728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 04 Oktober 2017

    #Warta : Rizieq FPI, Amien, Fadli Zon, Kivlan, Isu PKI Singkirkan Prabowo dari Pilpres 2019

    Fadli Zon panik. Prabowo semakin hari makin memudar. Junjungannya tenggelam dari kancah politik. Dapat dipastikan dia tersingkir dari konstelasi politik Indonesia. Kini dia tidak lagi dianggap sebagai kekuatan politik Indonesia. Tentu hengkangnya dukungan para politikus terhadapnya sangat beralasan dan sahih.

    Para politikus yang waras akhirnya sadar,bahwa Prabowo sesungguhnya bukan siapa-siapa, hanya besar mulut tanpa bukti. Andalannya adalah strategi kampanye pencitraan – yang akhirnya mendapat perlawanan setimpal dengan strategi penyusupan. Kehancuran dari strategi dari dalam sendiri.

    Ambisi Pribadi

    Awal dari terbuangnya Prabowo dari kancah politik Pilpres 2019 justru datang dari dirinya. Dia begitu berambisi menjadi presiden dengan segala cara setelah begitu terseok-seok selama 15 tahun. Dia berpikir memiliki seluruh persyaratan untuk menjadi presiden. Kaya, pecatan militer, didukung 20 persen 15 persen purnawirawan jenderal TNI – seperti Kivlan Zen, memiliki partai Gerindra, dan dielukan sebagai pemimpin.

    Untuk memenuhi hasrat besar itu segala cara ditempuh. Sejak menjadi capres atau cawapres bersama Golkar, menggandeng Ibu Mega, sampai maju sendiri dilakukan. All out. Hasilnya keok, kalah, menyerah, tersingkir. Kekalahan ini disebabkan oleh salah satunya adalah strategi kampanye yang salah – meskipun sangat terorganisir. (Hal ini kami ungkapkan setelah perhitungan recovery bagi Prabowo tidak dimungkinkan sama sekali, setelah Prabowo dipastikan tersingkir dari Pilpres 2019.)

    Strategi Pe-me-ka-i-an ala PKI

    Salah satu strategi paling merusak Prabowo adalah menggandeng Islam radikal – puncaknya dibuktikan di Pilkada DKI 2017. Islam radikal yang dijadikan sandaran back bone alias tulang punggung Prabowo sebagai kendaraan politik identitas justru menghancurkannya. Gerakan Islam radikal yang mewujud dalam diri para manusia apkiran tak bermanfaat bagi bangsa Indonesia yang toleran.

    Muncul di sana Rizieq dengan FPInya. Ada Amien Rais. Hadir pula Fadli Zon. Mereka semua berteriak-teriak kesetanan untuk topik yang sama: PKI. Kebangkitan PKI. Neoliberalisme. Kapitalisme. Yahudi. Freeport. Palestina. Rohingya. Semuanya diperlintir untuk memojokkan Jokowi. (Sebagian termakan dan menjadi korban kampanye agitasi seperti ini baik lawan maupun kawan. Akan ditulis kemudian.)

    Juga kebencian terhadap etnis di Indonesia yang dikaitkan dengan isu RAISA (ras,agama,intoleransi,suku, antargolongan).Cara mengungkapkannya dengan menggunakan istilah Asing, Aseng yang benar-benar menunjukkan kebencian dan sakit akut. Semua muara itu diarahkan untuk mengarahkan kebencian kepada pemerintahan Jokowi – dan Ahok sebagai sasaran antara dalam strategi mereka.

    Untuk menjalankan strategi pe-me-ka-i-an terhadap Jokowi itu, sejak awal FPI dengan corong congor Rizieq menjadi ujung tombaknya. Namun, dasar seluruh bangunan strateginya bertumpu pada kebencian dan intoleransi yang dimulai dari Jokowi dan Ahok sejak 2012.

    Sejak 2014 Obor Rakyat membuat fitnah terkait dengan silsilah Jokowi yang dihembuskan sebagai tidak jelas. Jonru memutarbalikkan kata-kata penuh kebencian, yang mengantarkannya ke balik jeruji besi. Isu PKI itu terus dihembuskan sampai mencapai puncaknya logo BI dipelintir untuk membuat isu tentang PKI semakin besar. Selain itu jaringan Saracen yang dibangun oleh simpatisan Anies mengerucut memojokkan Prabowo, karena mereka simpatisannya.

