728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 02 Oktober 2017

    #Warta : Lebih Baik Mendukung Ibu Khofifah daripada Negara Khilafah



            “Sejumlah elemen masyarakat di Jatim, lanjut Khofifah, sudah menyatakan mendukung langkah Khofifah untuk bertarung di Pilkada Jatim.”
            _Kompas.com_

    Mengapa lebih baik mendukung Khofifah? Sangat sederhana alasannya, dan tidak butuh kampanye pakai memelintir ayat.

    Khofifah Indar Parawansa sudah terbukti berbakti kepada Ibu Pertiwi, NKRI, dengan kesetiaan pada ideologi bangsa, Pancasila. Sebagai Menteri Sosial, Khofifah tidak suka dengan kekhilafan dalam menolong dan membantu rakyat ketika menghadapi bencana. Misalnya saja bencana alam di Dieng, Jawa Tengah, Ponorogo, Jawa Timur, tanah longsor di Kintamani, Bali, dan berbagai tempat lain di seluruh Indonesia. Tidak ketinggalan tentu untuk para penyintas akibat erupsi Gunung Sinabung hingga Gunung Agung. Semua layak dicatat, Bung.

    Selaku menteri sosial, Khofifah yang tidak khilaf, tahu cara unjuk rasa dan unjuk kekuatan sesuai kewenangan untuk berempati kepada rakyat yang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Berbeda banget dengan gaya unjuk rasa kelompok Islam Radikal Bebas yang andalkan teriakan dan sponsor dari politisi kesohor namun kotor karena menjadi koruptor yang rindu jontor.

    Rupanya, Khofifah yang hampir memenangkan Pilkada Jatim 2008 masih penasaran. Kekalahan super tipis pada Pilkada Jatim 2008 disinyalir karena ada permainaan tangan-tangan gentayangan. Inilah yang oleh sementara orang dikatakan nggemesin. Tidak gemes bagaimana coba, ketika kemenangan yang hampir itu tidak jadi mampir. Maka kisah tetap belum berakhir bagi orang-orang yang berpikir dan rajin berzdikir tanpa teriak kafir-kafir.

    Untunglah, Khofifah tetap konsisten, tetap tidak khilaf dengan mengusung ide khilafah yang oleh sementara kelompok dijadikan dagangan baru. Seolah, kelompok itu ingin menunjukkan diri makin islami berkat pameran gagasan masa lalu semacam khilafah. Misalnya saja kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang rindu khilafah karena mungkin bisa bikin ah bagi para pengusung dan pemujanya.

    Tentu bukan serba kebetulan ketika mereka beraksi dalam Gerakan 29 September 2017 bersama PKS yang lazim ditulis G29S/PKS. Dengan perencanaan yang terstruktur, saat Jubir HTI Ismail Yusanto berpidato, para peserta aksi 299 di depan Kompleks MPR/DPR/DPD RI, Jumat (29/9) dengan gembira mengibarkan bendera tauhid dan meneriakkan seruan khilafah.

    “Khilafah…khilafah…khilafah,” teriak para peserta demo di sekitar mobil komando utama, seperti diberitakan Republika.co.id. Lebih jauh, dalam orasinya, Ismail menyerukan penolakan terhadap Perppu Ormas dan kebangkitan neo PKI. “Tidak ada alasan yang bisa dibenarkan secara hukum untuk diterbitkan Perppu itu. Dinyatakan harus ada kepentingan memaksa. Kenyataannya tidak ada alasan memaksa itu,” serunya berapi-api serasa tak mau berhenti berorasi.

    Jubir HTI ini rupanya khilaf bahwa PKI sudah dibubarkan lewat Tap MPRS No.25 Tahun 1966. Kelihatan tidak paham bahwa Bangsa Indonesia berdiri kokoh itu berkat Pancasila sebagai dasar negara yang mengayomi semua agama yang ada di bumi Nusantara. Negara Indonesia sejak berdiri bukan untuk menuntaskan ambisi mendirikan khilafah. Negara Indonesia adalah rumah bersama berpayung Bhinneka Tunggal Ika.

    Sebagai Jubir HTI yang layak dibubarkan itu, Yusanto lebih baik banyak belajar dari Ibu Khofifah yang tidak mengusung gagasan khilafah sejak jadi calon gubernur Jatim 2008. Beliau tetap konsisten dengan dasar negara Pancasila alias tidak khilaf. Yusanto harus ingat bahwa ide khilafah yang bikin ah dan bisa bikin uh itu bertentangan dengan jiwa Pancasila yang mengayomi kebhinnekaan sebagai kekayaan bumi Nusantara.

    Daripada pusing-pusing membangkitkan isu PKI, akan lebih bermanfaat bila mengembangkan gagasan Islam yang rahmatin lil ‘alamin dan bukan Islam Radikal Bebas yang gampang disulut amarah dan terkenal tidak ramah pada rumah bhinneka tunggal ika. Islam rahmatin lil ‘alamin adalah Islam yang relevan di bumi Nusantara. Karena Islam yang demikianlah, maka mayoritas penduduk di Indonesia dengan hati damai memeluk agama Islam.

    Oleh karena itu, Yusanto tidak perlu curiga dengan Perppu Ormas dengan menganggap perppu itu lebih didorong oleh alasan politis untuk membendung kekuasaan Islam yang disebut sebagai kebangkitan kelompok radikal. Kekuatan Islam yang berjuang menuju kemerdekaan sudah terbukti. Kekuatan Islam untuk turut membangun bangsa, mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara sudah tidak diragukan lagi. Itulah kekuatan Islam Nusantara yang rahmatin lil ‘alamin.

    Ormas-ormas radikal bebas yang berwatak intoleran memang sudah layak dan sepantasnya membubarkan diri karena tidak ramah pada Pancasila. Gerakan Islam Radikal Bebas dan Intoleran adalah ancaman bagi persatuan Indonesia sebagai jiwa Pancasila. Perppu Ormas dalam konteks ini jelas bertujuan untuk melindungi ajaran semua agama, dan tentu juga agama Islam, supaya tidak bermetamorfosis menjadi ajaran yang bengis dan intoleran pada peradaban manusia.

    Islam ala ISIS dan Taliban adalah contoh pengusung khilafah yang tidak ramah dan suka menghancurkan situs-situs peradaban manusia. Jelas gerakan model demikian membahayakan kemanusiaan yang adil dan beradab. Apalagi ketika dalam rangka menghancurkan peradaban diiming-imingi 72 bidadari dan surga sebagai tempat pesta seks. Kalau seperti itu ide khilafah kan benar-benar bikin ah dan bikin uh. Aduh, Mah… curhat dong!






    Penulis  :     Setiyadi RXZ    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Lebih Baik Mendukung Ibu Khofifah daripada Negara Khilafah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top