728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 21 Oktober 2017

    #Warta : Mana Kebaruan yang Di bawa Anies?

    KISAH POLITIK SEORANG ANIES

    Urusan paling klise dalam politik ya itu-itu saja: adakah mereka ini benar-benar ingin bekerja untuk rakyat atau sekadar mengejar harta dan kekuasaan? Sejak dulu kita sudah punya keyakinan bawah pejabat negara—kebanyakan—hanya menyenangkan pada masa pemilu. Mengumbar janji surga dan bagi-bagi duit setiap ada kesempatan.

    Maka tidak heran ketika muncul figur yang tingkahnya berbeda, kita merasa ada yang aneh di sana. Apakah yang dilakukan itu semata pencitraan atau sejati? Masih sulit rasanya untuk mempercayai bahwa ada pejabat yang lebih mementingkan rakyat ketimbang jabatan dan kepentingan elit politik yang mendukungnya.

    Lalu apakah Anies termasuk di antara politisi baik? Saya sangat meragukannya. Hal itu bisa kau lihat dari track record-nya. Ia memulai karier politiknya bersama Demokrat (walaupun gagal), kemudian bergabung dengan Jokowi yang banyak didukung oleh anak muda dan akademisi—meskipun sebelumnya ia sempat menyindir gaya blusukan Jokowi.

    Saya masih ingat bagaimana dahsyatnya “The Great Speech” Anies yang pernah ia gelar bersama Relawan Turun Tangan. Ia begitu meyakinkan dengan gagasan-gagasannya dalam mendukung Jokowi, bahkan ia dengan terang menyindir Prabowo yang ambisius, bahkan tentang istilah “bocor”, yang mana ia gunakan untuk meragukan pemahaman kebangsaan Prabowo.

    Ada satu kata yang paling saya sukai dalam presentasi tersebut, ketika Anies menyebut Jokowi membawa kebaruan. Betul, kita perlu pemimpin yang bukan dari kalangan elit lama yang mentalnya ya pasti begitu-begitu saja. Baru di sini dekat artinya dengan “bersih”, “jujur” dan “merakyat”.

    Karena kerjanya bagus, ia dipilih bergabung dengan kabinet kerja. Sebentar saja karena tak lama kemudian ia di-reshuffle. Keputusan Jokowi yang cukup menyentak saya waktu itu. Kenapa? Ada masalah apa? Peristiwa “salah hitung” dan hasil kinerja kementerian pendidikan yang buruk pun diangkat ke permukaan. Tapi bagaimanapun, saya tentu lebih percaya pada keputusan Jokowi.

    Sebelumnya saya juga sering membaca komentar-komentar negatif tentang Anis. Tentang integritasnya, kualitas “Indonesia Mengajar” yang meragukan, proses menjabatnya di Paramadina yang dianggap melawan aturan dan pengakuan dari orang-orang yang mengenalnya, yang tidak sedikit bernada miring.

    Saya tidak bisa berkomentar pada saat itu karena saya tidak betul-betul mengenal Anies. Saya hanya tahu Anies dari permukaannya saja, dan saya akui apa yang ia tampilkan—secara permukaan—itu sangat mengagumkan. Yang bisa saya nilai hanya gagasan-gagasannya, gaya komunikasi dan bahasa tubuhnya. Saya tidak tahu betul track record Anies kecuali apa yang ia klaim. Beda dengan Jokowi-Ahok yang bisa saya lihat sendiri hasil kerjanya.

    Ketika Anies bergabung dengan Gerindra untuk melawan Ahok, saya sempat menganggapnya sebagai candaan politik. Mana mungkin seorang Anies yang pluralis dan moderat mau bergabung dengan kelompok keras dan radikal yang membersamai Gerindra? Bagimu yang sering menonton atau mendengar presentasi Anies, kau akan tahu bahwa ia tidak sepaham dengan kaum tersebut.

    Anies sempat menunjukkan hal yang lucu, ia tertangkap tanpa ekspresi ketika pertama kali diumumkan pencalonannya bersama Sandi oleh Gerindra dan PKS. Ia tampak tidak nyaman dengan gaya komunikasi teman-teman barunya yang kampungan, bahkan Fadli Zon sampai membacakan puisi jelek yang direspon tawa oleh yang lain. Tontonan yang tidak bermartabat. Apakah Anies galau saat itu? Mungkin.

    Tapi makin ke sini, Anies nampak adaptif dengan mereka. Ambisi politik berhasil mengubahnya. Atau apakah begitulah karakter Anies? Seorang oportunis? Ia pun mulai memilih diksi-diksi rasis dan provokatif. Misalnya kata “pribumi-nonpribumi” yang sudah sering ia sampaikan semasa kampanye, khususnya ketika bersama dengan geng FPI, dan baru sekarang ramai menuai kritik.

    Isu-isu kontroversial begitu memang jualan Anies selama kampanye, jadi ia hanya mengulang-ulangnya lagi demi mempertahankan dukungan. Lihat bagaimana pendukungnya yang bersorak gembira ketika ia menyinggung isu ini.

