728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 26 Oktober 2017

    #Warta : Gebuk Nalar Jenderal Bocor, 'Revolusi Putih' Irasional, Padahal Ikan Melimpah Ruah!

    Adik ketua umum partai pemenang Pilkada DKI 2017, Hashim Djojohadikusumo mendatangi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membicarakan revolusi putih. Menurut Hashim, revolusi putih adalah ide dari Prabowo agar anak-anak mendapatkan asupan susu putih yang cukup dan memadai. Namun respons dari Nila Moeloek, Menteri Kesehatan Kabinet Kerja tidak setuju dengan gagasan tidak masuk akal dari Prabowo, dengan berbagai pandangan yang masuk akal.

        Saya agak enggak setuju. Susu kalian tahu dapat dari mana? Dari sapi. Cukup enggak sapi kita? 250 juta penduduk mesti dapat dari mana?... Jadi kalian harus mau makan ikan. Bu Susi (Menteri Perikanan dan Kelautan) sudah capek-capek nenggelamin kapal (pencuri ikan), masa kalian tidak mau makan ikan?... Ada ikan lele, ikan nila, ikan mujair, lebih mudah. Kurang begitu setuju kalau susu saja. Gizi itu harus seimbang. Karbohidrat berapa, protein berapa. Kacang hijau, nasi ganti jagung. Kamu makan beli buah anggur, makanlah itu kesemek… Kita kan tahu, bahwa orang kerdil kita ini otaknya jadi ikut kerdil itu yang kita sedih. Dalam hal ini, ini cukup tinggi. Pada 2013 Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) kita 37,2. Artinya 10 anak, 4 mempunyai stunting… Lalu kalau Pak Prabowo bilang protein, ya kami mendorong. Makan protein itu dari ikan begitu banyak kok. Jangan mengharapkan dari daging," kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2017).

    Bantahan dari menteri kesehatan Nila Moeloek sangat jelas dan sangat masuk akal. Revolusi putih alias revolusi susu sangatlah tidak masuk akal, mengingat karena jumlah penduduk di Indonesia terlalu banyak. Lagipula jumlah sapi di Indonesia tidak cukup untuk memenuhi seluruh hal ini. Lagipula, manusia tidak mutlak minum susu, karena susu adalah produk untuk hewan. Susu sapi adalah produk yang tidak mutlak perlu jadi asupan. Bahkan beberapa rekan yang saya kenal, alergi susu.

    Jika memang Prabowo melalui gubernurnya, Anies Baswedan memaksakan kehendak mereka, tentu di belakangnya ada motivasi yang kurang baik. Berapa anggaran negara yang harus dikeluarkan? Bagaimana jika sapi tidak cukup untuk menjalankan revolusi putih? Sebenarnya ada sumber protein yang jauh lebih masuk akal diadakan di Indonesia.

    Apa lagi kalau bukan ikan? Ikan adalah sumber protein yang didapatkan dari hewan. Ikan yang melimpah ruah menjadi sebuah komoditi yang sangat terjangkau. Indonesia dikenal dengan negara kepulauan, tentu setiap pulaunya bisa mendapatkan ikan melimpah ruah, sebagai sumber protein. Sungai-sungai pun banyak menyediakan makanan semacam ini. Maka jika perlu impor susu sapi, rasanya sangat tercium bau-bau penyelewengan.

    Apakah mereka sudah tidak dapat cara lagi untuk “balik modal” dengan bersembunyi di balik “kesejahteraan anak-anak”? Bukan hal yang mustahil jika penyelewengan dana bisa terjadi. Di tengah-tengah majunya dunia perikanan di bawah kementerian perikanan dan kelautan, Susi Pudjiastuti, mengapa masih harus pakai sapi? Mengapa gunakan revolusi putih?

    Bukankah ada bentuk revolusi lainnya? Misalnya revolusi ikan, revolusi telur, revolusi ayam? Jika memang ingin menyediakan makanan seperti telur, silakan sediakan, karena saya percaya pasokan telur sangat banyak. Mengapa harus susu? Silakan telur, namun jangan sampai kebelet ‘balik modal’, telurnya jangan dikorupsi tinggal putihnya saja ya. Hehehe.

    Saya berharap tindakan korupsi bisa dihindarkan. Anies Baswedan mulai terlihat disetir oleh kepentingan politik pada saat ini. Selama ini, kita tahu bahwa manusia oportunis ini mulai terlihat kesusahan. Ia harus mengakomodasi kepentingan rakyat, setelah itu ia harus menyeimbangkan kinerjanya kepada Ahok. Mengapa Anies bisa terlihat sehancur ini? Sebenarnya jika ingin dilihat secara umum, kinerja Anies biasa saja.

    Namun melihat ia sehancur ini, itu tidak lepas dari peranan Ahok yang sudah mengeset standar yang sangat tinggi seorang birokrat. Indonesia sangat butuh orang-orang yang bukan boneka, bukan gubernur pengembang, yang datang ke rumah Prabowo, bertemu pengembang di pulau reklamasi. Ini adalah keberpihakan kepada ‘balik modal’. Semoga yang saya katakan ini salah.

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis  :   Hysebastian   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Gebuk Nalar Jenderal Bocor, 'Revolusi Putih' Irasional, Padahal Ikan Melimpah Ruah! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top