728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 20 Oktober 2017

    #Warta : Menyoal Ulang Ketaatan Berpancasila Anies Baswedan

    Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh pidato kontroversial Gubernur terpilih Anies Baswedan terkait ucapannya tentang pribumi dan non pribumi. Ucapan Anies sukses memantik perdebatan berkepanjangan seluruh kalangan yang memancing beragam intepretasi dan tuduhan SARA. Saya tidak akan mengkritisi konteks ucapan Anies tersebut. Namun, saya lebih tertarik menguliti bagaimana sebenarnya pemahaman sang penguasa terhadap ide-ide persatuan ditengah keberagaman di Jakarta.

    Dengan demikian bisa dipahami alasan munculnya ucapan yang meresahkan masyarakat tersebut dari bibir seorang Anies. Untuk itu, mari kita telusuri pikiran Anies dari ucapannya di pidato-pidato sebelumnya terkait keberagaman:

    "Kebinekaan itu fakta, karena itu tidak usah diperjuangkan. Ada yang mengatakan memperjuangkan kemerdekaan, kemerdekaan itu fakta, fakta itu diterima, bukan diperjuangkan. Yang harus diperjuangkan bukan kebinekaan, (tapi) persatuan di dalam kebinekaan, itu yang harus diperjuangkan"

    Demikianlah ucapan Anies dalam pidato kebangsaan di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (3/4/2017,lihat: https://news.detik.com/berita/3464138/anies-tak-usah-perjuangkan-kebhinekaan-tapi-persatuan ).

    Apabila mengutip ulang sambungan pidato tersebut akan semakin memperjelas bagaimana pemahaman Anies Baswedan terhadap keragaman di negeri ini. Pada intinya Anies menyebut terdapat kekeliruan konseptual jika ada yang mengatakan memperjuangkan kebinekaan, tapi langsung fokus pada sila ketiga yakni persatuan Indonesia. Lebih jauh Ia juga menyatakan penilaiannya tentang keberagaman di Jakarta, begini bunyinya:

    "Jakarta sebagai kota yang harus mempersatukan, tampaknya di Jakarta hari ini we have union in the action unity. Kita memiliki union kebersamaan, tapi kita tidak memiliki persatuan"

    Benarkah bahwa kita yang sadar dengan keberagaman tidak memiliki persatuan seperti yang diucapkan Anies? Faktanya, kita memiliki Pancasila sebagai warisan leluhur ideologi sejak negeri ini bersepakat berdaulat. Apakah Anies merasa Pancasila yang lahir lebih dari 70 tahun lalu dirasa sudah tidak relevan dengan masa kini? Atau ia sendiri menyangsikan fungsi Pancasila sebagai pengikat nasionalisme?

    Metanarasi Keberagaman

    Ideologi Pancasila adalah suatu gagasan yang spekulatif, namun bukan gagasan palsu, karena bukan dimaksudkan untuk menggambarkan suatu realitas melainkan merepresentasi hubungan imajiner antara individu dengan kondisi eksistensi nyatanya. Apa yang direpresentasikan bukan relasi riil, tapi relasi imajiner antara individu dengan suatu keadaan di mana mereka hidup didalamnya.

    Lebih jauh, metanarasi nasionalisme Bangsa Indonesia dibayangkan sebagai komunitas negara kekeluargaan ditengah keberagaman. Peran Pancasila sejatinya dipakai sebagai alat untuk mewujudkan nasionalisme masyarakat khayalan (imagined community) bernama Indonesia.

    Meminjam definisi nasionalisme dari Sejarawan Bennedict Anderson “it is an imagined political community that is imagined as both inherently limited and sovereign” (nasionalisme adalah sebuah komunitas berbayang yang dibayangkan sebagai kesatuan yang terbatas dan kekuasaan tertinggi). Makna berbayang karena anggotanya masing-masing hidup dari bayangan akan komunitas mereka yang saling tidak mengenal satu sama lain.

    Kebersamaan mereka dalam gagasan mengenai suatu bangsa dikonstruksikan melalui khayalan berupa ideologi yang menjadi materi nasionalisme. Dengan kata lain, nasionalisme Indonesia adalah sebuah nasionalisme bentukan melalui konsep ideologi Pancasila. Sebagai sebuah konstruksi imajiner, tentu saja Pancasila memiliki kelemahan.

    Misalanya saja nasionalisme Indonesia terbentuk dari adanya sebuah kesadaran akan identitas bangsa sebagai hasil konstruksi identitas diri versus kolonialisme-imperialisme. Pada perkembangannya, nasionalisme Indonesia juga diikat oleh suatu kesatuan bahasa, bahasa Indonesia. Lantas, seiring perkembangan zaman, masih mampukah nasionalisme jika hanya mengandalkan persamaan bahasa dewasa ini?

    Bahasa tentu saja tidak cukup sebagai prasyarat untuk mengisi ruang-ruang nasionalisme di era modernisasi. Kesatuan kultural dan kedaulatan politik merupakan dua elemen yang saling berkelindan memperkuat nasionalisme. Implikasi sebagai masyarakat multikultural, Indonesia jelas tidak menganut paham nasionalisme dalam artian kesamaan kultur. Kita memiliki pluralitas budaya dan etnis yang memustahilkan berbicara mengenai semangat kebangsaan atas dasar persamaan kultur karena justru akan menimbulkan kecenderungan munculnya etnosentrisme lebih besar.

