728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 18 Oktober 2017

    #Warta : Jalan Terjungkalnya Anies: Pribumi, Reklamasi, Berseteru dengan Luhut Pandjaitan

    Beredar banyak teori terkait pidato rasis Anies terkait pribumi dan non-pribumi. Publik menganggap dia sedang bermain politik tingkat tinggi. Rakyat melihatnya sebagai signal keberpihakan rasisme. Pengamat dengan gayanya melihatnya sebagai kecerdasan berpolitik. Komentator politik melihatnya sebagai upaya memelihara konstituen rasisnya.

    Mayoritas media massa pun yang memang sepaham dengan Anies melakukan counter. Perlawanan dan pembenaran terkait pidato jahat dan menipu publik itu terus berlangsung. Pendukung Anies pun seperti Jusuf Kalla buru-buru melakukan justfikasi, pembenaran, konteks kolonial. Yang awam pun menyebutkan saat ini bukan masa kolonial. Namun, tetap pembenaran akan penyebaran isu secara sengaja berlangsung.

    Di sisi lain Jenderal (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan justru memeringatkan pidato Anies. Insting politik kuat LBP menangkap dengan cerdas politik identitas yang disuburkan oleh Anies. Dia sadar bahwa hanya dengan memelihara sentiment SARA maka peluang Islam radikal dalam merebut kekuasaan secara konstitusional terkuak sedikit – dan belum tentu menang karena pelawan Islam radikal juga punya strategi.

    Pengamat politik kelas teri, abal-abal, dan kacangan pun mengganggap bahwa Anies sedang memainkan kartu didzolimi. Dia ingin di-bully agar dirinya menjadi korban didzolimi. Istilah keren bahasa asing playing victim. Padahal bukan juga seperti itu permasalahannya.

    Pengamat politik lain dari LSM yang kurang kerjaan menyebut pidato Anies sangat berbahaya. Lontaran kata pribumi melanggar undang-undang dan seterusnya. Maka dikomporilah rakyat untuk melihat masalah pribumi dan non-pribumi sebagai sesuatu yang serius. Press release pun diwartakan ke seantero media dan Nusantara agar rakyat tahu.

    Yang termakan oleh komporan LSM jelas partai politik dan afiliasinya. Maka Banteng Muda Indonesia organ underbow parpol pun turun tangan. Anies si manusia Arab Yaman sekeluarga dengan Rizieq FPI buronan kasus chat mesum berlendir dengan Firza Husein pun dilaporkan ke Polri. Ucapannya dianggap sebagai pelanggaran hukum. Senyatanya ucapan itu tidak bisa menjerat Anies. Tidak akan.

    Pengamat politik pemilik lembaga survei yang memiliki berbagai kepentingan pun bersuara. Anies dikatakan tengah memainkan diri untuk persiapan maju menjadi calon presiden di 2019. Strategi yang dia pakai tetap sama yakni mengusung politik identitas Islam radikal yang telah mendukungnya.

    Publik paham bahwa naiknya Anies karena dia didukung oleh para pendukung yang terkait dengan Saracen dan juga FPI, FUI, dan tentu HTI selain partai berhaluan Wahabiah Ikhwanul Muslimin partai agama PKS. Juga partai yang bermetamorfose ke arah kanan Gerindra.

    Media sosial dan netizen yang terpecah menjadi dua: (1) pendukung Pancasila dan NKRI, dan (2) pendukung bigot dan Islam radikal, pun saling bersuara lantang.

    Kelompok pecinta NKRI pun menyebutkan pidato Anies penuh dengan kebencian dan rasis serta melanggar UU dan Perpres. Kalangan rasional, Bumi bulat ini pun menyadari dan memahami bahwa membesar-besarkan tentang pidato Anies akan memberikan angin publikasi dan jebakan.

    Mereka percaya bahwa dengan mem-bully Anies dst, maka dia dan kelompoknya akan makin senang. Tujuan tercapai. Di samping itu kalangan bigot yang menyusupi pecinta Pancasila dan NKRI pun dinasihati agar tidak melawan mereka. Diam. Padahal itu jebakan agar seperti kasus Ahok, Ahokers harus santun, mengalah, dan hasilnya Ahok tetap keok, meskipun Ahokers santun, sopan, ngalah, baik, dan bijaksana. Nah, serba repot menghadapi bigot.

