728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 21 Oktober 2017

    #Warta : Selain Rasis, Inilah 5 Hal yang Menyingkirkan Anies dari Peta Politik Nasional

    Sejak pidato rasis Anies digemakan, sontak jagad politik Indonesia ternganga. Mulut jutaan warga pengikutnya meneriakkan apalagi kalau bukan ‘take a beer’. Mereka mengapresiasi strategi yang mereka pikir pas dan cocok: rasisme, intoleransi, dan perpecahan. Namun, sesungguhnya pidato Anies itu juga membuka hal yang harus dibuka yakni kedok niatan dan strategi kejahatan politik dari gerakan Islam radikal yang menjadi aliansi Anies seperti FPI, FUI, HTI, misalnya.

    Pidato Bodoh Menelanjangi Diri

    Pidato Anies dianggap strategis. Betul. Namun di balik itu sebenarnya strategi itu menunjukkan kebodohan analisis Anies. Dia terjebak ke dalam euphoria kemenangan kampanye yang menggunakan ayat dan mayat di Pilkada DKI 2017. Anies berpikir bahwa dengan menggunakan sentiment RAISA (ras, agama, intoleransi, suku, dan antargolongan) maka jalan menuju ambisinya menjadi presiden RI akan terpenuhi.

    Sebaliknya, dengan pidato itu, posisi Anies semakin telanjang di perpolitikan nasional. Posisi ideologinya pun makin terkuat lebar – meskipun sebelumnya juga sudah dipahami oleh publik. Berbagai pertemuan antara Anies dengan pentolan FPI, HTI, dan kalangan Islam radikal lainnya, sebelum dan sesudah dipecat oleh Presiden Jokowi karena tidak becus dan diragukan integritasnya, menunjukkan dengan jelas peta jalan ambisi dan ideologi Anies Baswedan.

    Maka dengan menyampaikan pidato itu dengan jelas dia menelanjangi diri sendiri, dan sekaligus menciptakan segregasi dan perpecahan politik perkubuaan: politik identitas Islam radikal dan NKRI. Itu memang yang diinginkan dan masuk dalam blue print dan grand design strategi mereka.

    Dukungan Menyempit, Perebutan Konstituen dan Partai

    Dengan membuka diri seperti itu, harapan adanya dukungan meluas menjadi semakin menyempit. Teriakan orang waras dari luar Jakarta menyatakan bahwa Indonesia bukanlah Jakarta saja. Indonesia sama sekali bukan seperti yang digambarkan oleh Anies.

    Cara menyampaikan fakta yang dipelintir terkait kolonialisme bahwa hanya Jakarta atau Batavia yang merasakan kolonialisme adalah cara khas kelompok Bumi datar menyampaikan informasi penuh tipu daya, memotong, mengedit, memelintir, dan bohong – dengan menyampaikan sepotong kebenaran dalam framing kebohongan yang lebih besar.

    Anies adalah salah satu gambaran persis jutaan orang yang dianggap intelektual namun sesungguhnya akibat cuci otak entah di HMI, atau atas pengaruh Jusuf Kalla, dia menjadi bagian dari irrasionalitas, ketidakrasionalan, nirrasio, sehingga dirinya menjelma menjadi bagian dari kaum: Bumi datar, celana cingkrang, daster Arabia yang mendukungnya.

    Perpecahan antara kubu Islam radikal dan pendukung NKRI itu sama sekali tidak menguntungkan bagi Anies. Posisi bipolar politik antara pendukung Prabowo dan Jokowi pun sontak berubah. Perubahan itu memengaruhi dan memecah dukungan bagi Prabowo.

    Sesungguhnya para pendukung Prabowo adalah sama dengan para pendukung Anies. Hal ini semakin menjadikan mereka politikus rongsokan karena mereka hanya berperang sendiri di lingkungan sempit memerebutkan mini opposition yakni PAN, Gerindra, Demokrat, dan PKS. Celakanya Anies kemungkinan hanya akan didukung oleh partai agama PKS dan mungkin PAN – yang tidak mencukupi untuk maju nyapres di 2019.

