728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 24 Oktober 2017

    #Warta : Gara-Gara Jokowi, Masa Kampanye Pilpres Nonstop 5 Tahun

    SETELAH terpilih menjadi presiden dalam Pilpres 2014, Joko Widodo (Jokowi) langsung bekerja guna merealisasikan janji-janjinya yang pernah diungkapkan saat kampanye.

    Tak terasa pemerintahan Jokowi sudah berusia tiga tahun pada 20 Oktober lalu. Tak peduli dengan suara sumbang yang terus menerus digaungkan para pembencinya lewat berbagai media, Jokowi terus bekerja.

    Fokus pada pembangunan infrastruktur, pemerintahan Jokowi sukses membangun jalan, termasuk tol sepanjang 2.623 kilometer. Panjang jembatan yang telah dibangun 25.149 meter. Tujuh bandara baru Jokowi bangun dan 439 bandara lama telah pula dibenahi.

    Presiden Jokowi pun telah membagikan langsung 137.035 lembar sertifikat hak milik tanah untuk rakyat. Dalam tiga tahun, ia juga telah membagikan secara langsung 1.286.395 lembar kartu Indonesia sehat (KIS) kepada warga di 514 kabupaten dan kota. KIS telah diterima 182 juta penduduk Indonesia.

    Ia juga membagikan 46.336 lembar kartu Indonesia pintar di 39 kota dan kabupaten dan nikmatnya telah dirasakan oleh lebih dari 8 juta siswa sekolah.

    Berdasarkan survei yang dilakukan sejumlah lembaga (terakhir Kompas), tingkat kepuasan rakyat pada kinerja pemerintahan Jokowi mencapai 70 persen.

    Lalu bagaimana dengan yang 30 persen? Siapa sebenarnya mereka? Saya menduga, mereka adalah segolongan manusia yang menyimpan dendam kesumat kepada Jokowi sejak mantan wali kota Solo dan gubernur Jakarta ini terpilih secara demokratis sebagai presiden.

    Mereka inilah yang sampai sekarang berulah layaknya Tom (kucing) yang frustrasi dalam film kartun Tom & Jerry karena tidak mampu mengakali dan menakhlukkan si Jerry (tikus) yang cerdik.

    Manusia Tom-Tom itulah yang sebelum dan setelah Jokowi terpilih dalam Pilpres 2014 menjadikan suasana kampanye Pilpres berlangsung setiap hari selama tiga tahun, bahkan mungkin lima tahun, hingga 2019.

    Bayangkan, setiap hari mereka tidak jemu-jemu mencari akal agar Jokowi gagal memimpin negeri ini dan kalau perlu jangan berlanjut menjadi presiden hingga tahun 2024. Dengan berbagai cara, mereka membangun opini publik bahwa Jokowi nol prestasi.

    Isu yang mereka goreng memang menjadi hiburan tersendiri buat warga negara yang masih waras. Isunya lucu-lucu dan membuat kita yang waras terpingkal-pingkal hingga perut terasa keram.

    Bagaimana kita yang waras tidak tertawa, sebab sejak sebelum terpilih menjadi presiden, Jokowi diisukan beragama Kristen (Katolik). Isu ini terus diusung pada tahun pertama Jokowi terpilih. Mereka gagal tapi sukses membuat anak-anak bangsa tertawa. Nitip ide dong untuk Pilpres 2019, ganti isu Jokowi Kristen dengan Jokowi penganut Shinto. Masa sih Kristen terus yang dijadikan kambing hitam.

    Tak mempan dengan kristenisasi terhadap Jokowi, si Tom dan kawan-kawan menggulirkan isu Jokowi keturunan China? Gagal maning. Semoga menghadapi Pilpres 2019, kaum sumbu pendek mampu menciptakan isu baru Jokowi keturunan Rakhine, salah satu suku di Myanmar. Ngapain bikin isu nanggung-nanggung?

    Gagal menggoreng isu Jokowi keturunan China, pasukan kampanye Pilpres tiada henti membuat lawakan baru bahwa Jokowi antek PKI. Juga gagal, sebab siapa yang tidak tertawa termehek-mehek, sebab ketika G-30-S/PKI meletus, Jokowi masih berumur 4 tahun.

    Silakan Anda bayangkan, seusia itu Jokowi seperti apa? Saya menduga Jokowi masih ingusan dan sesekali menjilat ingusnya sendiri saat meleleh ke bibir. Si Tom dan konco-konconya mungkin menduga saat itu Jokowi sudah memimpin koordinator PKI ranting Tirtonadi Solo.