    Nasionalisme Indonesia merupakan bentuk kedaulatan politik untuk mencapai kesatuan nasional yang terdiri atas kesatuan sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan, komunikasi dan solidaritas tersebut diinklusikan dalam nilai-nilai Pancasila dan direfleksikan dalam sila-sila yang terkandung didalamnya sebagai ideologi bangsa.

    Apabila ditinjau dari kacamata historis, berdasarkan pengalaman sejarah membuktikan Pancasila dapat mempersatukan segenap rakyat Indonesia. Nah, sampai disini kini kita sudah mulai memahami bukan? Apabila ucapan Anies menyatakan “Kita memiliki union kebersamaan, tapi kita tidak memiliki persatuan," adalah bentuk-bentuk lain pengingkaran terhadap kesaktian pancasila sebagai alat pemersatu bangsa yang coba dinegasikan oleh Anies Baswedan? Atau mungkin karena terlalu banyak membaca ribuan buku-buku akademis ia sampai lupa menghafal dan menghayati pancasila?

    Menghayati Pancasila

    Kita patut berduka, jika seorang pemimpin gagal menghayati persatuan yang ditawarkan oleh Pancasila. Apalagi untuk seorang yang pernah menduduki jabatan tertinggi sebagai Mendikbud, tetapi gagal memahami ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantara :”Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani“ ( figur seseorang pemimpin yang baik adalah mampu menjadi suri tauladan atau panutan, mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang–orang disekitarnya dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat).

    Jika diawal pelantikannya sebagai pemimpin saja Anies sudah bermain kata-kata yang jauh dari kriteria “menyejukkan” hati masyarakat. Lantas apa yang bisa diharapkan darinya? Oleh karena itu, menjadi wajar jika ia kemudian dilengserkan dari kepemimpinan di Kemdikbud.

    Bagaimana tidak? terhadap hal sepele semacam arti simbol pendidikan Tut wuri Handayani dan maknanya saja ia tak bisa memahami, apalagi memimpin dan mewujudkan visi-misi mulia Kemdikbud?

    Namun sebagai warga negara yang baik, kita tak perlu mengikuti segala ucapan pemimpin yang dinilai meresahkan. Ada baiknya kita sebagai warga yang dipimpin saatnya memberi contoh tauladan dengan maafkan saja kekonyolan pemikiran Pemimpin. Sehingga internalisasi nilai-nilai persatuan tetap harus kita jaga dalam relung hati masing masing.

    Kini, sudahkah kita sebagai warga negara Indonesia menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara? Apabila berterus terang kepada diri sendiri, dari Pidato Anies Baswedan kita belajar bahwa pelaksanaan pancasila sebagai dasar filsafat negara sebenarnya masih sangat mengecewakan. Dewasa ini kita melihat kehadiran gejala-gejala ke arah reduksi tersebut.

    Tantangan hari depan ideologi Pancasila adalah mampukah berfungsi memberi arah terhadap perubahan realitas itu dalam rangka merealisasikan proses pembangunan masyarakat? Apabila mengandalkan pengalaman historis berbagai bangsa, Pergantian ideologi bukan hal mustahil di sebuah negara (seperti di Eropa timur). Apabila perkembangan ideologi berjalan lamban biasanya menyebabkan ketegangan dalam interseksi karena kehadiran kesenjangan yang makin lebar antara pergerakan ideologi yang lamban memperbarui relevansinya dengan realita baru kehidupan masyarakat yang cepat prosesnya.

    Situasi Jet-lag semacam ini dapat mengakibatkan masyarakat dengan realita barunya berkembang sendiri meninggalkan ideologinya, karena ideologi itu dirasakan tidak lagi relevan dengan dirinya meskipun mereka masih berpura-pura mengakui dan menerimanya sebagai legislasi semu (pseudo-wetgeiving). Namun secara substansif ideologi terebut tidak lagi menjiwai realita baru kehidupan mereka. Oleh karena itu nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi tersebut kehilangan maknanya sebagai pengarah proses pembangunan.

    Bahaya tersebut dapat dihindari dengan memperkecil krisis interaksi antara ideologi dengan realita kehidupan masyarakat dengan cara internalisasi sila-sila Pancasila dikontekstualisasikan dalam praktik kehidupan nyata serta merangsang masyarakat untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru yang relevan sehingga Pancasila mampu menjiwai perkembangan zaman.

    Butuh rangsangan dari masyarakat terutama kalangan akademisi untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru yang tidak hanya tetap relevan tapi komunikatif dan solutif dengan realita perkembangan kehidupan mereka.

    Ingat, Persepsi yang salah terhadap ideologi Pancasila seperti mengembangkan persaingan yang tajam dan penuh kecurigaan yang anarkis, atau menjadikannya suatu dogma yang sempit, kaku dan beku dapat mereduksi ideologi menjadi alat kekuasaan totaliter yang menakutkan, Pancasila sebagai ideologi terbuka jelas tidak menghendaki hal demikian.

    Upaya mensistematisasi unsur-unsur nilai Pancasila sebagai ideologi dan mengintegralisasi dalam sistem pemikiran terpadu, koheren dan konsisten adalah proses yang memerlukan penanganan tekun serta komitmen seluruh masyarakat Indonesia.




    Penulis :  Siti Zainatul Umaroh   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Menyoal Ulang Ketaatan Berpancasila Anies Baswedan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top