728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 22 Oktober 2017

    #Warta : Perbedaan Menyedihkan Ahok dan Anies Sandi dalam Atasi Banjir


    Ahok

    Jadi kalau Jakarta pasang dan hujan terus menerus seperti ini, selesai 40%. Tenggelam Jakarta 40 persen. Kalau tengah masih bisa selamat, karena waduk Pluit kan sudah beres, walaupun sisi kanan belum selesai. Timur kita kerjain, Sentiong belum pasang pompa. Ini kan Sentiong naik, Sunter, kita sudah tidak boleh terima air dari Kelapa Gading lagi. Pulomas kena dikit karena Waduk Ria Rio sudah ndak bisa tampung air lagi. Cakung drain belum beres. Penuh karena ada ribuan rumah liar juga. Jadi masalah Jakarta Cuma itu.

    Gimana gedein, balikin ukuran sungai, tanggul ditinggiin. Pompa sudah siaga kita, pompa sudah baik. Ini hanya masalah kayak kamu punya gelas kecil ditimpa air gitu banyak, pasti luber kan, nah luber ini masuk ke bawah ini yang masalah. Gelasnya perlu dibalikin sesuai ukuran. Itu saja.
    Sumber Youtube

    Anies Sandi

    Potensi yang sangat besar… eee… menghadapi… e… isu banjir khususnya di 2017 dan awal 2018. Ini yang lagi kita siapkan.. ee.. karena sifatnya masih beiefing… eee.. terlihat banyak pr… eee… jadi kami… eee… masih melihat… eeee… begitu banyak… eeee… masalah yang insya Alloh bisa kita petakan satu per satu jadi mungkin itu dulu yang bisa kita sampaikan, karena belum ada… eee… solusi yang pasti inovatif…. eee… ini semuanya masih dilaporkannya masalah, masalah dan masalah… eeee.. saya dan Pak Anies… eee.. memberikan arahan eee… satu bulan dari sekarang mungkin eee… dinas-dinas yang terkait untuk bencana tersebut bisa melaporkan kesiapan...
    Sumber YouTube
    Rasanya semakin sulit bagi saya untuk berpindah hati dari Ahok kepada Anies Sandi. Baru saja beberapa hari saya mencoba tegar dan menerima fakta bahwa Anies Sandi sudah dipilih mayoritas warga Jakarta, namun melihat perbandingan kalimat semacam ini, saya sungguh sedih.

    Rasa tidak rela melihat kemenangan Anies Sandi kembali berkecamuk di dalam diri saya, tidak sedikit orang yang kecewa melihat kinerja Anies Sandi dalam beberapa hari ini. Bukannya kecewa, namun saya cenderung lebih ke arah marah dan sedih, melihat bagaimana arogannya manusia keturunan Arab melawan arah satu jalur dari Puncak menuju Jakarta. Kemacetan yang dibuat oleh jajaran pemprov DKI di Puncak.

    Hal ini membuat polisi pun geleng-geleng kepala melihat bagaimana cara pemprov DKI Jakarta di dalam bertindak. Lebih arogan dari Jokowi yang bahkan kadang melarang para paspampres dalam menyalakan strobo, sirine, rotator maupun membentak-bentak para pengendara lainnya untuk membuka jalan untuk dirinya.

    Mentalitas manusia keturunan Arab dan manusia super kaya ini menjadi sebuah contoh buruk bagi birokrat di Indonesia. Gubernur ibukota negara, bertindak seolah melebihi presiden RI. Setelah menyebut istilah terlarang pribumi, salah pakaian, diskresi seragam wagub, kemacetan 15 km di Puncak, dan akhirnya satu masalah ultimat bagi warga Jakarta, yakni banjir, secara tidak becus dijawab oleh Sandiaga Uno.

    Terlihat di samping Sandiaga Uno, Anies Baswedan, manusia yang jika hidup pada masa kolonialisme, masuk ke golongan Vreemde Oosterlingen ini, bermuka masam. Berbeda jauh dengan Ahok, dengan tegas menjawab satu per satu masalah yang ada dengan runtut, sistematis, dan teknis.
    Maafkan jika pada artikel ini saya mendukung statement Fahri Hamzah yang lagi in tune di dalam menasehatkan Anies untuk lebih berbicara teknis, ketimbang teoritis.

    Meskipun Fahri Hamzah “begitu”, namun ia bisa benar juga sesekali. Jika listrik pada rumah terkadang mengalami arus pendek, Fahri Hamzah pun terkadang bisa berpikir panjang juga untuk hal ini. Saya apresiasi dia.
    Jawaban-jawaban Sandiaga Uno dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam menjawab permasalahan inti Jakarta sangat berbeda, seperti langit dan bumi, jika tidak ingin dikatakan sorga dan neraka. Ngomong-ngomong, siapa yang sorga siapa yang neraka ya? Hahaha.

    Saya sebagai Ahoker begitu kecewa melihat bagaimana 58 persen warga Jakarta bisa salah memilih gubernur. Mereka memilih gubenur gabener. Se-gabener-gabenernya Ahok, lebih gabener jawaban Sandiaga. Kebanyakan eee* ketimbang isi.

    Bahkan setiap kalimatnya menunjukkan seolah-olah pemprov DKI Jakarta tidak bisa menyelesaikan masalah banjir dengan solusi yang inovatif. Padahal kita tahu bahwa di dalam janji kampanyenya, Anies mengatakan bahwa ia akan melakukan vertical drainage. Jangan-jangan ini bukan vertical drainage melainkan brain drainage? Sungguh keberpihakan sangatlah meresahkan.

    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis :  hysebastian    Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Perbedaan Menyedihkan Ahok dan Anies Sandi dalam Atasi Banjir Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top