728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 27 Oktober 2017

    #Warta : Mengapa Dedi dengan Emil Tidak Disandingkan?

    Eskalasi dukungan kepada Ridwan Kamil, sebagai cagub Jawa Barat pada pilkada serentak 2018, kian deras dalam hitungan hari. Setelah Selasa 24 Oktober 2017 lalu, PPP memastikan dukungannya, dua hari kemudian, tepatnya Kamis 26 Oktober 2017, giliran Golkar yang memastikan hal serupa.

    Sumber : http://nasional.kompas .com/read/2017/10/26/19265131/ppp-tiket-ridwan-kamil-sudah-terpenuhi-dukungan-golkar-tambahan-amunisi

    DPP Partai Golkar memutuskan untuk mendukung Ridwan Kamil pada Pilkada Jawa Barat 2018. Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid mengatakan, Golkar telah menyampaikan keputusan tersebut kepada Ridwan Kamil. "Iya, sudah (final)," kata Nurdin saat dikonfirmasi, Kamis (26/10/2017). Golkar ingin memasangkan Wali Kota Bandung itu dengan Politisi Partai Golkar, Daniel Muttaqien.

    Sumber : http://nasional.kompas .com/read/2017/10/26/17381271/pastikan-dukung-ridwan-kamil-golkar-segera-keluarkan-sk

    "Golkar Itu baru katanya tapi saya sudah ditelepon, yang telepon Pak Nurdin Halid," ujar Emil saat ditemui di Jalan Ibrahim Adjie, Kamis (26/10/2017). Namun, Emil mengaku tak mau terlalu percaya diri. Sebab, ia belum mengantongi surat keputusan secara resmi. Apalagi, keputusan itu harus dapat dukungan dari jajaran partai di tingkat provinsi.

    Lalu bagaimana dengan Dedi Mulyadi, yang notabene adalah Ketua DPD Golkar Jawa Barat ? Menarik untuk dianalisis bahwa kadernya sendiri, yang berniat maju dalam perhelatan perebutan kursi Jabar satu, menemukan gelagat ditinggalkan oleh Partai Golkar.

    Beberapa waktu lalu, Sekjen Golkar Idrus Marham sebenarnya sudah mengeluarkan isyarat penyandingkan keduanya, seperti dilansir media daring : http://regional.kompas .com/read/2017/08/01/19424041/sekjen-golkar--ridwan-kamil-dedi-mulyadi-capai-hasil-survei-tertinggi

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menyatakan hingga saat ini pihaknya belum memastikan pasangan yang akan diusung bersama Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi. Namun, berdasarkan survei salah satu lembaga, Idrus mengklaim Dedi memperoleh suara tertinggi bila dipasangkan dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, dengan asumsi Dedi diposisikan sebagai calon wakil gubernur dan Emil sebagai calon gubernur.

    Jika secara tiba-tiba Golkar seperti melupakan Dedi Mulyadi begitu saja, kita menganggap ini merupakan sebuah ironi. Dengan kinerja yang kinclong tatkala memimpin Purwakarta, ditambah popularitas serta hasil survey yang cukup menjanjikan, terutama untuk kemungkinan dipasangkan dengan Emil, maka apa salahnya pilihan utama dijatuhkan untuk Dedi ?

    Adapun ancang-ancang PDI-P untuk mengusung Dedi sebagai calon dari partainya, bisa jadi akan merubah peta kekuatan di kancah perebutan pimpinan Jabar tersebut. Bukan hal yang mustahil jika kondisi ini memaksa kedua calon yang paling potensial, akan berhadapan secara frontal.

    Kita tidak boleh melihat dukungan partai dominan secara otomatis akan meningkatkan optimisme untuk mendapat pilihan konstituen. Kekuatan yang bisa diandalkan pada pilkada, seperti sudah terbukti pada waktu lalu, adalah peranan popularitas figur. Sementara faktor partai hanya menentukan kecukupan dukungan elektoral jelang pendaftaran.

    Kita akan sangat khawatir terpecahnya Emil-Dedi akan menguntungkan pihak lain, yang memang sedang mengintip celah kemungkinan mereka mengambil manfaat dari kedua calon potensial itu. Calon pemilih mengambang, yang berpotensi mengambil keputusan untuk menjatuhkan pilihan pada saat-saat terakhir, yang prosentasenya cukup tinggi, bisa menjadi faktor penentu.

    Emil yang sangat dikenal oleh generasi milenial karena keakrabannya dengan dunia daring, serta Dedi yang cukup dikenal luas di Jawa Barat, tentu akan dihadapkan kepada konstituen yang saling beririsan. Jika keduanya berdampingan, maka optimisme pemilih untuk menjatuhkan pilihannya kepada pasangan ini tentu akan sangat tinggi.

    Di lain pihak, kondisi sebaliknya tentu menjadi kemungkinan besar berikutnya, jika Emil dan Dedi secara terpisah maju sebagai calon. Lalu kejadian yang dikhawatirkan itu, diuntungkannya calon lain mengingat suara Emil tentu akan berbagi dengan Dedi.

    Para pengusung penting untuk memperhitungkan situasi terbaik, sekaligus mewaspadai hal terburuk yang bisa terjadi. Bukankah pengalaman pilkada DKI telah cukup menjadi pelajaran bagi para pendukung Ahok ? Maka kepentingan individu dan kelompok, saatnya kini untuk diredam demi agenda yang lebih besar, agar Jawa Barat bisa diselamatkan dari bercokolnya pemimpin yang muncul hanya mengandalkan mesin politik, tanpa mengusung agenda yang pro rakyat.

    Kekhawatiran seperti yang dilontarkan pengamat, kemungkinan matahari kembar jika keduanya bersanding, justru malah bisa saling memperkuat. Karena kesepakatan bisa didefinisikan pada masa-masa awal, agar berbagi peran secara proporsional.

    Di sisi lain, khalayak luas juga perlu secara terus menerus menyuarakan aspirasi, agar kedua calon yang diharapkan menjadi duet mumpuni untuk Jabar yang tidak mandek, sebagaimana mandeknya sepuluh tahun terakhir, akan bisa didobrak di lima tahun ke depan.




    Penulis :   Ruskandi Anggawiria    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Mengapa Dedi dengan Emil Tidak Disandingkan? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top