728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 29 November 2017

    #Warta : Ahok – Anies; Keterbukaan Vs Ketertutupan

    Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Setiap era pasti punya pemimpinnya sendiri. Satu era berganti era lainnya. Pemimpin pun akan silih berganti. Setiap tangan punya ayunan yang berbeda.

    Era Ahok mempimpin sudah usai (dipaksa untuk usai). Kini muncul era Anies. Pergantian ini menjadi berita paling hot sejagad raya, baik dunia maya maupun dunia nyata. Bahkan konon dunia ‘ghaib’ pun berguncang.

    Dua pemimpin yang memiliki tipe kepemimpin yang bertolakbelakang sama sekali. Mereka berdua akhirnya menjadi bahan berita tanpa ujung. Saban hari dibahas. Ada kekontrasan amat sangat di sana. Ada perbendaan mencolok di sana. Dua pemimpin dengan gaya sangat berbeda.

    Era Ahok adalah era penuh keterbukaan. Apapun dibuka secara transparan supaya rakyat sebagai “pemegang kekuasaan” tertinggi bisa tahu persis apa yang sedang direncanakan, apa yang telah sementara dilaksanakan, dan tujuan akhir apa yang hendak dicapai.

    Sebagai pemegang mandat tertinggi dalam mewujudnyatakan harapan warga di ibu kota ini, Ahok sebagai gubernur di era dia tentu merasa punya kewajiban sangat besar terhadap perjuangan mewujudkan apa yang dibutuhkan warganya. Memikul serta menjalankan marwah di pundaknya, tidak lain dengan bekerja sungguh-sungguh dan selalu transparan. Warga dapat mengikuti dengan jelas dan transparan. Ini penting. Pondasi membangun kota, membangun warga memang harus dibangun atas dasar keterbukaan dan kepercayaan, lain tidak.

    Semua rapat diliput dan disiarkan di channel Youtube Pemprov DKI. Tidak ada yang disembunyikan. Balaikota pun terbuka untuk umum. Anda ingin melihat-lihat ‘isi perut’ balaikota, dipersilahkan. Begitu juga jendelanya serba tembus pandang, Anda boleh melihat ke dalam tanpa ada satu benangpun yang menghalangi pandangan mata Anda.

    Sekarang, di Era Anies. Semuanya mendadak berubah. Lain pemimpin lain kepemimpinan tentu saja. Kita semua mahfum hal itu. Tetapi sadarkah kita bahwa gaya dan cara menentukan sikap dan pandangan orang lain terhadap gaya dan cara kita memimpin?

    Hari ini semuanya menjadi serba tertutup. Rapat-rapat tidak pernah lagi disiarkan. Tidak ada transparansi terhadap apa yang dikatakan, dibicarakan, dan hendak dilakukan. Ketidaksinkronan antara janji dan tindakan nyata dalam mewujudkan janji pun menjadi tak jelas batasnya. Abu-abu. Tersembunyi. Warga tak diberi ruang mengikuti.

    Jakarta kehilangan transparansi. Semua ‘permainan’ terselubung pasti akan amat sulit dilacak atau diketahui publik. Orang bisa seenak perut nilep sana sini, majak sana sini, minta upeti sana sini. Tidak ada kontrol keterbukaan di sana. Apa-apa sekarang serba tertutup.

    Jangankan hal-hal yang besar, semisal penggelembungan rancangan anggaran APBD yang bertambah 7 triliun itu, untuk hal kecil saja tidak ada keterbukaan kok. Balaikota saja sudah ditutup sangat rapat dengan gordin tebal sehingga tak ada warga yang sanggup melihat ke dalam. Kenapa harus ditutup rapat? Jangan-jangan ruang tamu mau dipakai untuk tidur ya? Hayooooo ngaku…. Hahahaha.

    Kita pantas mengucapkan selamat jalan keterbukan, selamat datang ketertutupan. Sementara era arus informatika yang semakin canggih dan semakin terbuka datang menyapa dunia kita, eeh justru pemimpin DKI lebih suka menonjolkan ketertutupan.

    Kita kehilangan transparansi layaknya jaman Ahok, yang tak jarang membelalakkan mata kita. Dia begitu berani terbuka untuk semua hal, bila itu berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Bila itu berkaitan dengan kepentingan orang banyak, Ahok amat sangat terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Bahkan apapun yang Anda tanyakan, akan ia jawab secara terbuka, spontan dan tanpa diatur-atur.

    Wartawan bebas bertanya apa saja dan akan ia jawab apa adanya. Sekarang wartawan kayak ‘terpasung’, semuanya terbatasi dan tak bisa mendapatkan informasi sempurna. Tertutup.

    Bahkan, bila dulu warga bebas menyampaikan keluhan-keluhan mereka secaras terbuka dan langsung face to face dengan Gubernur di teras depan balaikota. Kini hal itu tak dijumpai lagi.

    Artinya begini, ketika Ahok membuka diri dalam segala keterbukaan mendengarkan dan secepatnya memberikan solusi terbaik bagi warga yang datang membawa keluhan atas berbagai persoalan mereka, gubernur sekarang malah menutup diri rapat-rapat. Tak siap dan tak mau mendengarkan warga yang datang mengeluh. Jangan-jangan hanya disuruh bersabar. Kalau hanya sebatas itu, saya juga bisa. Sampai kiamat tiba, persoalan tak terselesaikan, dan yang bersabar tadi kemungkinan sudah mati bersama kesabarannya.

    Padahal, kehebatan serta kehormatan seorang pemimpin tidak bergantung pada seberapa pintar ia berkata-kata. Tetapi sangat bergantung pada seberapa lihai dia menyelesaikan persoalan warga yang dia pimpin. Seberapa berani dia untuk terbuka dan tak menutup-nutupi banyak hal.

    Anda boleh memiliki kemampuan berbicara dengan seribu lidah, tetapi kalau hasil kerjamu NOL BESAR, maka dapat dipastikan segala kehormatanmu akan menguap tanpa bekas dari hati warga. Percayalah. Nasi bungkus pun rasanya tak sanggup membayar rasa yang sudah menguap itu.

    Hari ini kita memasuki era ketertutupan. Awan gelap mulai menyelimuti kita. Euforia bermanis bibir tak dinyana telah meracuni sebagian kita. Tak sedikit yang ikut mabok kata-kata. Hanya pintar bicara tapi nihil dalam hal bekerja. Padahal banyak bicara namun nihil bekerja inilah yang sangat dibenci Jokowi. Era ketertutupan yang dibalut manis dengan kesibukan menata kata sudah hadir di zaman kita. Hadiah terburuk?

    Kalau sudah begitu, apa kata dunia?

    Nggak perlu ditanya lagi!

    Bukan begitu kura-kura?



    Penulis   :   Michael Sendow   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ahok – Anies; Keterbukaan Vs Ketertutupan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top