728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 22 Oktober 2017

    #Warta : Sejak Kapan Klan Baswedan Itu Asli Pribumi?

    Pilkada DKI telah usai, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno telah resmi dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Namun pelantikan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta justru membuka pintu masuk sentimen anti-Cina dengan isu pribumi-non pribumi.

    Ditangan Anies, isu pribumi dan non-pribumi seolah-olah tiba-tiba bangkit lagi dari kubur dan timbunan sejarah kelam. Sentimen yang telah ada sepanjang Republik ini berdiri yang terus menjadi api dalam sekam.

    Api dapat berkobar menjadi jilatan api yang membakar begitu disulut oleh sentimen rasis yang ditunggani oleh politik kepentingan Anies Baswedan.

    Padahal fakta membuktikan bahwa dalam sejarah politik Indonesia, belum pernah ada kepala daerah yang sesukses Ahok dalam mengelola pemerintahan.

    Ahok adalah satu-satunya kepala daerah di negeri ini yang berani melawan DPRD dengan menolak anggaran yang diusulkan oleh DPRD sehingga Ahok bisa menyelamatkan uang rakyat sebesar 12 trilyun.

    Karena keberaniannya itu, Ahok hampir tumbang ditengah jalan kehilangan jabatannya. Selain itu Ahok juga sukses melakukan berbagai terobosan-terobosan spektakuler seperti program E-Budgeting sehingga penggunaan uang negara pun menjadi transparan.

    Tidak ada lagi pungli dalam mengurus surat apapun di kelurahan maupun kecamatan, begitu juga dengan pembangunan infrastruktur tanpa menggunakan sepeserpun APBD DKI.

    Jika mau dirunut satu per satu semua prestasi Ahok selama ini tentu saja tidak akan muat dalam artikel ini. Masih banyak prestasi Ahok lainnya, mulai dari membersihkan sungai dan mengurangi banjir yang merupakan momok penyakit di Jakarta.

    Ahok juga bangun Masjid, mengumrohkan para pengurus Masjid, menggratiskan PBB rumah rakyat kecil, membentuk pasukan oranye dengan gaji UMR DKI Jakarta, dan masih banyak lagi.

    Ahok memang hadir untuk membawa perubahan yang lebih berwarna bagi warga DKI Jakarta. Jika mau bicara jujur, harusnya Ahok yang menang mutlak dalam Pilkada 2017, jika pihak Anies Baswedan tidak memainkan isu ras dan agama dengan mempolitisisasi ayat Al-Maidah.

    Dalam konteks pribumi dan non pribumi, Anies Baswedan juga bukan pribumi asli karena dia adalah WNI keturunan Arab dari klan Baswedan. Kalau Anies Baswedan koar-koar menganggap dirinya sebagai pribumi sedangkan Ahok tidak, pertanyaannya sejak kapan klan Baswedan itu asli pribumi Indonesia?

    Baswedan itu adalah nama sebuah marga keturunan Arab-Hadramaut di Yaman. Umar Baswedan bersama saudaranya Ali Baswedan datang dari Hadramaut Yaman sekitar pertengahan abad ke-19 Masehi.

    Mereka datang ke Indonesia untuk berdagang. Umar Baswedan kemudian menikah dengan wanita kelahiran Surabaya bernama Noor binti Salim.

    Anies Baswedan bisa menang dan terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta karena lihai memainkan isu SARA. Contoh nyata yang tidak dapat dipungkiri, baru sehari menjabat sebagai Gubermur DKI Jakarta, Anies sudah menimbulkan kegaduhan yang luar biasa dan perpecahan dalam masyarakat.

    Setelah dilantik di Istana, Anies Baswedan disambut oleh kaum bumi peang dengan spanduk bertuliskan Kebangkitan Pribumi Muslim. Banyak orang yang marah dengan ulah busuk Anies Baswedan di hari pertamanya dia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

    Spanduk dan pidato Anies Baswedan ini bukan suatu kebetulan, tapi memang sudah dirancang jauh hari sebelumnya untuk tujuan tertentu. Politisasi isu pribumi muslim seperti ini akan terus dimanfaatkan oleh Anies Baswedan selama lima tahun kedepan untuk menutupi ketidakmampuannya.

    Sebagai pemimpin yang baru, bukannya dia mempersatukan warga DKI Jakarta yang terpolarisasi akibat pilkada SARA 2017 di DKI Jakarta, malah justru sengaja memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa NKRI.

    Kalau pemimpin tidak bisa menjaga mulutnya seperti si Anies Baswedan ini, maka apa yang bisa diharapkan dari pemimpin yang suka buat onar dan lihai bersilat lidah? Kasihan bangsa ini, ribut melulu di tangan Anies yang sengaja terus membahas perbedaan.

    Hancurnya keberagaman dan rusaknya tenun kebangsaan di Jakarta saat pilkada DKI Jakarta yang masih mewabah hingga hari ini, disadari Anies atau tidak, terjadi demi pemenangan dirinya. Ini fakta.

    Sebagai pemimpin baru di DKI Jakarta, tentu saja Anies Baswedan punya segudang tanggung jawab politik. Tidak hanya untuk mengarahkan Jakarta seperti slogan mereka, maju kotanya bahagia warganya.

    Akan tetapi Anies pun juga harus bertanggung jawab penuh atas apa yang telah dia perbuat selama masa pilkada DKI Jakarta, yaitu merajut kembali tenun kebangsaan yang telah dia robek-robek sendiri tanpa ampun.

    Kursi Gubernur yang kini Anies duduki membuatnya harus menghadirkan wajah Jakarta seperti slogannya mereka dulu. Warga DKI yang menitipkan amanah di pundaknya butuh makan, bukan status pribumi atau non pribumi.

    Namun Gusti ora sare karena pada akhirnya siapa yang benar akan tampak seperti emas murni. Masalah pribumi dan non pribumi itu bukanlah isu penting, yang paling penting adalah kerja yang tulus untuk kemaslahatan warga DKI Jakarta.

    Apapun manuver Anies, Ahok tetap yang terbaik. Hasil kerja dan prestasinya nyata, tidak nyolong uang negara. Sekalipun keduanya adalah etnis keturunan, Ahok jauh lebih pribumi dibandingkan dengan Anies.

    Kura-kura begitu.



    Penulis :  Argo    Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Sejak Kapan Klan Baswedan Itu Asli Pribumi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top