    Dalam upaya menyemarakkan kampanye presiden tiada henti, para musuh Jokowi semoga semakin kreatif dengan menciptakan isu baru bahwa saat SD, Jokowi pernah sekolah di Pyongyang, Korea Utara, dan meraih gelar doktor di Rusia sebagai bekal untuk menjadi tukang kayu. Bikin isu jangan nanggung bro.

    Ah, agar Jokowi termehek-mehek, mereka yang tidak bahagia si tukang kayu jadi presiden, membuat isu lagi Jokowi antek aseng dan asing. Duh, kasihan, lagi-lagi "gatot" (gagal total), sebab semua itu tidak terbukti. Freeport (asing) malah "disikat" Jokowi. Ya, harap malum kalau AS balas dendam mencekal Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

    Ada lagi isu yang tak kalah seru. Wow, seram! Karena pro-China, pemerintah Jokowi diisukan mendatangkan 10.000.000 tenaga kerja asing dari China. Gila, kapan mereka datang? Mereka masuk ke Indonesia serentak atau diam-diam. Kalau serentak naik pesawat apa ya? Kok nggak ketahuan. Mereka sekarang tinggal di mana? Di apartemenkah? Ngontrak rumah petak Rp 400.000-an sebulan atau tinggal di hotel?

    Nggak tahu gimana asal-usulnya, si Tom dan kawan-kawan menggoreng isu bahwa Jokowi harus bertanggung jawab atas nasib pengungsi Rohingya di Myanmar. Jokowi dipaksa mencampuri urusan dalam negeri orang lain. Demi kemanusiaan, Jokowi diam-diam memberikan bantuan kepada para pengungsi Rohingya. Tom dan sekutunya "gatot" lagi menggoreng isu Rohingya.

    Semoga mendekati 2019, mereka kreatif menggoreng isu dan protes (kalau perlu lewat demonstrasi) mengapa Jokowi tidak peduli dengan rakyat Palestina, Suriah, Afghanistan, Pakistan, Irak, dan Filipina Selatan.

    Wow, ini super kreatif. PKI bangkit! Katanya, ada 15.000.000 anggota PKI gaya baru yang diam-diam telah merangsek ke masyarakat. Nanggung amat. Tambahlah satu nol lagi: 150.000.000 biar gemanya semakin terasa, sehingga muncul gerakan takut bersama layaknya kita nonton film "Pengabdi Setan".

    Isu paling gres adalah Pilkada DKI Jakarta. Ini yang agak serius. Lewat Pilkada DKI, mereka sukses mengantarkan Anies dan Sandi jadi DKI-1 dan DKI-2 lewat program mayat dan ayat. Anies kini asyik banget melempar senyum dan mengusung isu pribumi dan bukan pribumi. Arab langsung diterima tanpa fit and proper test menjadi pribumi.

    Gedung-gedung peninggalan sejarah di Jakarta pun dikelompokkan ke dalam pribumi dan non-pribumi (Belanda).

    Terpilihnya Anies diharapkan menjadi senjata ampuh untuk melestarikan kampanye pilpres selama lima tahun, sebab sangat mungkin Anies akan dicalonkan menjadi wakil presiden berpasangan dengan Prabowo (capres).

    Jika Anies nglunjak, bisa saja ia pamit sebagai gubernur DKI pada 2019 dan mencalonkan diri jadi presiden berpasangan dengan Rizieq. Politik balas jasa gitu loh.

    Maklum, kampanye pilpres selama lima tahun tidak boleh dihentikan, terutama buat si Tom. Pasukan tempur di lapangan, seperti para mahasiswa yang ogah-ogahan kuliah dan anggota pasukan nasi bungkus yang bermata pencarian demonstrasi harus terus disiapkan dalam posisi siaga satu.

    Konkretnya, kerja Jokowi harus digagalkan atau dianggap gagal seperti yang tempo hari disuarakan para mahasiswa yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia lewat aksi unjuk rasa di Jakarta.

    Simak nih kata mereka sebagaimana diberitakan metrotvnews (20/10): "Terbukti Jokowi telah gagal memimpin Indonesia. Nawacita yang dijanjikan pada masa kampanye tidak terbukti hingga kini."

    Salah seorang orator bilang Jokowi-JK gagal di berbagai sektor. Di antaranya di bidang infrastruktur dan ekonomi.

    Mantap! Kalau dia mahasiswa politik dan menjawab soal ujian seperti itu, saya yakin dosennya pasti akan memberikan nilai A dengan catatan sang dosen alumni nomor cantik 212



    Penulis :  Gantyo Koespradono   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Gara-Gara Jokowi, Masa Kampanye Pilpres Nonstop 5 Tahun Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top