah adil. Karena DKI itu lebih rumit diurus, buktinya Ahok yang memiliki kinerja baik, hal tersebut dibuktikan oleh survei mengenai kinerja beliau, tetapi justru tidak dipilih lagi karena isu-isu terkait SARA, rumit sekali bukan? Bahkan DKI Jakarta mendapat predikat daerah dengan toleransi yang sangat rendah.

    Selain kerumitan DKI Jakarta, tidak adil jika dibandingkan dengan Indonesia yang dipimpin oleh pekerja keras seperti Jokowi. Secara ritme dan kemampuan, mungkin Anies-Sandi belum bisa seperti Jokowi, mungkin itu juga yang menyebabkan Anies tidak langgeng menjadi menterinya Jokowi yang bertugas untuk membantu pekerjaan Presiden yang begitu banyak.

    Jadi, janganlah anggota DPRD sebagai wakil rakyat menjadi tidak bijak dalam menyikapi perbedaan yang mendasar ini. Toh manusia memiliki kemampuan dan niat yang berbeda-beda dalam menjadi pemimpin. Ada yang memiliki niat mencari keuntungan yang sebesar-besarnya saat bisa menjadi pemimpin, ada juga supaya dapat memiliki kekusaan dan disegani, tetapi ada juga yang konyol seperti Ahok yang justru menjadi pemimpin bertujuan untuk menjadi pelayan bagi masyarakat DKI Jakarta.

    Berhubung saya adalah tipe orang yang tidak mau sama dengan umumnya, maka saya suka dengan hal yang konyol seperti yang dilakukan oleh Ahok jika saya menjadi pemimpin. Cuma bedanya saya akan berusaha tidak emosional seperti Ahok, tetapi lembut dan santai seperti Jokowi meskipun itu Cuma khayalan, wakakk.



    Penulis   :   Cak Anton    Sumber   :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Mengurus Indonesia Tidak Perlu 73 Orang, Ngurus DKI Jakarta Kok Bisa Segitu? Memang Masalah Buat Lo? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top