728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 28 November 2017

    #Warta : Kisah Ahok Tekuk Anies Lewat Ketatnya Sistem e-Budgeting

    Rasa kagum saya terhadap sosok Basuki Tjahaja Purnama dalam melindungi uang rakyat terus menggelora sampai saat ini. Awalnya kita tahu bagaimana sewaktu hari pertama menang Pilkada, Anies mengunjungi Ahok di Balai Kota. Tampang muram Anies sangat berasa, dan aura negatif Anies menggeliat di setiap sudut balai kota. Namun aura gelap Anies ditutup begitu saja dengan senyum ramah Ahok yang menyambut pemenang ini dengan wajah yang sukacita dan sumringah.

    Untuk membaca mimik Ahok sangat sulit, namun kali itu, saya melihat bagaimana muka Ahok itu terkesan puas. Awalnya saya bertanya mengapa orang ini bisa puas, padahal orang ini sudah dikalahkan di dalam Pilkada DKI oleh Anies? Mengapa orang ini masih bisa tertawa puas, ketika putaran pertama ia menang besar, namun putaran kedua, ia kalah telak?

    Langsung terbersit di benak saya bahwa apa yang pernah dikatakan Ahok, tetap diimaninya pada saat itu. Ahok pernah berkata bahwa jabatan itu pemberian Tuhan, yang suatu saat diberi, dan saat yang lain bisa diambil kembali. Orang ini terlihat tenang, meskipun kalah. Kekalahannya rasanya bukan menjadi akhir hidupnya, karena memang ia tidak hidup untuk itu. Sederhana sekali. Ia pun tenang karena ia kalah secara terhormat, tidak ada peran isu-isu yang tak baik, yang membantunya pada saat itu.

    Bahkan di dalam tekanan massa pada saat itu mengenai penistaan agama, ia masih bisa mendapatkan 42 persen suara. Ini adalah pencapaian luar biasa, mengingat warga muslim di Jakarta mencapai 80 persen. Apakah ini merupakan ajang saya untuk menghibur diri? Mungkin saja ada pendukung badut yang menganggap saya hanya menghibur diri. Silakan saja, mungkin itu satu-satunya cara kalian menghibur diri, bahwa saya sedang menghibur diri dalam kekalahan orang yang saya dukung mati-matian.

    Mari kembali ke topik utama, yakni sistem e-Budgeting. Sistem e-Budgeting sebenarnya adalah sebuah sistem yang menggunakan perangkat komputer dan internet, agar lebih aman, tidak mudah diakses oleh siapapun, dan terlacak setiap detail. Ini adalah bentuk komitmen pemprov DKI di masa pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama ketika ia menjabat sebagai gubernur DKI.

    Visi BTP yakni bersih, transparan dan profesional, menjadi salah satu cikal bakal munculnya e-Budgeting. Sebenarnya sistem ini sudah lama diwacanakan, namun baru mulai direalisasi pada era kepemimpinan Jokowi Ahok. Ini adalah bentuk komitmen pemprov sebagai abdi rakyat. Pengabdi rakyat, tentu menggunakan uang dari rakyat secara jujur, transparan, arif dan bijaksana.

    Meskipun Ahok harus masuk penjara karena tuduhan yang dianggap terbukti dilakukannya yakni penistaan agama, sistem e-Budgeting ini tetap berjaya. Nama Ahok kembali tercium harum di Jakarta. Bunga-bunga yang sudah dibuang dan layu, bahkan ada yang dibakar, mulai muncul lagi, dalam bentuk spiritual.

    Roh zaman yang ada pada era Ahok, kembali turun lagi, menyikat habis para bajingan-bajingan yang ingin macam-macam dengan uang rakyat. Uang rakyat yang dijaga secara radikal oleh Ahok sempat digoyang. Namun e-Budgeting merupakan sistem yang menyelamatkan uang rakyat. Bagaimana tidak, kami bisa move on dari Ahok?

    Rasanya untuk move on sebenarnya bisa, namun semakin sulit jika pengganti manusia brilian bernama Ahok adalah sekumpulan badut yang tidak jelas. Uang rakyat terselamatkan oleh sistem e-Budgeting. Maka dapat disimpulkan jika pada APBD berikutnya sistem penganggaran dengan e-Budgeting ini dihapus, tentu sudah ketahuan motivasinya. Lagi-lagi, Ahok berhasil menelanjangi setiap motivasi yang sedang berjalan, bahkan ia mengantisipasi motivasi-motivasi busuk yang akan terjadi.

    Meletakkan pagar-pagar, merupakan kegiatan yang benar-benar mempersulit para bajingan untuk bermain korupsi. Sebenarnya Ahok tidak sedang mengerjai Anies Sandi dengan penerapan sistem e-Budgeting yang bisa diakses oleh KPK, melainkan Ahok sedang menawarkan kebudayaan yang jauh lebih terhormat. Uang rakyat adalah milik rakyat, digunakan untuk keperluan rakyat, dan di dalam kontrol rakyat. Prinsip demokrasi benar-benar dijalankan oleh Ahok. Karena demokrasi ini merupakan sistem negara yang sangat baik, untuk era saat ini.

    Mungkinkah ada sistem negara yang lebih baik dari demokrasi? Untuk saat ini rasanya hampir mustahil mencari sistem yang lebih baik dari demokrasi. Ingin kembali kepada sistem negara kuno seperti kerajaan, oligarki, komunisme, khilafah, dan lain-lain? Rasanya kita terlalu jauh untuk berbicara hal itu, karena sistem e-Budgeting yang sebaik ini saja dicibir oleh badut-badut politik.

    Kepala Bappeda DKI Jakarta Tuty Kusumawati, seorang ibu yang cukup loyal terhadap Ahok, menunjukkan sistem e-Budgeting untuk mencari tahu siapa yang memasukkan data anggaran ratusan juta untuk kolam tak jelas itu. Akhirnya nama Sekretaris Dewan Muhammad Yuliadi lah yang keluar. Siapakah dia? Ah saya tidak perduli, yang pasti ini dianggarkan sesaat setelah Anies Sandi menang. Bulan April Anies Sandi dinyatakan menang, 26 Mei diinput.

    Ada satu ciri yang tidak bisa dibantah. Orang berkarakter agung, selalu punya visi ke depan, jauh melampaui dirinya sendiri. Orang besar, meskipun sudah tidak ada, suaranya tetap terdengar, pengaruhnya tetap terasa dan keberadaannya seolah nyata di dalam setiap warisan yang ia sudah berikan kepada zamannya. Dialah Ahok, sang penakluk Anies, bahkan dilakukannya dalam kesedihan dan kekecewaan, dari dalam Mako Brimob.

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis   :   Hysebastian      Sumber   :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kisah Ahok Tekuk Anies Lewat Ketatnya Sistem e-Budgeting Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top