728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 23 Oktober 2017

    #Warta : Taktik Licik Anies Keluar Dari Bayang-Bayang Ahok

    Menjadi tugas maha sulit bagi Anies untuk keluar dari bayang-bayang Ahok. Jika bukan karena ambisi politik yang sudah di ubun-ubun, orang mungkin akan berpikir dua ratusan kali sebelum memutuskan untuk menjadi gubernur menggantikan Ahok. Tapi ambisi politik terkadang bisa mengalahkan akal sehat.

    Dengan bekal pendidikan yang tinggi, Anies punya banyak cara untuk keluar dari bayang-bayang Ahok. Siapapun tidak akan senang ketika terus dibanding-bandingkan dengan gubernur sebelumnya, apalagi jika tidak mampu menampilkan kerja hebat seperti pendahulunya.

    Ada dua cara untuk keluar dari bayang-bayang Ahok, yaitu cara positif dan negatif. Cara positif adalah dengan menampilkan prestasi yang lebih hebat dibanding Ahok. Jika Anies mampu melakukan ini, tentu sangat bermanfaat untuk warga Jakarta. Saya yakin Anies akan segera mendapatkan tempat di hati masyarakat. Ahok mulai bisa dilupakan. Tapi apakah Anies mampu melakukan ini ? Jika melihat jejak rekam Anies, saya tidak yakin. Dipecat dari jabatan menteri pendidikan menjadi deskripsi bagaimana kapasitas Anies sebenarnya.

    Jika gubernurnya bukan Anies pun, sepertinya berat mengikuti standar kerja tingkat tiggi yang telah Ahok canangkan. Ahok memang menjadi fenomena. Sosoknya mampu menarik media-media baik nasional maupun internasioal untuk memberitakannya. Sudah menjadi rahasia umum jika ada sosok fenomena, maka semakin banyak pendengki dan orang yang ingin menjatuhkan Ahok. Seperti sudah menjadi kebiasaan di Indonesia sosok-sosok hebat seperti Habibi dan Gus Dur tidak bertahan lama dalam mempimpin.

    Merasa tidak bisa memilih cara positif untuk keluar dari bayang-bayang Ahok, mulai muncul gelagat licik Anies untuk keluar dari bayang-bayang Ahok. Anies mengerti betul betapa besar peran media. Jika Anies mampu mengendalikan media secara tidak langsung, misinya akan berhasil.

    Anies akan mencari celah dan sudut yang kebetulan belum bisa Ahok kerjakan karena Ahok tidak bisa menyelesaikan jabatannya. Selain itu, pekerjaan yang belum bisa dikerjakan oleh Ahok adalah sesuatu yang tidak urgen banget. Pekerjaan besar yang jauh lebih urgen telah Ahok kerjakan. Selain itu, sepertinya Anies akan berusaha untuk memperlihatkan kekurangan-kekurangan kecil ke publik, namun kehebatan Ahok tidak akan terlalu dibuka ke media. Ini sama saja Anies menggali kuburnya sendiri. Padahal, pemimpin sejati tidak akan menafikan kehebatan pemimpin sebelumnya. Belum ada seminggu, Anies mulai membuka ke publik tentang hal-hal yang belum atau tidak dikerjakan oleh gubernur sebelumnya.

    Pertama, Anies-Sandi menyempatkan hadir sekaligus membuka acara Tea Walk KORPRI DKI Jakarta. Keduanya juga memboyong anak dan istrinya dalam acara tersebut. Kebetulan menurut Sekda DKI, gubernur sebelumnya tidak ada yang hadir dalam Tea Walk KORPRI DKI Jakarta. Namun Sekda tidak tahu alasannya. Meskipun belum jelas alasan gubernur sebelumnya tidak menghadiri acara Tea Walk KORPRI DKI Jakarta, namun berita ini sudah mampu membuat persepsi buruk masyarakat terhadap gubernur sebelumnya. Seolah-olah Anies yang peduli dengan pegawai ASN di DKI. Media pun tidak ketinggalan untuk memberitakan kehadiran Anies dalam acara tersebut.

    Untuk semakin mempermanis pemberitaan, Anies seperti biasa menyisipkan kata-kata bijak. Anies sedang memperkokoh citra diri sebagai seorang yang santun, peduli, bijaksana, serta sederet sikap baik yang lain.

    Anies mengatakan hadirnya pemimpin dalam kegiatan semacam ini sangat penting untuk membangun solidaritas internal Pemprov DKI. Kata Anies, di setiap wilayah permasalahan aparatur sipil negara (ASN) banyak jenisnya. Mulai dari masalah integritas, kinerja, sampai kerja sama.

    Meskipun dengan bahasa yang halus dan tidak terang-terangan mengritik Ahok, namun pesan yang disampaikan Anies sangat jelas. Dia sedang membangun citra yang baik untuk dirinya, dan membunuh citra gubernur sebelumnya.

    Kedua, Anies berhasil membebaskan lahan milik bapak Mahesh untuk pembangunan proyek MRT. Tidak tanggung-tanggung hanya butuh waktu kurang dari satu jam saja. Media nasional pun memberitakan berita ini dengan judul yang terasa berlebihan, misalnya “Tak Sampai Sejam, Anies Bersepakat dengan Pemilik Lahan Haji Nawi” (kompas.com).

    Berita ini tentu membuat publik terpukau dan memunculkan persepsi yang bermacam-macam. Apalagi sebelum ini, dalam waktu yang cukup lama, Ahok tidak mampu melakukan kesepakatan dengan bapak Mahesh. Mulai muncul persepsi masyarakat bahwa Anies mampu melakukan pendekatan secara personal dari hati ke hati, halus, dan sopan. Berbeda dengan Ahok yang tidak kompromi, bicaranya cenderung kasar.

    Dari berita yang kemudian melahirkan persepsi, Ahok sedang berusaha untuk dijatuhkan citra baiknya. Anies paham publik tidak terlalu mementingkan bagaimana prosesnya, yang mereka tahu Anies mampu membebaskan lahan bapak Mahesh untuk pembangunan MRT dalam waktu kurang satu jam.

    Padahal, belakangan muncul kabar bahwa Anies memberikan ganti rugi hampir dua kali lipat dari yang Ahok dulu tetapkan untuk membebaskan lahan itu. Wajar saja jika bapak Mahesh mau dibebaskan lahan karena uang pengganti yang ditawarkan Anies sesuai yang diinginkannya. Kalau seperti ini, dimana letak kehebatannya?




    Penulis :   Saefudin achmad   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Taktik Licik Anies Keluar Dari Bayang-Bayang Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top