728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 05 Oktober 2017

    #Warta : Miris, Negara Mayoritas Muslim Terbukti Lebih Doyan Korupsi Ketimbang Negara Kafir

    Saya percaya bahwa agama di seluruh dunia mengajarkan kebaikan. Saya percaya agama yang saya peluk (Islam) mengajarkan kebaikan. Saya juga percaya bahwa jika seluruh pemeluk agama menjalankan agamanya dengan baik, maka kehidupan akan sangat indah dan tidak akan ada kejahatan.

    Bahwa kemudian ada pemeluk agama yang melakukan kejahatan, itu hanya oknum. jangan salahkan agamanya, tapi salahkan orang yang mengaku beragama tapi tidak menjalankan ajaran agamanya.

    Sebagai seorang muslim, sedih rasanya membaca berita yang isinya berupa laporan dari lembaga Transparency International tahun ini memperlihatkan 57 negara mayoritas muslim lebih parah korupsinya ketimbang negara Barat atau kafir. Meski umat Islam mempunyai ajaran luhur seperti salat, puasa, pergi haji, membaca Alquran dan menjalankan sunnah Nabi, namun justru komunitas muslim di dunia dikenal sebagai yang paling korup.

    Dikutip dari laman Huffington Post pekan lalu, dari 176 negara yang disurvei soal korupsi, sepuluh negara dengan praktik korupsi terburuk terjadi di negara mayoritas muslim seperti Irak, Somalia, Afganistan, Libya, Suriah, dan Yaman. Orang boleh saja mengatakan negara-negara itu parah korupsinya karena tengah mengalami konflik atau perang. Tentu saja kondisi perang memang bisa membuat orang mengalami kematian, kelaparan, sakit, dan depresi. Apa pun dilakukan untuk bertahan hidup, termasuk korupsi.

    Namun pada kenyataannya korupsi juga terjadi di negara muslim yang tidak sedang mengalami konflik atau perang. Indonesia, Pakistan, Bangladesh, yang penduduk muslimnya secara total mencakup 30 persen dari umat Islam sedunia, termasuk parah korupsinya.

    Indonesia berada di peringkat 90, Pakistan 116, dan Bangladesh 145. Mesir yang dikenal sebagai negara rujukan hukum Islam dengan Al-Azharnya masih lebih korup ketimbang Indonesia, yaitu di peringkat 108. Nigeria, negara muslim di Afrika berada di urutan 136 bersama Libanon dan Kyrgyzstan yang juga mayoritas muslim. Iran yang menjadikan Islam sebagai bagian dari revolusi sosial dan ekonomi berada di peringkat 131, sementara rival utamanya, Israel ada di urutan 28.

    Terlepas dari benar tidaknya laporan tersebut, melihat realita di Indonesia, praktik korupsi di Indonesia memang terhitung mengkhawatirkan. Mirisnya, beberapa pelaku korupsi justru orang muslim yang tampilan luarnya terlihat religius. Mereka lah sejatinnya seorang penista agama. Mereka menjadikan simbol agama hanya sebagai tameng untuk menutupi kejahatannya.

    Tidak berlebihan jika Ahok mampu tampil mendobrak kemapanan para elit politik yang beragama Islam. Ahok yang seorang non-muslim justru tampil sebagai pejabat yang bersih, anti suap dan korupsi. Ahok berhasil menampar pejabat muslim yang ternyata melakukan tindak korupsi. Mengapa Ahok bersih karena Ahok menjadikan ajaran agama yang dipeluknya sebagai pedoman hidup. Sebaliknya, pejabat muslim yang korupsi tidak menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup, namun sebagai tameng untuk menutupi kejahatannya. Jika seperti ini, siapa yang sebenarnya menoda agama?

    Dengan realita seperti ini akan sangat berbahaya jika pola pikir kita masih kaku, tradisional, dan menganggap siapapun pejabat dan pemimpin negara, asalkan dia muslim. Bahkan kalau sampai muncul pemikiran bahwa pejabat muslim yang korupsi lebih baik dari pada pejabat non-muslim yang bersih karena dianggapnya pejabat muslim yang korupsi akan masuk surga.

    Jika pola pikir masyarakat masih seperti ini, maka jangan harap Indonesia akan menjadi negara besar, makmur, sejahtera, serta keadilan sosial benar-benar terwujud. Terlalu gegabah jika hanya memilih pejabat pemerintahan hanya melihat faktor agama. Melihat kompetensi jauh lebih urgen.

    Islam mengajarkan bahwa urusan yang diserahkan kepada orang yang berkompeten dibidang tersebut hanya akan membuat kerusakan. Islam tidak mengajarkan bahwa seluruh bidang seperti bidang pemerintahan diserahkan kepada orang Islam. Tidak semua orang Islam menguasai berbagai bidang. Meskipun dalam sejarah Islam pernah memiliki ilmuan-ilmuan yang hebat, namun realita pada saat ini, ilmu pengetahuan dikuasai oleh orang-orang yang notebene bukan muslim.

    Bebebapa ulama juga berpendapat bahwa boleh pemimpin administratif dalam pemerintahan negara diserahkan kepada non-muslim. Apalagi jika terbukti non-muslim tersebut memang berkompeten, bisa memwujudkan kesejahteraan rakyat, serta bersih dari korupsi, tentu sifanya lebih pantas dijadikan pemimpin dibanding orang Islam yang tidak memiliki kompetensi mengurus urusan adminsitrasi negara.

    Membaca berita ini membuat saya merindukan sosok Ahok yang non-muslim tapi bersih dari korpusi. Seandainya pejabat muslim di Indonesia meniru jejak Ahok, Indonesia mungkin akan menjadi anomali. Ketika Transparency International tahun ini memperlihatkan 57 negara mayoritas muslim lebih parah korupsinya ketimbang negara Barat atau kafir, Indonesia menjadi negara yang tidak termasuk karena tingkat korupsinya rendah. Hal ini jika pejabat muslim Indonesia meniru jejak Ahok.



    Penulis   :   saefudin achmad   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Miris, Negara Mayoritas Muslim Terbukti Lebih Doyan Korupsi Ketimbang Negara Kafir Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top