728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 10 November 2017

    #Warta : Keberpihakan Anies dari Politik Trotoar, Rumah Lapis, Hingga Melegalkan Kampung Akuarium?

    Ada yang unik dalam cara kepemimpinan Anies-Sandi. Mereka berdua sepertinya ingin berburu simpati dari masyarakat DKI Jakarta selayaknya seorang Gubernur yang ingin melambungkan nilai jual dengan kebijakan yang berpihak kepada rakyat miskin, itulah kesan yang ingin disampaikan oleh Anies dalam setiap pernyataan dan kebijakan yang akan dibuatnya.

    Mungkin mereka ingin mengikuti jejak Jokowi saat menjadi Wali Kota solo yang menang dua priode. Bahkan priode ke dua tidak perlu kampanye, atau saat menjabat menjadi Gubernur Jakarta, belum genap satu priode sudah dipercaya sebagian besar rakyat Indonesia untuk memimpin Indonesia, karena aksinya saat memimpin, itulah kemungkinan besar yang ingin dicontek oleh Anies-Sandi saat ini.

    Saat ini mungkin PKS ingin menjadikan Anies seperti Jokowi, seperti yang terjadi saat PKS mengusung Jokowi dalam pilkada Solo, tetapi apakah itu akan berhasil? Saya rasa itu akan sulit, karena itu butuh ketulusan yang mendalam, bukan hanya pencitraan yang sering dituduhkan kepada Jokowi.

    Jokowi sangat sering muncul dengan foto-foto natural saat bersama rakyat atau sedang mengunjungi tempat-tempat tertentu, hal itu juga sepertinya dicontek oleh Anies. Sebelum dilantik, sudah viral video Anies yang sepertinya mengambil sesi foto di tempat makan sederhana milik warga. Dan bukan hanya itu, dia juga berfose foto dengan gerobak sampah. Tetapi sayangnya, video pengambilan foto tersebut tersebar di media sosial, sehingga bukan pujian yang didapat tetapi justru bully yang diterima.

    Setelah dilantik, action pertama dilakukannya untuk menarik simpati rakyat dia lakukan dengan menyatakan ingin membangun selter untuk warga korban gusuran di Kampung Akuarium, padahal sebelumnya tempat tersebut direlokasi karena warga menempati lahan tersebut secara ilegal. Karena pernyataan Anies yang ingin membuat selter sementara untuk warga tersebut, Kampung Akuarium kembali ditumbuhi bedeng-bedeng liar yang semrawut.

    Karna Jargon Anies dikenal dengan keberpihakan, menata bukan menggusur, hal itu membuat mereka berdua seperti mati langkah. Itu dibuktikan dengan PKL di trotoar Tanah Abang yang semakin menggila sehingga membuat pejalan kaki tertumpah di badan jalan yang membuat kemacetan. Ketidakberdayaan mereka berdua lantaran dihadapkan dengan buah simalakama. Akibat dari itu, mereka berfokus untuk tidak menyalahkan PKL yang berjualan di trotoar, tetapi mencari fokus lain yang bisa disalahkan seperti pembangunan yang belum kelar hingga pejalan kaki yang keluar dari stasiun. Meskipun sudah jelas, jika trotoar dikembalikan fungsinya untuk pejalan kaki, kesemrawutan Tanah Abang bisa diatasi. Bukan hanya kesemrawutan saja, tetapi pungli dan premanisme yang membacking para PKL berjualan sembarangan juga bisa diatasi.

    Selain trotoar yang di Tanah Abang, trotoar di Thamrin pun tidak luput dari politisasi. Dengan berbagai dalil, trotoar yang sudah disetting untuk menyamankan pejalan kaki minta diubah hal itu bertujuan untuk mengakomodasi sepeda motor yang akan diperbolehkan kembali memasuki kawasan tersebut, itu jika saya tidak salah ingat. Terkait apakah mengakomodasi yang dimaksud tersebut dengan membuat trotoar berlapis atau mempersempit trotoar supaya sepeda motor memiliki celah longgar untuk lewat saya juga kurang tahu, karena Anies juga tidak tahu. Meskipun ide tersebut dari Anies, tetapi secara teknis Anies tidak mengetahui bagaimana caranya, oleh sebab itu biarlah perancang yang mencari solusinya. Dan lagi-lagi, ini yang dituju Anies adalah keberpihakan pada warga yang menggunakan sepeda motor, meskipun berpotensi semrawut di area tersebut, yang penting upaya menyenangkan warga tercapai, itulalah yang dapat saya baca.

    Selain itu, sebagai upaya mengambil hati rakyat dengan jargon keberpihakan dengan cara membuatkan rumah lapis kepada warga. Meskipun rumah lapis ini masih sangat membingungkan seperti apa, oleh sebab itu Anies meminta Wali Kota untuk mencari solusi mengenai rumah lapis tersebut. Meskipun menurut Sandi rumah lapis yang dimaksud tersebut seperti rumah susun, tetapi memiliki tingkat yang lebih rendah, misalkan jika rumah susun 16, rumah lapis dikurangi 5. Mengapa Anies-Sandi tidak mau mengatakan rumah susun meskipun konsepnya sama? Mungkin mereka tidak mau programnya disamakan dengan program Ahok, jadi dibuat dengan nama yang berbeda meskipun rasanya sama.

    Itulah yang dapat saya lihat dari kebijakan-kebijakan Anies-Sandi, jika saya salah ya harap maklum, karena saya juga manusia biasa seperti Sandi yang salah ucap pejabat negara menjadi kepa negara saat membuat pernyataan mengenai tukang ojek yang membentaknya saat berlari.



    Penulis   :    Cak Anton    Sumber   :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Keberpihakan Anies dari Politik Trotoar, Rumah Lapis, Hingga Melegalkan Kampung Akuarium? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top