    Sementara kelompok Islam radikal dan bigot menyambut positif berita dan pidato rasisme ala Anies. Ini menjadi sahih karena memang Anies memelihara konstituennya dengan cara seperti itu: rasisme dan intoleransi. Buktinya ya pidato itu. Kan dibela oleh Jusuf Kalla? Lah semua juga tahu arah politik dia ke mana dan dari mana? Siapa yang membiarkan masjid sebagai alat kampanye?

    Jadi? Nah, jadi bagaimana menghadapi pidato rasis ala Anies? Membiarkan dan tidak menanggapi jelas akan merugikan para pencinta Pancasila dan NKRI, yang telah belajar banyak kasus Ahok. Menanggapi kalangan pendukung Anies yang makin mengristal akan semakin solid.

    Bahkan konstituen yang terbentuk karena pidato Anies akan membuat stigma di kepala mereka – sebagaimana dimaui oleh Anies, bahwa anti Anis = anti pribumi, anti Anies = anti Islam, dan seterusnya.

    Lagi-lagi kalangan pencinta NKRI dan Pancasila akan mengalami kesulitan bergerak dan melawan. Setiap perlawanan akan dihambat oleh bigot yang menyelusup di semua kelompok media sosial di seantero Indonesia.

    Maka, sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Anies ini adalah kesengajaan. Anies paham sekali ketika berada di Timses Jokowi – dia mendengarkan berbagai paparan tentang kampanye hitam, bahkan tentang strategi menghadapi kampanye hitam – dan kini ilmu itu dimanfaatkan secara sebaliknya. Dia bukan melakukan counter, namun justru dia melakukannya untuk strategi besar. Dia menjadi bagian dari kelompoknya seperti FPI, FUI, GNPF, dan sisa-sisa HTI dan sebagainya.

    Melihat paparan di atas, maka tidak usah terlalu peduli dengan berbagai teori apapun baik yang dilontarkan LSM, pengamat baik yang abal maupun yang abal-abal, pemilik lembaga survei, media mainstream, dst. Jangan juga memercayai berbagai teori rumit bigot susupan. Jangan. Lalu?

    Para pencinta Pancasila dan NKRI harus waspada, merapatkan barisan, dan menjauhi adu domba. Tolak jika ada kaum bigot susupan memberi nasihat manis. Cirinya? Mereka akan bilang: “Sabar. Jangan melawan. Kita jangan seperti mereka. Bigot jangan dilawan dengan bigot.” Lalu? Secara sistematis gerakan Anies ini harus dilawan secara strategis pula – bukan dengan mengandalkan relawan yang tercerai-berai penuh pencitraan dan foto selfie.

    Dan, jangan lupa. Perlawanan secara frontal Anies dan Sandi terhadap Jenderal Luhut Pandjaitan dan kelompok pecinta NKRI terkait reklamasi sungguh menarik. Perhatikan ketika LBP melemparkan bola panas reklamasi yang memiliki nilai besar retribusi sebesar Rp 50 triliun.

    Penurunan angka retribusi oleh Anies misalnya menjadi 5% dari 15% yang diminta oleh Ahok akan menimbulkan keributan luar biasa. Membatalkan reklamasi pun dia akan kehilangan dukungan. Nilai Rp 50 triliun ini membebani Anies untuk meloloskan atau membekukan reklamasi. Simalakama.

    Jika nilai retribusi di bawah 15% seperti yang disepakati dengan Ahok oleh pengembang, maka dipastikan akan membuat ambisi Anies itupun akan lenyap ditelan Bumi. Jadi tidak segampang yang Anies dan FPI rancang dengan pidato rasis. Salam bahagia ala saya.



    Penulis : Ninoy N. Karundeng   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Jalan Terjungkalnya Anies: Pribumi, Reklamasi, Berseteru dengan Luhut Pandjaitan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top