728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 03 November 2017

    #Warta : Balai Kota Mulai Anti Media, Wartawan "Minyak Rem", Ganggu “Oli Pembangunan”

    Sejak dua pekan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menjabat, balai kota sudah tidak selayaknya tempat perkumpulan rakyat dan para wartawan lagi. Perlahan-lahan, pintu balai kota sudah mulai tertutup. Tak bisa dimungkiri bahwa gaya kepemimpinan setiap orang berbeda-beda.

    Kita tidak bisa samakan Ahok dengan Anies, juga Djarot dengan Sandiaga. Secara umum, kita tidak bisa menyamakan mereka, karena jelas mereka adalah insan-insan yang berbeda. Namun secara khusus, kita tahu bahwa teknik, kalimat, dan birokrasi dalam kepemimpinan Anies Sandi, sejauh timur dari barat, dengan kepemimpinan tiga raksasa, Jokowi-Ahok-Djarot.

    Seperti burung elang yang merindukan dasar laut, begitulah perasaan warga Jakarta yang kehilangan sosok Ahok, dan harus menerima duo ABSU, alias Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Ibarat kura-kura merindukan telur, begitulah kami merindukan Ahok, alias sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Bagaimana mungkin seekor kura-kura besar bisa kembali lagi ke telur, tempat paling aman di dalam hidupnya.

    Sekeluarnya kura-kura dari telur, mereka langsung mencari tempat perteduhan. Sebelum mencari tempat perlindungan, kura-kura tersebut harus melawan setiap dari badai dan ancaman predator. Setiap perumpamaan yang saya berikan di atas, sangatlah buruk jika dilihat dari sisi penulisan dan sastra. Begitulah kura-kura kemampuan saya dalam bersastra. Artinya “Maaf jelek”. Hahaha.

    Gaya kepemimpinan Ahok dan Anies Sandi benar-benar berbeda. Bahkan dapat dirasakan langsung oleh para wartawan. Perubahan yang dirasakan adalah penggunaan lantai dua di depan ruang kerja Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno.

    Area lantai dua sudah tidak lagi bisa diakses oleh wartawan yang mencari penghidupan. Mungkin dengan sulitnya akses di lantai dua, yang seyogyanya menjadi tempat duduk-duduk, kongkow-kongkow, ngobrol-ngobrol, ngecas HP para wartawan, saya khawatir bahwa wartawan sulit mendapatkan informasi terkini dan mulai bosan dengan pekerjaannya. Mungkinkah para wartawan dianggap seperti minyak rem yang mengganggu jalannya “oli pembangunan”? Apakah Sandiaga akan menawarkan solusi OK OC kepada para wartawan?

    Awak media tidak diizinkan lagi duduk-duduk di depan kantor wagub Sandiaga Uno, karena sangat mungkin pelumas-pelumas yang dikerjakan di dalam balai kota, digagalkan oleh minyak rem. Hmm. Analogi yang rasanya tepat.

        Jadi supaya bagus di TV-nya juga, di bawah. Ini the last (terakhir) ya saya lakukan (wawancara) di sini (lantai 2)… Reklamasi (sama) Pak Anies. Terus apa lagi? Alexis, sama Pak Anies. UMP sama saya. Kan nanya pembagiannya, saya bagi-bagi nih, terus apa lagi? Ini pembagian pertanyaan dulu" kata Sandiaga ketika itu. SUMBER

    Sesi wawancara pun terfokus di ruangan Balairung, yang merupakan tempat Ahok biasa menerima keluhan rakyat. Disediakan juga sebuah meja kecil untuk keperluan wawancara. Ya, meja kecil. Artinya, wawancara dianggap tidak penting. Begitukah? Hmm..

    Mulai dari larangan wartawan berkumpul di depan kantor wagub, rapat yang dilakukan secara tertutup, wawancara yang dipingpong antara Anies Sandi dan Dinas, fenomena irit bicara, dan berbagai-bagai keperluan wawancara yang ditutup, saya yakin bahwa Balai Kota mulai menjadi eksklusif. Tepat yang seyogyanya dilakukan untuk perkumpulan, menjadi tempat yang sangat sakral di Jakarta. Balai kota sudah tidak lagi menjadi balai kota. Wartawan pun rasanya mulai dianggap seperti minyak rem yang mengganggu oli pembangunan. Ngomong-ngomong, oli merk apa sih yang digunakan? Hehehe.

    Fenomena irit bicara menjadi sebuah fenomena yang berlangsung di Jakarta. Sebenarnya ini hanya kembali kepada pendulum yang lain, ketika para birokrat irit bicara, untuk menghindari silat lidah yang tidak perlu. Ibarat mulut yang penuh sampah, mereka tetap ingin menyatakan sesuatu yang harum, pasti suatu saat akan muncul bau sampahnya.

    Reklamasi pun menjadi topik yang dianggap sensitif dan agak haram untuk dibicarakan di hadapan para “minyak rem” tersebut. Saya agak curiga bahwa reklamasi itu adalah tempat dimana paling banyak oli pembangunan yang bisa disedot. Semoga saja pulau reklamasi cepat-cepat diberikan minyak rem, agar orang-orang yang membeli properti disana, tidak terpeleset. Begitulah kura-kura, sapi-sapi, kelelawar dan onta-onta.

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis  :  Hysebastian    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Balai Kota Mulai Anti Media, Wartawan "Minyak Rem", Ganggu “Oli Pembangunan” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top