    Maka, menyempitlah kesempatan itu, dan terjadilah perebutan konstituen yang sama antara tiga kubu: Anies, Prabowo, dan Agus. Dua yang disebut terakhir memiliki modal partai gurem – sementara Anies bermodal ormas Islam radikal seperti FUI, GNPF, FPI dan bekas HTI.

    Kalangan TNI, Polri, dan Purnawirawan Jauhi Anies

    Atas dasar pidato rasis Anies itu, dipastikan kalangan TNI dan Polri dan masyoritas para purnawirawan menjauhinya. Jika mendukung paling ya yang sudah tidak memiliki posisi tawar seperti Kivlan Zen dan yang disebut di Saracen si Iwan itu paling. Lainnya tunggang langgang kalau tidak mendukung Jokowi ya sebagian lari ke Prabowo dan juga yang punya dana besar Agus.

    Artinya, siapapun yang maju ke RI-1, tanpa dukungan kuat kalangan TNI dan purnawairawan sebagai kelompok influencer, dia bakalan kalah, tersingkir dan terbuang. Prabowo kalah dari Jokowi antara lain juga karena dukungan mayoritas manusia normal dan peran purnawirawan yang mendukung Jokowi. (Kekuatan TNI, Polri dan purnawirawan ini begitu nyata, sehingga manusia seperti Fadli Zon pun tidak akan pernah berani mengriktik TNI dan Polri serta gerbong panjang mereka.)

    Kinerja Bobrok di DKI

    Selain itu, kinerja bobrok penuh tipu muslihat seperti rumah DP nol , bisnis dimodalin, bebas berdagang di trotoar, taksi terbang, membangun tanpa menggusur, dan ketidaktulusan mengabdi kepada rakyat, akan menjadi pisau yang akan merobek dan menghempaskan Anies ke jurang kegagalan dan sampah politik akibat ideologi dan kejahatan politik identitas Islam radikal yang dia anut.

    Faktor internal hubungan antara Anies dan Sandi pun akan terpecah-belah. Faktor Anies yang menjadi gubernur tanpa modal sama sekali – dengan Sandi menyumbang Rp 67 miliar, akan meretakkan hubungan mereka. Apalagi kenyataan bahwa Sandi tampak akan disingkirkan dalam kaitan kesepakatan bisnis yang luar biasa.

    Selain itu, tuntutan para pendukung Islam garis keras pun menyulitkannya. Betapa tidak, janji kampanye untuk buruh bergaji Rp 7 juta akan menyulitkannya. Belum lagi para anggota DPRD yang memainkan soal reklamasi yang ingin retribusi 5% atau 10% atau di bawah 15%, sementara pengembang pada masa Ahok telah menyetujui angka 15%, akan memicu pertarungan antara Anies dengan para dewan yang tengah menunggu durian angka Rp 50 triliun.

    Ketiga hal di atas akan merusak kinerja dan konsentrasi di samping ambisi pribadi dan ketidakmampuan bekerja Anies dan juga Sandi si anak mami manis.

    Tidak Dihitung di Percaturan Politik

    Dengan paparan di atas maka dipastikan Anies akan terhempas dari peta politik Indonesia. Terlebih lagi secara pribadi dia sesungguhnya bukanlah siapa-siapa. Kemampuannya hanya retorika omong kosong. Omong doang. Presiden Jokowi dan rakyat Indonesia pernah membuktikan ketidakmampuannya yakni menghitung dana sertifikasi sekitar Rp 20 triliun dan skandal pameran buku Frankfurt Rp 147 miliar.

    Aliansi Anies dengan kalangan Islam radikal yang dipimpin oleh Rizieq si tersangka chat cabul mesum selangkangan berlendir adalah bukti rasa frustasinya. Akibatnya kalangan nasionalis pencinta NKRI, TNI, Polri, NU dan mayoritas bangsa Indonesia akan menyingkirkannya. Parpol pun juga akan menjauhinya. Jadi, intinya Anies tidak usah direken. Dan … di kalangan politik tingkat tinggi pun Anies tidak menjadi bahasan sama sekali. Dia tidak dianggap. Demikian the Operators. Salam bahagia ala saya.



    Penulis :   Ninoy N. Karundeng    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Selain Rasis, Inilah 5 Hal yang Menyingkirkan Anies dari Peta Politik Nasional Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top