728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 31 Oktober 2017

    #Warta : Jadi? Pengkhianat Reformasi Itu Dia!

    Reformasi adalah formula yang dipilih oleh para pejuang demokrasi kala itu. Untuk membangkitkan kembali demokrasi yang lumpuh di tangan kekuasaan Orde Baru yang di-RAJA-i oleh Soeharto.

    Kata seorang paman, masa-masa itu menjadi sangat genting bagi keberadaan dan eksistensi Indonesia yang sejatinya merdeka dan berdaulat sebagai bangsa sendiri.

    Salah sedikit saja dalam penanganan oleh para “grand designer”, akan benar-benar mematikan Indonesia, dan kembali pada zaman-zaman penjajahan seperti sebelum ‘1945’.

    Tiga tokoh besar yang terekspos dalam peristiwa tersebut adalah Gus Dur, Bu Mega dan Amin Rais. Yang kemudian mereka menjadi simbol kemenangan rakyat, Gus Dur menjadi Presiden, Bu Mega menjadi Wakil Presiden dan Amin Rais menjadi Ketua MPR.

    Sampai sekarang, semangat-semangat demokrasi selalu dikondisikan seperti saat melawan dan melengserkan Soeharto. Bahkan sampai sekarang, lagu-lagu untuk membangkitkan jiwa aktifis di kalangan mahasiswa adalah lagu-lagu produk responsif Orde Baru.

    Bukan menjadi masalah sih, akan tetapi jika hanya melawan Soeharto yang selalu didengungkan, maka hal itu hanya akan menjadi semangat yang di kulitnya saja. Sedangkan hal-hal yang substansif dalam nilai-nilai reformasi tidak tersentuh.

    Kita ambil satu contoh; di masa Orde Baru demonstrasi sangat dibatasi dan bahkan hampir tidak diperbolehkan, yang kemudian menimbulkan banyak korban dari fihak rakyat yang menyampaikan aspirasi di depan umum.

    Kemudian, karena ketakutan terhadap kebangkitan Islam, Soeharto pun memukul rata seluruh ormas-ormas Islam, tanpa pandang bulu. Mereka dibatasi ruang geraknya, sampai-sampai mereka dipaksa bertarung terlebih dulu di dalam partai yang sama, sebelum bertarung dengan Golkar. Sehingga pasca Soeharto lengser banyak sekali ormas-ormas Islam yang bermunculan bak jamur di musim penghujan. Pun ormas Islam Radikal yang pada pemerintah selanjutnya berani muncul dengan teriak-teriak revolusi khilafah, dan juga melahirkan Partai Keadilan.

    Ormas Islam sekelas NU saja yang begitu lentur dalam politik dan moderat dalam perbedaan, masih menjadi target oleh Soeharto. Bayangkan saja betapa beruntungnya Islam Radikal yang baru menetas kemarin itu.

    Nilai utama dalam reformasi adalah rakyat bebas mengutarakan aspirasi di depan umum, yakni UU No 9 Tahun 1998. Akan tetapi kebebasan itu menjadi kebebasan yang tanpa keterikatan, baik keterikatan dengan UU lainnya maupun dengan Norma dan Nilai-nilai yang berlaku.

    Yang hal itu juga sangat terasa bagi pada diri mantan aktifis reformasi kala itu, yang masih eksis sampai detik ini. Jangankan mengindahkan Nilai dan Norma, prinsip dan pandangan politiknya pun berubah-ubah. Di awal reformasi bilang A, sekarang bilang B.

    Persis seperti para politisi. Setidaknya dengan mengingat prinsip perjuangannya dulu, siapapun orangnya itu, haruslah meluruskan generasi sekarang dan memberi penerangan apa dan bagaimana seharusnya reformasi itu.

    Kalau reformasi hanya menyisakan, kebencian dan perlawanan pada pemerintahan, maka tidak sepenuhnya yang sebenarnya salah terletak pada pemerintah yang ada. Akan tetapi murni terletak pada mindset-mindset para pejuang reformasi itu sendiri.

    Lain contoh lihatlah sekarang, mereka yang anti dengan kapitalis mengampanyekan “kekiriannya” dengan media-media yang menyuburkan kapitalis. Berteriak jangan percaya dengan link-link yang bertebaran di media sosial, tapi ia mengatakannya dengan akun yang membutuhkan link.

    Setidaknya, ketika tidak memahami substansi dari suatu “semboyan” alangkah indahnya ketika belajar membaca substansi terlebih dahulu sebelum berkelakar panjang dan bergerak demi “semboyan”.

    Ini terjadi pada siapun, yang mengatasnamakan diri sebagai reformis sejati. Entah itu para mahasiswa aktifis yang masih renyah-renyah itu, maupun para alumni aksi mei 1998.

    Bagi para akitifis muda sekarang, yang di tahun 1998 masih menangis jika tidak dibelikan permen dan balon, mulai sekarang kembalilah berbenah dalam membangun mindset dan karakter ‘kepedulian’ sosial maupun kondisi Negara.

    Jika tidak demikian! Sudah seperti yang tertulis di atas, mereka yang kini sudah sepuh yang dulunya menjadi aktifis penumbang Orde Baru, sampai hari ini hanya menjadi duri dalam tubuh.

    Bisanya hanya kritik-kritik dan kritik, sekali diberi kepercayaan dan kedudukan yang ada hanya mencari sensasi dan tidak benar-benar membenahi kondisi yang sudah terlanjur semrawut ini.

    Reformasi bukan hanya semangat gerakan yang hanya ditujukan pada Soeharto dan sisa-sisa sistem korupnya. Tapi reformasi adalah nilai-nilai yang menjadi tanda sebuah peralihan abad, untuk berkehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih demokrasi, adil, makmur dan sejahtera.

    Jangan menjadi aktifis yang teriak perih saat merasa tertindas, tapi tidak mendengar jeritan hati orang lain akibat ulah kita. Jangan membenci Soeharto, bencilah mereka yang Korup, dan yang memanfaatkan demokrasi tanpa mengindahkan Nilai-nilai dan Norma-norma.

    Rahayu!



    Penulis :  ArisIndra   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Jadi? Pengkhianat Reformasi Itu Dia! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top