728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 19 Oktober 2017

    #Warta : Kegaduhan Politik Sengaja Dipelihara

    Demokrasi yang menjadi sangat penting dalam suatu negara bahkan seperti menjadi sebuah keharusan untuk diterapkan, tampak kehilangan hakikat pun jati dirinya. Sebut saja seperti demokrasi di Indonesia, yang akhir-akhir ini justru banyak melahirkan kegaduhan dan kisruh tak berkesudahan.

    Hal ini justru dibanggakan oleh para politisi, birokrat, ormas, teknokrat bahkan akademisi. Mewujudkan semua agenda kepentingan dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan menodai demokrasi itu sendiri, yang sudah diluar batas, seperti fitnah, hoax, ujaran kebencian, dipaksakan untuk menjadi bagian dari demokrasi.

    Suhu politik sengaja dibuat panas, dari dimunculkannya "politik identitas", primordial, hingga rasialis. Sebagian masyarakat seperti tumpukan kertas kering, yang cepat terbakar dipercik api. Maka tidaklah heran jika kata seperti "bunuh, gantung, bunuh" kerap terdengar diberbagai aksi demo saat ini. Ironisnya agama pun ikut dijadikan bahan bakar.

    Mereka para politisi partai yang bergandengan dengan ormas-ormas fundamental, tak henti mengekploitasi masyarakat untuk melupakan satu hal yaitu kesatuan bangsa. Mereka menjadi buta tuli, dan menerapkan slogan kolonial yang amat terkenal yaitu "pecah-belah lalu kuasai".

    Ya, politik sengaja dibuat gaduh. Bahkan kegaduhan tersebut harus dinikmati masyarakat, agar terjadi konflik, dengan adanya konflik bahkan tercerai berai, maka api akan sangat mudah digunakan untuk membakar hingga bertindak secara reaksioner liberal, dan hal-hal semacam ini menjadi senjata bagi "mereka" untuk mewujudkan agenda yang penuh konsesus terselubung dalam merebut dominasi kekuasaan.

    Kegaduhan politik yang tercipta juga menjadi senjata untuk mengguncang rezim yang sedang berkuasa. Belajar dari sejarah bahwa politik yang gaduh kerap berdampak pada stabilitas ekonomi bahkan dapat mengguncang domestik.

    Lalu, apakah kegaduhan politik merupakan bagian dari demokrasi? Iya, akan tetapi lebih kepada persoalan demokrasi yang belum mapan. Tetapi ada yang lebih ironis lagi, politik dibikin gaduh, tetapi tidak sedikit internal parpol juga kisruh, bahkan menjadi santapan publik.

    Mereka yang mempunyai hasrat ambisi nafsu kekuasaan, seperti tak peduli untuk menguras energi bangsa ini dengan kegaduhan politik. Lalu memunculkan Isu-isu yang tidak produktif, strategis pun krusial yang menyangkut persoalan rakyat. Bahkan alat negara yang sejatinya berpegang pada satu komando, justru ikut gaduh dan terseret arus politik, yang kemudian menjadi tontonan masyarakat luas.

    Kenapa kegaduhan politik ini justru makin dibuat kisruh? Ya, tak akan dihentikan, justru mereka akan memelihara kegaduhan tersebut, karena bisa jadi salah satu yang diharapkan kegaduhan tersebut untuk menghambat akselerasi (percepatan) kerja pemerintah. Akan tetapi saya melihat justru pemerintah tahu betul kondisi yang ada, dan tidak reaksioner dalam menanggapi polemik yang sengaja diciptakan lawan politiknya.

    Hal ini dapat kita lihat dari beragam isu yang dimunculkan yang berujung kegaduhan, satu-persatu seperti terbuang dan masuk ke tong sampah politik.

