728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 02 Oktober 2017

    #Warta : KPK Bukan Jagoan Indonesia, Mau Seret Setya Novanto, Lawan Hadi Poernomo Saja Keok

    KPK bukan jagoan Indonesia. Kalah di praperadilan. Bukan hanya karena Cepi Iskandar saja yang menyebabkan Setya Novanto lolos dan menang. Catatan tentang Cepi Iskandar memang menyedihkan. Dia pembebas Joko Sulistyo sang koruptor. Itu kenyataan dia sebagai pengadil memang memble, tidak seperti hakim Artijdo Alkostar yang memang memiliki integritas luar biasa. Presiden Jokowi harus memerhatikannya.

    Nah,yang lebih hebat lagi justru Setya Novanto. Harus diakui oleh KPK bahwa KPK perlu mawas diri dan lebih panas dalam bekerja, bukan hanya duduk di bawah pohon beringin menunggu jatuhnya buah semangka dari atas. Kenapa?

    Catatan tentang kasus besar yang membelenggu manusia kuat strategi,kuat koneksi, kuat KKN, dan keterlibatan dengan dunia bisnis dan politik akan sangat menentukan kemenangan atau kekalahan di bidang hukum. Bahkan senyatanya 70 persen keputuhan hukum di peradilan terjadi akibat intervensi.Ini semestinya sudah diketahui dengan baik karena alasan dibentuknya dan adanya KPK. Salah satunya kekalahan melawan Hadi Poernomo.

    Kalah Melawan Hadi Poernomo


    KPK harus belajar dari kasus sepele di mata publik, namun juga begitu sakti: Hadi Poernomo.Kelihatan klemar-klemer namun kaya-raya dengan kekuatan kroni luar biasa. Dia memiliki jaringan dengan semua lembaga dan menguasai seluruh peta kekuatan lembaga di Indonesia, dari mulai Setneg sampai DPR sampai semua pusat kekuatan, karena fungsinya sebagai pentolan BPK.

    Fakta BPK adalah organ pengesah status audit lembaga yang dibiayai oleh negara, membuat BPK menjadi organ penting bagi alur penipuan, pencurian, manipulasi,KKN, yang sangat mencengangkan. Dari BPK-lah muncul semua cara untuk menutupi kebobrokan. Dalam beberapa kasus Rochmadi Saptogiri dan Ali Sadli terkait Kemendes.

    BPK inilah yang menentukan wajah dan gambaran pengelolaan keuangan yang dipamerkan ke publik. Padahal lembaga-lembaga yang menjadi pasien BPK berkecenderungan korup, maka semua perhatian dan bahkan nasib para pentolan lembaga negara atau perusahaan negara sekali pun akan tergangtung kapada para auditor dari BPK.

    Nah, melihat fakta seperti itu tidak mengherankan jika Hadi Poernomo dengan gampangnya lolos dari jerat KPK. Terlebih lagi catatan tentang KPK pun dimiliki oleh Hadi Poernomo, sebagaimana bukti yang ditenteng oleh kuasa hukum Setya Novanto dalam persidangan praperadilan.

    Meskipun KPK protes terkait dengan dokumen yang tidak ada hubungannya denngan materi praperadilannya. Juga tidak sah. Itu bukan poin penting. Bahkan secara nyata dokumen itu didapatkan dari Pansus KPK, setelah Pansus KPK memanggil BPK yang ketakutan terhadap Fahri Hamzah.

    Justru fakta bahwa BPK pun bisa memberikan dokumen tentang KPK kepada Pansus KPK ini yang semakin mencengangkan. Artinya kekuatan DPR pun semakin nyata dan KPK gagal mengamankan kaitan kekuatan antara BPK dengan DPR – yang menjadi alat bagi Setya Novanto untuk lolos dari jerat hukum. Dan ternyata benar dan berhasil.

    Hadi Poernomo yang dilihat sepele itu, sesungguhnya adalah bagian dari seluruh kekuatan rezim lama yang korup. Kekuatannya dibuktikan bukan hanya ketika melawan KPK, melawan Kemenkeu saja dengan enaknya menang di pengadilan Tata Usaha Negara. Kenapa? Yak arena nilai koneksi dan jaringan yang luar biasa hebat dari Hadi Poernomo.

    Maka begitu Hadi Poernomo menang di praperadilan, hanya karena alasan Hakim Haswandi yang seperti Cepi Iskandar kelakuannya yakni beralasan penyidik yang menyidik Hadi Poernomo tidak diangkat oleh Polri atau Kejaksaan.Keoklah KPK,meskipun dua alat bukti telah ada.

    Sejak bebasnya Hadi Poernomo, sampai saat ini KPK tidak berani lagi mengeluarkan sprindik baru untuk Hadi Poernomo. KPK menyadari betapa manusia apkiran ini memiliki kekuatan. Dan apalagi kasus ini terkait dengan bank BCA, yang dimiliki oleh orang terkaya di Indonesia. Klop sudah kekuatannya – sekaligus kerdilnya KPK di hadapannya.

