728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 November 2017

    #Warta : Fadli-Fahri, Adakah Sisi Positifnya?

    Hampir seluruh artikel Seword yang menuliskan tentang dua sosok ini, Fadli Zon dan Fahri Hamzah selalu bernada negatif. Hal ini disebabkan ucapan dan tindakan dua orang ini selalu negatif terhadap pemerintahan Jokowi. Ibarat suara, dua orang ini terdengar fals dan bisa merusak telinga karena keluar dari mulut yang tak beratur. Ibarat makanan, mereka adalah makanan basi plus sudah kedaluwarsa.

    Namun begitu, suka tidak suka, saat ini mereka adalah pejabat negara yang tinggi kedudukannya. Wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat, dimana pembaca Seword adalah termasuk rakyatnya.

    Nyinyiran Fadli-Fahri

    Kita tengok Fadli Zon. Namun sebelumnya, agar emosi bisa terkendali saat membicarakan dia, maka kita harus memahami posisi si Fadli ini. Dia ini sejatinya hanyalah sebuah wayang untuk tugas-tugas tertentu. Karena hanya wayang, maka segala ucapan dan tindakannya dikendalikan oleh sang dalang, yang sekaligus adalah bosnya.

    Makanya, tidak mengherankan kalau dia selalu nyinyir dan kontra terhadapa apa yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi. Hal ini seseuai kengingnan sang dalang agar nilai Jokowi berharap menjadi jelek, sehingga sang dalang bisa mengalahkan Jokowi saat tanding ulang nanti. Fadli Zon adalah produk yang by default harus menanggapi negatif setiap pencapaian Jokowi.

    Seperti ketika beberapa survey mengatakan tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi cukup tinggi, berkisar antara 65% - 70%, Fadli zon dengan enteng mengatakan sebaliknya. Tanpa rasa malu dia mengatakan bahwa rakyat tidak puas terhadap kinerja Jokowi.

    Kata fadli, kehidupan rakyat semakin susah. Ketika ditanya wartawan dari mana data yang dia dapat, maka dengan wajah bodoh namun ingin terlihat pintar, dengan mantap dia bilang data dari survey sendiri, dari rakyat yang dia temui langsung. Entah, survey di mana dia.

    Anehnya, saat dia bertanya langsung kepada audiens acara talk show di sebuah stasiun TV, apakah kehidupan semakin baik atau susah, yang kemudian di jawab baik, si fadli ini, cuma nyengir sebentar dan bilang kalau rakyat yang dia tanya jawabannya susah. Tanpa ada malu sedikitpun.

    Begitu juga dengan Fahri Hamzah. Meski posisinya membingungkan saat ini, karena tidak mewakili partai manapun, namun tetap saja dia dengan kursi empuknya bisa terus melontarkan nada-nada sumbang kepada Jokowi. Dimata Fahri, sepertinya Presiden Jokowi itu selalu kabur dan tidak jelas, telingannya selalu mendengar nada sumbang apapun yang didendangkan oleh pemerintah.

    Apalagi Sikap Fahri terhadap KPK juga tidak kalah menjengkelkan, dia sepertinya benci akut terhadap KPK dan sudah secara terang-terangan mengatakan agar KPK dibubarkan. Dia selalu menentang segala hal yang dilakukan KPK.

    Saat banyak kepala daerah yang OTT, si fahri tanpa malu dan terkesan bodoh menyalahkan KPK. Dia menuding bahwa KPK masuk desa untuk menghabisi pejabat daerah. Dia bilang OTT bisa mengganggu kepercayaan investor, serta minta Jokowi turun tangan. Sungguh nalar yang out of the box secara negatif.

    Dalam Kasus Setya Novanto vs KPK, Fahri juga sok-sokan meminta Jokowi agar tidak pasang badan bagi KPK, ketika Presiden dengan tegas dan jelas meminta kepada Polri untuk tidak membuat gaduh suasana. Bila ada bukti hukum silakan dilanjut, namun bila tidak ditemukan, harus dihentikan. Jangan dibuat seolah-olah ada bukti.

    Saat Setya Novanto ditahan oleh KPK meski masih tergeletak di rumah sakit, dimana sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka untuk kedua kalinya, si Fahri mengatakan bahwa KPK sedang bersandiwara dalam penangan kasus e-KTP yang berujung pada penghancuran kewibawaan DPR. Padahal, menurut akal waras, yang melakukan sandiwara adalah Setya Novanto sendiri, ketika dengan terpaksa harus membenjolkan kepalanya sebesar bakpau dengan nubruk tiang listrik. Yang menghancurkan kewibawaan DPR, ya anggotanya sendiri.

