728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 29 Oktober 2017

    #Warta : SARA, Radikalis, Khilafah, Gaduh, Masihkah Anda Netral?

    Singkat saja, aku ingin menuliskannya!

    Bagaimana menurut anda dengan kata "Netral" ditengah kegaduhan politik saat ini?

    Mau kiri atau mau kanan, harus diakui bahwa isu rasisme dan primordial adalah kenyataan yang ada ditengah masyarakat saat ini. Sejak dulu pejabat atau pun pemimpin dari Nasrani pun etnis China seperti menjadi monster yang menakutkan. Saya jadi teringat dengan Soe Hok Gie di era dulu yang dicatat sejarah dan Basuki di era sekarang, perjuanganya banyak dinikmati mayoritas Nusantara.

    Soe Hok Gie harus berujung dengan kesepian, dan Basuki berujung dengan penjara. Gie dicap "Tjina Kecil" dan Ahok dicap "kafir". Jika kita mau jujur, mana yang lebih banyak dibangun Basuki, Masjidkah? atau Gerejakah? Lalu dia disebut memusuhi muslim (Versi Ormas fundamental pun konservatif), lalu liat juga Gie, ikut organisasi nasranikah?atau muslimkah?, atau mendirikan organ sendiri yang anggotanya ada muslim dan ada nasrani?

    Apa yang terjadi bukan islamisasi tapi Arabisasi sekaligus ekspansi culture Wahabi yang dipaksakan.

    Hemat saya para tokoh agama atau pun imam ormas keagamaan masih banyak yang belum berdamai dan selesai dengan dirinya sendiri, yang sejatinya dapat menjadi tauladan untuk kemaslahatan umat, malah menciptakan "teror" untuk kepentingan politik praktis dan menggapai kepentingan populis bak selebritis.

    Harus diakui bahwa Rasisme adalah kenyataan yang senyata-nyatanya di negeri ini, bahkan dibentuk secara terstruktur, teroganisir dan massive hingga mewacana. Hal ini sudah ada sejak Orba yang amat takut dengan komunisme dan Tionghoa. Hingga Stereotipe negatif pada etnis tertentu makin "menjadi". Dan menjadi alat dalam menciptakan Kegaduhan politik.

    Tahun depan adalah tahun politik. Masyarakat akan tetap dijejali dengan kegaduhan politik yang mengangkat Rasisme dan isu Primordial yang dibungkus dengan agama. Di ruang yang sama para elite politisi tetap berlomba untuk hal-hal yang kontroversial. Kontroversial yang kontraproduktif seperti menjadi ideologi baru yang amat digemari. Maka tidaklah keliru jika seorang filsuf seperti Nietszche menggores pikirannya tentang konsep kehendak.

    Saya sering mendengar kata seperti "saya netral". Hemat saya watak kolonial dan teror SARA di depan mata masih teriak netral adalah bullshit. Mengingkari nurani sendiri, sadar akan situasi, sadar dengan apa yang terjadi dan tentu tahu betul mana yang harus didukung dan mana yang harus dilawan. Netral lebih kepada tempat "persembunyian".

    Melihat situasi politik yang gaduh tidak berkesudahan dengan isu-isu yang memuakkan yaitu SARA, tentu kita harus berani untuk keberpihakan, yang tentunya berpihak pada kebenaran, kalau sudah menyangkut Rasialis, radikalisme, isu pribumi, watak kolonial yang kemudian dibalut agama hingga mengibarkan slogan kolonial "pecah-belah kuasai", apakah hal demikian tidak cukup menjelaskan bahwa negeri ini sedang diserang, bukan dengan senjata tapi lebih kepada hegemoni kepala, lantas apakah kita masih teriak "saya netral". Aku tak mau memilih demikian, dan aku memilih untuk "melawan".

    Melawan disini bukan dengan jotos, banyak cara, seperti menjaga diri untuk tetap "waras", mengingatkan, merangkul sesama dengan cara beropini, menulis, berdiskusi, membaca, tidak mudah terprovokasi, dsb, serta menolak keras segala bentuk SARA dan yang hendak mengganti Pancasila.

    Ironisnya yang teriak netral ini dikalangan intelektuil pun pengamat. Saya jadi ingat seorang filsuf yaitu Hegel yang memandang bahwa realitas bukan lah suatu hal yang sederhana melainkan sistem yang rumit. Apa yang dipikirkan Hegel berdasar jika dibenturkan dengan realita yang terjadi.

    Netral bukan berarti objektif, tidak sama. Situasi yang terjadi SARA sudah digaungkan oleh ormas fundamental dan elite politisi yang berkolaborasi dengan para tirani serta antek-antek yang pernah menjadi bagian Orba dengan watak kolonial (pecah-belah kuasai).

    Aku tak mau netral dengan situasi saat ini, karena kegaduhan politik yang terjadi telah memecah belah bangsa ini, dan aku lebih memilih untuk bersama orang-orang yang tertindas disudutkan dalam Ras, dikebiri hak politiknya, untuk melawan sekaligus menolak mereka yang mengibarkan SARA dengan dibumbui agama yang dijadikan pembenaran dengan menegasikan kontekstual.

    Saya tekankan sekali lagi bahwa netral bukan berarti Objektif. Tuh lihat ada partai yang teriak netral, tapi praktiknya (?). Ada konteksnya untuk netral, jika SARA, radikalisme, khilafah dan watak kolonial antek-antek bekas Orba sudah makin bergaung, apakah anda masih teriak netral? Bung Karno, Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka tidak mungkin memerdekakan bangsa ini jika tidak "Melawan" dan berpihak pada kebenaran.

    Akhir kata dari tulisan yang carut marut ini, dengan kata yang berulang dan beragam typo yang labil serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, menyatakan bahwa ditengah kegaduhan politik saat ini dengan isu SARA, netral bukan lagi sebuah pilihan, berpihaklah pada kebenaran, tidakkah nuranimu terusik melihat keadilan sosial, hak politik, diukur berdasarkan Ras. Berpihaklah pada Kebenaran dan Kemanusiaan.

    Salam Sumpah Pemuda.




    Penulis :  Losa Terjal    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : SARA, Radikalis, Khilafah, Gaduh, Masihkah Anda Netral? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top