    Memang dalam pemberitaan, berbagai bahasa manis menjanjikan dilontarkan berbagai opsi. Kasasi, peninjauan kembali, dan berbagai cara lain, namun yang jelas mengerluarkan sprindik baru bagi Hadi Poernomo hampir dipastikan tidak akan terjadi. Yang terjadi sejak berbulan-bulan lalu kasus Hadi Poernomo pun mengendap di bawah ketiaknya sendiri.

    KPK ternyata bertekuk lutut dan kalah melawan pentolan yang tampak klemar-klemer bermuka manis namun senyatanya adalah orang kuat yang menguasai koneksi bisnis dan politik dengan semua lembaga yang membuatnya menjadi salah satu manusia kuat, yang ketika korupsi pun mampu keluar dari jerat hukum. Publik pun Cuma dijanjikan bahwa kasus Hadi Poernomo belum berhenti.

    Kalah Melawan Setya Novanto


    Kejadian sama persis seperti kekalahan terhadap Hadi Poernomo. KPK dengan gaya low-profile berusaha meyakinkan publik bahwa KPK optimis memenangi gugatan praperadilan Setya Novanto. KPK menyampaikan ke khalayak tentang berbagai bukti yang dikatakan sangat banyak. Lengkap.Pasti menang.

    Menyikapi kekalahan memalukan itu, tak tanggung-tanggung Saut Sitomorang pun berjanji dan memastikan Setya Novanto tidak akan lolos. Ada 200 bukti yang akan menjeratnya. Namun, lagi-lagi untuk menetapkannya sebagai tersangka lagi KPK hanya menempatkannya sebagai opsi alias pilihan.Kapan waktunya? Nanti kita tidak tahu. Lama? Pasti. Kenapa?

    Lah melawan manusia sederhana Hadi Poernomo saja keok, kalah, takluk, menyerah, sampai sekarang tidak berani lagi mengeluarkan sprindik baru. Alasan lain secara hukum adalah kasus praperadilan ini masih menggantung dan menggelinding di tingkat PK. Nah, lho? Artinya, secara hukum KPK mengetahui bahwa perkara ini masih menggantung dan KPK terjerat dengan strateginya sendiri yakni mengajukan banding PK ke MA.

    Kini,KPK menghadapi Setya Novanto dengan upaya membeberkan bukti baru ke publik. Kalau memang demikian, belajar dari kasus Hadi Poernomo, KPK segera menetapkannya sebagai tersangka baru dengan mengeluarkan sprindik yang baru. Ini perlu dilakukan untuk menghilangkan dan memenangkan momentum.

    Mumpung Mahkamah Konstitusi (MK) belum membuat keputusan terkait dengan Pansus KPK – yang ditahan dan tengah digoreng di MK itu. Posisi Pansus KPK sebenarnya adalah senjata dan kekuatan publikasi buruk untuk Setya Novanto. Namun bukan itu esensi dan nilai pentingnya bagi para koruptor. Tujuannya adalah lepas dari jerat hukum, urat malu sudah putus dan tidak dimiliki lagi oleh para koruptor dan kroni mereka.

    Pimpinan KPK bisa berbicara, namun jangan membangun dan berdidi di menara gading, karena yang bekerja di bawah para pimpinan harus sevisi dan solid tidak terkotak-kotak dengan kepentingan hanya sebagai karyawan doang, apalagi kepentingan afiliasi partai dan khilafah harus dijauhkan. Itu prasyarat.

    Bekerja di KPK adalah pengabdian dan keberanian, bukan perjuangan untuk golongan dan individu. Ini harus ditekankan. Level bawah dan menengah yang tidak solid dan terpecah-belah hanya akan menghasilkan kegagalan besar seperti kasus Hadi Poernomo yang sampai detik ini tidak dikeluarkan sprindik baru.

    Kini,KPK melawan kekuatan yang luar biasa dengan seluruh kesempurnaan kekuatan di bidang hukum,politik, bisnis,partai,golongan, dan sebagainya yang dimiliki oleh Setya Novanto. Meskipun dengan bukti baru, bukti lama, 200 atau bahkan 2,000 bukti, untuk menjeratnya tidaklah gampang.Intinya lawan Hadi Poernomo saja keok, apalagi Setya Novanto, the Untouchable, the Mighty,manusia terkuat di Bumi, dunia dan akhirat, saya rasa. Tidak ada kekuatan melebihinya. Salam bahagia ala saya.



    Penulis  :     Ninoy N. Karundeng    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : KPK Bukan Jagoan Indonesia, Mau Seret Setya Novanto, Lawan Hadi Poernomo Saja Keok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top