    Ketika ada beberapa kalangan yang mendesak agar ada pergantian pimpinan DPR akibat kelakuan ketuanya yang memalukan tersebut, Fahri bagaikan orang yang telah kehilangan akal sehatnya, meminta agar Jokowi turut campur membantu DPR. Tanpa rasa malu, si Fahri mengingatkan Presiden Jokowi akan kebaikan-keabikan yang telah dilakukan oleh DPR semasa dipimpin Setya Novanto.

    Katanya, DPR telah banyak menyetujui keinginan-keinginan pemerintah seperti Tax amnesty, Perubahan APBN dan Undang-Undang Ormas. Selain itu Fahri juga mengingatkan bahwa Novanto dengan Golkarnya sudah memberikan 'tiket' kepada Jokowi untuk maju ‘nyapres’ lagi di tahun 2019 mendatang.

    Apapun itu yang dilontarkan Fahri dalam membela Novanto, sebenarnya hanyalah bermuara pada satu tujuan, yaitu agar Jokowi membantu pimpinan DPR saat ini untuk tidak diotak-atik. Dia layak kawatir, karena posisinya juga rentan untuk ditendang.

    Namun, Presiden Jokowi tetap pada sikapnya untuk berkata dan bertindak dalam koridor kebenaran dan kebaikan demi Indonesia maju kedepan, tanpa terlalu risau akan kerugian politik yang mungkin diterimanya. Presiden Jokowi dengan tegas meminta agar Setya Novanto mengikuti proses hukum yang ada. Presiden juga tidak akan mencampuri urusan internal di DPR. Jadi, silakan si Fahri gigit jari.

    Rupanya tidak cukup hanya urusan politik dan pemerintahan saja, keduanya juga tak sungkan untuk nyinyirin urusan keluarga Jokowi. Pesta mantu Jokowi yang diadakan di tempat pribadi dan rakyat sekitar turut menikmati, serta tiada kado buat pengantin, itupun masih salah di mata Fadli dan Fahri.

    Menurut Fahri, mestinya pesta Jokowi harus lebih sederhana lagi. “Umumkan saja di Twitter atau di Vlog”, begitu nyinyiran yang keluar dari mulut sinisnya. Sedang si Fadli, nyindir Jokowi yang sudah dua kali menikahkan anaknya dalam tiga tahun pemerintahan, dimana presiden lain tidak melakukannya. Sebuah sindiran yang menunjukan bahwa si Fadli ini benar-benar hanya sebuah wayang.

    Sisi Positif Fadli-Fahri

    Dari segala lontaran mulut dan tingkah polah mereka yang menjengkelkan tersebut, tetap ada hal positif yang bisa dijadikan contoh. Yang pertama, meski diterpa gelombang bully, mereka tetap konsisten dengan kritiknya yang banyak ngasal dan tanpa dasar, terhadap pemerintahan Jokowi. Dibutuhkan keteguhan fisik dan mental yang sangat kuat untuk bisa seperti mereka.

    Yang kedua, adalah yang patut saya acungi jempol karena rasa hormat. Mereka memang menjengkelkan, mulut asal njeplak, namun sampai saat ini, mereka adalah pejabat yang relatif bersih dari korupsi. Paling tidak, aparat hukum masih belum bisa menemukan ketamakan mereka terhadap uang negara.

    Apalagi KPK yang sudah tentu menargetkan secara khusus si Fahri, masih belum menemukan bahwa tangan Fahri kotor dengan uang haram. Seolah olah, mereka tidak tergoda oleh kawan-kawannya yang kemaruk harta haram.

    Penutup

    “Jadi, kalau disuruh memilih dua politisi ini dengan politisi yang santun bicara dan tidak pernah mengkritik Jokowi, misalnya seperti Setya Novanto dan Anas Urbaningrum, anda milih siapa?”

    “Kalau saya, selaku penulis sih, jelas memilih almarhum Gusdur, Buya Safii dan Jokowi tentunya.”

    “Lho, kok milih tiga, kan cuma dua!?”.

    “Ya, sudah kalian juga milih tiga, silahkan ambil Fadli, Fahri dan Fedrich si pengacara itu”. Sekian.


    Penulis  : Samlawi Os  Sumber   :    Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Fadli-Fahri, Adakah Sisi Positifnya? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top