    Selayaknya isu PKI, mereka perlu mengangkat isu pribumi-nonpribumi karena dengan begitulah mereka bisa menyuburkan ketakutan dan kebencian di tengah masyarakat. Pada Pilkada Jakarta kemarin mereka menggunakannya dan berhasil, dan mereka pun akan mengulanginya lagi. Isu-isu yang bisa menyuburkan kebencian di tengah masyarakat akan terus digoreng. PKI, pribumi-nonpribumi, muslim-nonmuslim, dan entah apalagi nanti. Jika terjadi perpecahan di tengah masyarakat, yang paling dirugikan adalah pemerintah. itulah tujuan utamanya.

    Apa yang Anies lakukan sudah jelas menunjukkan betapa ia tidak punya integritas. Menjilat kaum Islam radikal, mengubah pandangan dan ideologinya sendiri demi meraup dukungan, sungguh bukan sikap seorang pemimpin yang baik.

    Seorang pemimpin yang baik tidak mungkin memecah belah rakyatnya sendiri. Ia mesti merangkul semua pihak, semua kelompok Agama, etnis, tanpa membeda-bedakan. Jika hal yang utama seperti saja Anies sudah gagal, bagaimana mungkin mengharapkannya bisa bekerja dengan baik dalam membangun Jakarta yang begitu majemuk.

    Kalau ia memuji kebaruan yang dibawa Jokowi pada Pilpres ’14, sekarang kebaruan macam apa yang dibawa Anies? Bergabung denga Islam Radikal? Memuji Rizieq sebagai Imam Besar? Mengangkat isu pribumi-nonpribumi yang sudah lama dikuburkan? Kebaruan Anies tak lebih dari omong kosong.

    APA TUJUAN ANIES?

    Jika Anies tetap meneruskan gaya komunikasinya yang membelah rakyat. Maka bisa dipastikan bahwa ia tidak punya niat bekerja untuk rakyat Jakarta, sebaliknya, ia hanya fokus pada karier politiknya. Karena jika ia terobsesi pada karier politik, maka ia harus terus menjaga “bara” kebencian dan saling curiga di antara masayarakat. Ia perlu melakukannya supaya ia bisa dengan mudah mengubah bara tersebut menjadi api ketika ia membutuhkannya.

    Karena kita tahu, ada misi besar dibalik terpilihnya Anies ini, yaitu memenangkan Prabowo pada pilpres 2019. Anies akan memerankan dirinya sebagai “lawan” pemerintah Jokowi sembari ia “mengangkat“ nama Prabowo, dan untuk mengalahkan Jokowi, tidak ada cara yang lebih praktis ketimbang mempertahankan permusuhan di tengah masyarakat. Hal ini sudah terbukti pada Ahok, jika isu Ahok tidak digoreng sampai hangus oleh musuh Ahok, maka mustahil Ahok bisa tumbang. Isu Ahok korupsi, berpihak pada asing, ingin menjual Jakarta dan yang paling laku, tentu saja, Ahok menista Agama. Sampai perlu menyewa jasa Saracen untuk memviralkan isu tersebut.

    Anies yang pluralis dan moderat hanyalah imej yang ia bangun ketika masih menjadi pendidik, yang membuatnya disukai banyak anak muda dan akademisi. Sekarang ia membuang imej itu karena sedang tidak membutuhkannya, saat ini ia membutuhkan dukungan dari kaum radikal, PKS, Gerindra. Ia pun bermetamorfosis sempurna untuk menyamakan frekuensi dengan pendukung dan kelompoknya. Selamat tinggal nama baik!

    Anies yang menjadi senjata baru pihak Prabowo akan dimanfaatkan dengan optimal untuk terus menyulut bara kebencian di tengah masyarakat. Ia tidak ditugaskan untuk menjadi pengadem suasana karena hal itu tidak ada untungnya untuk mereka. Isu sensitif yang “disinggungkan” dengan pemerintah harus terus dimunculkan dan digoreng sejak jauh-jauh hari, supaya ketika mendekati Pilpres ’19 ia sudah cukup matang untuk dihidangkan ke tengah masyarakat. Upaya pembenturan rakyat kepada pemerintah pun mereka mulai dari proses reklamasi, di mana ia memilih untuk menentang pemerintah pusat.

    Tapi saya juga tidak mau sepenuhnya berpikiran negatif, itu adalah analisis yang menurut saya masuk akal setelah melihat perjalanan politik Anies yang amis. Analisa buruk itu bisa saja tidak terjadi, asal Anies berubah. Jika ia mau meredam obsesi berpolitiknya dan mencukupkan dirinya dengan amanah yang ia peroleh dari warga Jakarta. Jika ia menjadi pengadem suasana dan menolak menjadi boneka politik dari pihak oposisi. Jika ia mau memimpin dengan bersih dan mengabaikan rengekan partai pendukungnya yang belum-belum sudah minta jatah.

    Jika hidayah itu ternyata betulan turun kepada Anies, saya hanya ingin menyarankan satu hal saja kepada beliau, ada baiknya jika beliau mempekerjakan seorang ahli komunikasi yang profesional untuk mengevaluasi gaya bahasa beliau. Supaya ada filrter untuk apa-apa yang perlu dan tidak perlu diucapkan dan bagaimana sebaiknya gaya berkomunikasi yang tepat sebagai pemimpin Jakarta. Tidak perlu gengsi, Ahok juga jatuh karena “kata-kata”-nya yang tidak ia filter.

    Atau belajarlah dari sang mantan bos. Jangan memelihara dendam berkepanjangan.(*)



    Penulis :   Berry Budiman    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Mana Kebaruan yang Di bawa Anies? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top