728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 03 Oktober 2017

    #Warta : Survey Median, 63,8 Persen Tidak Milih Jokowi, Prabowo Naik, Gatot Hanya Penggembira

    Saya termasuk orang yang tidak terlalu percaya dengan hasil survey meskipun beberapa kali hasil survey hanya beda tipis dengan real count KPU. Selain karena hanya menggunakan sampel yang jumlahnya sangat sedikit, lembaga survey konon juga bisa dipesan. Hasil survey bisa sesuai dengan keinginan yang memesan. Hasil survey memang mampu mempengaruhi masyarakat. Bagi kelompok yang masih abu-abu dan bingung untuk menentukan pilihan, biasanya terpengaruh oleh hasil survey. Kelompok ini cenderung akan memilih calon yang menurut hasil survey memiliki elektabilitas tertinggi.

    Survey terbaru yang dilakukan oleh Median nampaknya mengonfirmasi bahwa upaya untuk terus menjatuhkan elektabilitas Jokowi mulai terlihat nyata. Isu-isu yang terus digulirkan dari mulai presiden boneka, rezim anti-Islam dan Ulama, hutang negara, antek asing, Pro China, hingga PKI seolah-olah berhasil menurunkan elektabilitas Jokowi..

    Media Survey Nasional (Median) merilis hasil survey terbarunya tentang kekuatan kandidat bakal capres pada Pemilu 2019. Median meneliti, berapa tingkat keterpilihan Jokowidan Prabowo Subianto jelang Pemilu 2019. Hasilnya, Jokowi sebagai incumbent memiliki elektabilitas teratas dengan 36, 2 persen. Disusul oleh mantan lawannya di 2014 yakni Prabowo dengan 23, 2 persen.

    Berikut ini hasil elektabilitas capres versi survey Median:

    1. Jokowi 36,2 persen
    2. Prabowo 23,2 persen
    3. SBY 8,4 persen
    4. Anies Baswedan 4,4 persen
    5. Gatot Nurmantyo 2,8 persen
    6. JK 2,6 persen
    7. Hary Tanoesoedibjo 1,5 persen
    8. Aburizal Bakrie (Ical) 1,3 persen
    9. Ridwan Kamil 1,2 persen
    10. Tri Rismaharini 1,0 persen
    11. Tokoh lainnya 4,1 persen
    12. Tidak tahu/tidak jawab 13,3 persen

    Jika dibandingkan hasil survey yang dilakukan oleh Kompas pada bulan April 2017,  elektabilitas Jokowi menurun agak drastis. Sebailknya, elektabilitas Prabowo justru naik meskipun tidak signifikan. Survey April 2017 menunjukkan 41,6 persen untuk Jokowi. Adapun Prabowo mendapat 22,1 persen.

    Elektabilitas Jokowi Mengkhawatirkan?

    Angka 36,2 persen memang belum aman bagi Jokowi. Bisa dikatakan 68, 2 persen tidak menginginkan Jokowi menjadi presiden di tahun 2019. Sejak april sampai September berdasarkan survey terjadi penurunan elektabilitas yang lumayan tajam. Artinya apa? isu-isu untuk memperburuk citra Jokowi yang dilakukan oleh Saracen semakin terstruktur, masif, dan sistematis. Hal ini yang patut dipertimbangkan oleh kubu Jokowi.

    Meskipun Jokowi berhasil melakukan maneuver terhadap isu yang menyerangnya, namun musuh tidak menyerah begitu saja. Segala kekuatan dikerahkan untuk bersama-sama memperburuk citra Jokowi.

    Angka 36, 2 memang cukup mengkhawatirkan. Namun sampai sekarang Jokowi tetap menjadi orang yang paling diinginkan menjadi presiden. Kandidat-kandidat lain masih tertinggal jauh di bawah Jokowi. Jadi saya masih tetap optimis Jokowi akan kembali menang di Pilpres 2019 asalkan timses Jokowi bekerja keras dan militant melawan serangan-serangan musuh lewat isu-isu.

    Elektabilitas Prabowo naik, Artinya Apa?

    Dibanding suvei kompas bulan april, Prabowo mendapat 22,1 persen. Saat ini,  menurut lembaga survey Median, Prabowo mendapat 23, 1 persen. Hasil ini bisa dibuat kesimpulan bahwa elektabilitas Prabowo sebenarnya naik meskipun tidak signifikan dan masih tertinggal dari Jokowi. Artinya apa?
    Prabowo mendapat ‘berkah’ dari isu-isu yang ditujukan ke Jokowi untuk menjatuhkan elektabilitasnya. Disaat elektabilitas Jokowi turun karena isu, maka elektabilitas Prabowo mendapat sedikit kenaikan. Meskipun sampai sekarang belum terbukti Prabowo terlibat Saracen, namun saya yakin Prabowo senang melihat elektabilitas Jokowi turun, sedangkan lektabilitasnya naik.

    Gatot Hanya Sebagai Penggembira

    Nama Gatot memang sempat dielu-elukan oleh kaum bumi datar dan sumbu pendek. Mereka terus menyuarakan bahwa Gatot adalah sosok yang pantas untuk bersaing dengan Jokowi. Nama Gatot terus meroket ketika dia mulai berani bersikap berseberangan dengan Jokowi. Hal ini mampu menarik dukungan orang-orang yang dari awal memang sudah benci dengan Jokowi. Media pun turut bermain mempopulerkan nama Gatot. Beberapa pakar politik dan lembaga survey turut meyakinkan masyaralat bahwa Gatot layak menjadi capres.

    Sebenarnya sudah hebat ketika nama Gatot mampu masuk ke bursa survey. Bahkan menempati peringkat kelima. Namun dengan angka yang hanya 2,8 persen, sepertinya Gatot hanya menjadi penggembira saja dalam perhelatan Pilpres 2019. Meskipun sempat dielu-elukan, namun fakta tidak bisa dibantah. Wacana Gatot pantas bersaing dengan Jokowi hanya opini, sedangkan faktanya bisa jadi sebaliknya.

    Sekarang kita bisa melihat, nama Gatot perlahan meredup seiring dengan meredupnya isu PKI. Sejak Jokowi ikut nobar film G30 S PKI, musuh seolah-olah dibuat tak berdaya hingga tak mampu berkata apa-apa. Isu PKI berhasil dikebiri oleh Jokowi, pun dengan popularitas Gatot.




    Penulis :  saefudin achmad    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Survey Median, 63,8 Persen Tidak Milih Jokowi, Prabowo Naik, Gatot Hanya Penggembira Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top