728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 01 November 2017

    #Warta : Melihat Alexis dan Hana Anisa dengan Telanjang

    Beberapa hari terakhir ini sajian berita di media kita berisi seputar Hotel Alexis. Hotel bintang empat yang selalu ‘digosipkan’ ada praktek prostitusinya, belakangan ijin usaha Hotel dan Griya Pijat Alexis tidak diperpanjang oleh Gubernur DKI yang baru, Anies Baswedan. Apa alasannya? Mempertimbangkan informasi yang beredar di media massa. Selain itu Pemprov DKI ingin mencegah praktek prostitusi terselubung.

    Apa yang dilakukan oleh Anies sebagai Gubernur Jakarta adalah sesuatu yang patut kita dukung, jika memang Alexis adalah sarang prostitusi. Masalahnya adalah, Alexis ini hotel, bukan lokalisasi seperti Doli atau Kalijodo. Penutupan dan penanganan terhadap Alexis akan berbeda dengan lokalisasi.

    Tantangan Ahok saat menggusur Kalijodo dan menyulapnya jadi taman atau ruang terbuka hijau, Ahok harus menghadapi para preman, PSK dan sekelompok mafia. Berat dan menakutkan, namun mereka tidak punya kekuatan di mata hukum. Sebab Kalijodo merupakan lahan milik negara.

    Alasan utama penggusuran Kalijodo adalah pengembalian fungsi tanah negara sebagai ruang terbuka hijau. Bahwa di dalamnya ada premanisme, prostitusi dan dikenal sebagai kawasan lokalisasi, itu bonus penertiban.

    Faktor ‘keberuntungan’ bahwa Kalijodo sebagai tempat lokalisasi ternyata adalah tanah milik negara inilah yang membuat penggusurannya berjalan lancar. Pemprov DKI di tangan Ahok nyaris tak mendapat perlawanan hukum sama sekali.

    Sementara Hotel Alexis berdiri bukan di atas tanah negara, mereka berdiri secara resmi. Selama ini mereka menjalankan bisnisnya dengan mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Jikapun pemerintah mau menutup Alexis, maka harus ada alasan kuat berupa pelanggaran hukum serius. Contoh narkoba, prostitusi, judi dan sebagainya.

    Yang terjadi sekarang adalah Pemprov DKI menolak perpanjangan ijin usaha Hotel Alexis. Secara prosedur, pemerintah harus punya alasan kuat untuk menolak ijin usaha Alexis. Jika selama ini Alexis sudah memenuhi syarat-syarat perpanjangan, seharusnya tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak memperpanjang. Tidak bisa hanya sekedar alasan pemberitaan di media massa.

    Melihat Alexis dan Hana dengan kacamata

    Selain soal Alexis, belakangan ini juga sedang viral video adegan seks Mbak Hana dengan pacarnya. Sebenarnya bukan yang pertama kalinya kita melihat video adegan seks tersebar dan menjadi viral, sebelumnya sudah ada Ariel dan Luna Maya. Tapi ini menjadi menarik untuk dibahas karena saya mendapat cerita dang juga tahu beberapa kondisi di lapangan tentang dunia pijat plus hotel bintang empat, serta catatan seputar skandal di dunia kampus.

    Kita pantas untuk tidak setuju dengan prostitusi, lokalisasi dan pijat plus plus. Kita juga patut menyayangkan dan mempertanyakan moral anak-anak muda dalam lingkungan pendidikan formal. Namun masalahnya adalah, ini merupakan kenyataan yang harus kita hadapi bersama, untuk dicarikan solusinya.

    Beberapa hari yang lalu, seorang dosen pernah bercerita, bahwa salah satu mahasiswinya sempat ada yang minta dicarikan “pacar sampingan” yang bisa membiayai living cost nya selama kuliah. Bukan sebuah kebetulan kalau saya juga pernah ditawari langsung oleh seorang teman, untuk ‘menafkahi’ salah seorang mahasiswi.

    “daripada menjajakan diri, mending kamu ambil sendiri,” begitu kilah teman saya.

    Kaget dan tidak percaya? Awalnya saya juga merasa ragu. Benarkah ada praktek seperti itu? pada banyak kesempatan ngobrol dan diskusi, rupanya banyak orang membenarkan kondisi sosial sex dunia kampus.

    Tidak semua mahasiswi begitu, hanya sebagian saja. Tapi merata di banyak tempat. Sehingga dengan kondisi seperti ini, maka video viral yang disinyalir adalah Hana Anisa hanyalah salah satu dari sekian banyak aktifitas tak terekam kamera. Seks bebas sudah bukan lagi rumor atau isu, tetapi kenyataan pahit yang perlu kita antisipasi dan minimalisir.

    Begitu juga dengan prostitusi di balik kedok panti pijat yang disediakan oleh hotel-hotel berbintang. Itu adalah kenyataan yang harus kita sadari dan perlu dipikirkan jalan keluarnya, atau minimal mengantisipasi.

    Sudahlah, soal pijat plus-plus atau prostitusi itu bukan lagi rumor atau isu. Hampir setiap hotel bintang empat memiliki fasilitas pijat, yang pada kondisi ‘unofficial’ bisa diupgrade menjadi plus-plus sesuai kesepakatan pelayan dan customer. Saya sendiri belum pernah menginap di hotel bintang empat, tapi cerita soal ini sudah menjadi rahasia umum, bahkan diberitakan di media mainstream.

    Jika melihat alurnya, saya jadi paham mengapa praktek prostitusi di hotel sulit sekali ditindak atau membuat hotel terkait akhirnya ditutup. Sebab secara resmi hotel hanya menyediakan pelayanan pijat, tapi secara unofficial para pelayan bisa menawarkan lebih dari yang dipesan.

    Setelah melihat kondisi secara keseluruhan, ke depan kita bisa ikut berpikir tentang solusinya. Minimal mengantisipasi agar orang-orang terdekat kita tidak terjerumus pada praktek negatif yang seperti itu.

    Terakhir, bagaimanapun kita harus apresiasi Anies Baswedan yang berani menolak perpanjangan izin usaha Hotel Alexis karena alasan hotel tersebut dianggap menjadi sarang prostitusi. Tetapi kita semua juga harus sadari bahwa Alexis adalah sebuah nama Hotel yang berdiri resmi dan sudah beroperasi cukup lama. Siang tadi mereka sudah menanggapi, meminta arahan serta bimbingan pemerintah agar hotelnya kembali beroperasi. Selanjutnya sudah menjadi tugas Anies dan jajarannya untuk menjawab dan membimbing Alexis. Begitulah kura-kura.


    Penulis  :  Alifurrahman   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Melihat Alexis dan Hana Anisa dengan Telanjang Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top