    Dengan dana berasal dari dukungan tiga pilar yakni (1) rezim Orba, (2) rezim Reformasi yang terbajak, dan (3) rezim korup SBY. FPI pun menggalang dukungan dan dana untuk melancarkan kampanye anti Jokowi, anti Ahok, intoleran, dengan memutarbalikkan semua hal tentang mereka. Semua adalah kesalahan Jokowi. Dan, FPI ini menjadi salah satu organ terpenting agitasi, propaganda, dan kampanye tentang PKI dan menyerang siapa saja yang terkait dengan Jokowi-Ahok.

    Strategi pemekaian dengan menuduh banyak pihak sebagai bagian dari PKI,seperti Arief Poyuono yang menuduh PDIP seperti PKI, adalah bagian dari gunung es strategi yang terbongkar karena kedekatan dengan Islam radikal seperti FPI, FUI, dsb. Survei menunjukkan bahwa isu berkembangnya PKI berasal dari para pendukung Prabowo. Nah.

    Pepesan Kosong Prabowo

    Salah satu ahli strategi politiknya yang paling depan itu adalah Fadli Zon, yang memiliki ideogi unik. Dia Islam persis seperti Yusril yang sesama pembesut PBB. Namun, keterkagumannya kepada Lenin, Marx, dan partai komunis tidak terbantahkan.

    Nah, untuk urusan taktik politik ini Prabowo dikendalikan oleh corong politik ngaco: Fadli Zon. Ide dan strategi Fadli Zon yang sejak awal menyimpan strategi bigot, kebencian, ketidaksenangan, ketidakharmonisan, yang bersumber kepada cara kampanye memecah-belah, diadopsi secara serampangan. Memang pada awalnya hasilnya sangat memuaskan.

    Kampanye Pilpres 2014 yang berhasil memolarisasi dukungan bagi Prabowo – dengan membuat agitasi, propaganda, dan pennghujatan secara halus dengan jargon kampanye Boneka dan Raiso Popo. Prabowo disuguhi tontonan nyaris menang di Pilpres. Kepada Prabowo disampailan bahwa strategi Fadli Zon hampir memenangkannya menjadi Presiden RI.

    Janji manis Fadli Zon ini terus didengungkan dengan memberikan gambaran bahwa Prabowo besar. Bahwa Prabowo leading. Bahwa Prabowo yang terkuat melawan Jokowi.  Semua itu didengungkan kepada bukan hanya pendukung namun kepada seluruh elit politik.

    Kesadaran Partai dan Elite Politik

    Di luar partai pendukung Jokowi, para partai seperti PKS, PBB, PAN, Demokrat, menjadi pendukung setia aliansi Prabowo-SBY. Para pentolan partai itu tersihir dan baru sadar bahwa sesungguhnya Prabowo tanpa dukungan para elit politik seperti mereka hanya akan menjadi apkiran politik. Dia akan gagal nyapres di 2019. Persyaratan untuk maju menjadi capres menurut UU Pilpres 2019 semakin membuat Prabowo semakin jauh maju ke Pilpres 2019.

    Apalagi Demokrat lebih dekat dengan PAN. Tinggal PKS yang pragmatis bersama Gerindra. PKS pun akhirnya merasa sia-sia mendukung. Lagi-lagi tersirat, dia tidak bakalan bisa maju nyapres 2019. Dia hanya menjadikan dirinya dilihat secara jelas sebagai pepesan kosong  dalam konstelasi dan kontestasi politik Indonesia sekarang sampai 2019.

    Konstelasi politik yang berubah dan perang strategi medsos oleh relawan Jokowi – dan sikap Jokowi yang terbuka menerima kritik senyap, tenang, dan cerdas dalam berpolitik – berhasil membalikkan keadaan. Prabowo dijauhi dan dibuang oleh para elite politik Indonesia karena memang tidak memiliki daya tarik selain koar-koar ngawur, seperti bantuan kemanusiaan bagi Rohignya disebut pencitraan.

    Lebih parah lagi Prabowo yang menggandeng Islam radikal membuat dukungan kepadanya baik dari partai maupun dari individu merosot tajam. Mereka masih mencintai Indonesia dan NKRI – bukan hanya ingin menaikkan dan memuluskan ambisi Prabowo. Akhirnya Prabowo tersingkir dari Pilpres 2019. Pasti. Sunnatullah. Keniscayaan. Salam bahagia ala saya.




    Penulis   :   Ninoy N. Karundeng    Sumber   :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Rizieq FPI, Amien, Fadli Zon, Kivlan, Isu PKI Singkirkan Prabowo dari Pilpres 2019 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top