    Lihatlah mereka, perbedaan pendapat pun argumen yang dibeberkan secara "telanjang" di media berbasis online ataupun cetak, justru saling sahutan caci maki yang ditonton publik. Apakah rakyat harus menjadi orang tua mereka, dan mereka menjadi anak ingusan yang selalu diingatkan? Misalnya "Padli ojo nakal yo, ingusnya dilap dulu, malu nanti dilihat kk Rais, ojo berantem, pakai dulu celananya dengan baik, biar nanti kk Wo mau ajak main ke taman fekaes, yang banyak sapinya."

    Apakah para politisi parpol, harus diingatkan seperti itu? Saya pikir mereka bukan anak kecil yang ingusan dan mesti diingatkan terus-menerus. Tetapi kegaduhan politik yang muncul ini justru memberitahu kita, bahwa kebebalan itu diabadikan.

    Kegaduhan ini muncul juga karena banyak para elite parpol, tokoh ormas, dan sejenisnya yang bermanuver kontroversial. Karena di Nusantara yang kontroversial itu cepat hangat, cukup laku untuk mendapatkan popularitas bahkan untuk mempopulerkan kepentingannya. Hal-hal yang kontroversial juga cepat diangkat atau diliput oleh media. Semakin banyaknya kesengajaan kontroversial yang diterapkan, kebenaran makin samar, bahkan banyak kejelasan yang disembunyikan. Isu-isu kontroversial sering kali menjadi kepentingan politik bahkan menjadi bahan kampanye yang efektif. Maka tidak usah heran jika cara ini juga digunakan oleh alat negara seperti militer, karena dengan bermanuver kontroversial yang kemudian kontraproduktif adalah salah satu cara yang amat digemari dalam politik Indonesia.

    Disisi lain, kenapa hal yg kontroversial dan kegaduhan politik justru disukai mereka? Karena masyarakat Indonesia sangat mudah terprovokasi, dan kegaduhan bisa jadi merupakan antitesis dari soliditas. Masyarakat yang solid dibuat gaduh agar tercerai berai bahkan sulit membdakan mana kawan dan mana lawan. Isu identitas adalah isu yang amat mudah terbakar, bukan hanya dalam skala nasional tetapi juga dunia.

    Basuki dipenjara adalah hasil dari kegaduhan politik yang diciptakan, begitupun sebaliknya gubernur yang terpilih juga karena adanya kegaduhan yang dipelihara. Persaingan dalam konteslasi politik secara "waras" masih jauh dari harapan masyarakat.

    Maka sudah sepatutnya warga tidak terjebak pada arus politik yang penuh konspirasi, yang penuh dengan skenario dan proxy. Jika kesatuan dan soliditas kita saja dengan mudah dicerai berai oleh mereka, maka dengan mudah pula mereka memperbudak jelata ketika berkuasa bahkan mengingkari janji-janji manis disaat kampanye.

    Kegaduhan politik dan manuver kontroversial juga mewarnai media sosial tanah air. Maka sudah tepat jika negara hadir ditengah ujaran kebencian, hoax dan fitnah yang semakin mekar di media sosial untuk membendungnya dengan cara memblokir ataupun menangkap para pelaku. Lalu kenapa para elite politisi justru menyebut negara tidak demokrasi? karena politisi memang sengaja bermanuver kontroversial yg kontraproduktif untuk kepentingan politiknya, mengangkat namanya bahkan jadi bahan kampanye yang efektif. Kegaduhan yang ditimbulkan untuk kepentingan justru memberitahu kita bahwa demokrasi yang mereka teriakan belum mapan alias bebal.

    Terakhir, tidaklah keliru jika Jokowi meminta kita (warga) untuk tidak terjebak dengan isu-isu yang ada, dan tetap berpikir jernih. Karena jika warga ikut gaduh, hal demikian justru memberi peluang untuk dimanfaatkan oleh para pelaku politik gaduh.

    Mari bersatu, dan tolak pembodohan massal ditengah kegaduhan politik.



    Penulis : Losa Terjal   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kegaduhan Politik Sengaja Dipelihara Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top