728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 21 Oktober 2017

    #Warta : Demo 3 Tahun Jokowi, dan Anies, Anas, Andi, Angie, Agus: Bobroknya Politik Identitas Islam Radikal

    Demo tiga tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sungguh pantas ditertawakan. Cara dan orang yang demo pun menunjukkan pola dan orang yang itu-itu saja. Kampusnya? Dan yang demo? Ya kampus HTI seperti IPB tentunya. Tujuannya bukan buat demo, tetapi membuat framing dan berita. Semua didanai oleh cukong politik yang sama dengan peristiwa demo kriminalisasi Ahok: tangan-tangan Islam radikal dan kaki tangan rezim SBY. Kenapa? Polanya sama. Ingin rusuh.

    Telanjangi Demo Framing Kecil

    Untuk memahami maksud kecil demo itu, ada baiknya disampaikan kejahatan di balik demo yang sederhana itu dan siapa pemainnya. Bahwa sesungguhnya sebelum demo berlangsung, serangkaian framing sudah disiapkan.

    Dalam briefing dan komunikasi antar mereka sebelum demo kemarin, di Bogor, Jakarta dan Makassar – tempat bersemainya dan gerakan Islam radikal – para mahasiswa yang sebagiannya tidak memahami menjadi kaki tangan politik identitas, dicanangkan untuk melanggar aturan.

    Salah satunya adalah melanggar jam izin demo yakni pukul 18:00. Terbukti demo berlangsung hingga tengah malam. Lainnya adalah melakuan provokasi dengan melawan petugas agar terjadi kekerasan. Terbukti merusak alat-alat keamanan Polri.

    Selanjutnya, dengan demo penuh kerusuhan maka media penyokong mereka seperti Detik.com mewartakan. Selanjutnya, korban diekspos dengan pendekatan SARA dan RAISA. Maka sekarang tersebarlah meme untuk memojokkan Jokowi dengan membawa-bawa identitas Islam radikal.

    Anies Bagian dari SBY dan Bobroknya Moral Politik

    Menyebut Anies dan empat nama lainnya dengan awalan huruf A di judul di atas, sungguh menonton kegagalan moralitas politik Indonesia. Para manusia berawalan huruf A ini merupakan sampah dalam politik nasional yang merusak tatanan dan keharmonisan kehidupan NKRI. Mereka menyumbangkan potret kebobrokan moral politik yang tak tertanggungkan demi kepentingan pribadi dan kelompok. Sepak terjang mereka sungguh memuakkan.

    Kehidupan politik yang awalnya waras atau setengah waras terjadi sejak 13 tahun lalu. Naiknya SBY ke tampuk kekuasaan tidak memberikan dampak apapun bagi bangsa Indonesia selain kereta api Indonesia yang berkelas dunia. Korupsi menjadi matra kehidupan rezimnya. SBY memelihara subsidi dan mafia Petral untuk kepentingan mereka, dan jelas investasi pasca turun telah memiliki modal politik dan kroni tanpa batas.

    Persiapan matang 10 tahun SBY membangun kroni politik dan ekonomi masif itu berhasil dibuktikan dalam pilkada DKI 2017 lalu. Menjadi provokator kasus Ahok, SBY berhasil menjadi kompor. Besaran perputaran uang dalam berjilid demo yang dibiayai oleh aliansi ringan dan hubungan sel putus kroni begitu efektif menggerakkan demo bayaran.

    Selain membangun kroni ekonomi dan mafia ekonomi yang luar biasa, dalam bidang radikalisme khususnya Islam radikal, SBY berhasil membesarkannya dengan tidak berani bertindak dan justru memfasilitasi gerakan Islam radikal dan bahkan anti Pancasila seperti HTI dan aneka ormas lainnya.

    Untuk menancapkan kukunya, SBY dengan Demokrat-nya juga membangun majelis taklim politik untuk menarik kalangan Islam oportunis. Tujuannya adalah untuk memberikan legitimasi dan politik idetitas yang menjadi matra dan keyakinan strategi politik culas dan jahat SBY.

    Kejahatan niatan dan matra politik identitas itu menjadi lebih gila ketika unsur politik identitas Islam radikal diajak bergabung untuk melawan kaum Bumi bulat, kaum nasionalis, kaum Islam moderat nan waras, dan kaum pencinta NKRI. Tak pelak SBY pun melihat Islam radikal sebagai investasi politik pasca dia turun gelanggang dari kekuasaan.

    Pola dan strategi politik yang dipraktekkan dengan mengumpulkan pundi kekuatan uang dan strategi pecah-belah dalam beberapa hal berhasil. Namun di sisi lain juga tidak selamanya menguntungkan. Contoh aktual adalah upaya menaikkan Agus ke tampuk kekuasaan di Indonesia tidak akan pernah berhasil. Penyebabnya adalah dia selalu mencari kemenangan dengan pihak lawan kalah seluruhnya: the winner takes all. Pun musuh politik dan kawan politik SBY pun selalu menjadi korban keculasan politik kejam tanpa ampun.

    Potret kekejaman politik SBY itu adalah terwujud dalam bentuk pemenjaraan para pentolan partai Demokrat. Proyek-proyek nasional berdana APBN menjadi bancakan politikus, mafia, dan koruptor. Yang terbesar tentu adalah berbagai proyek abal-abal yang mangkrak, seperti Hambalang. Pemalingan dan perampokan uang Century yang melibatkan Boediono, namun menyelamatkan SBY.

    Selainnya, publik masih ingat Gamawan Fauzi menjadi pemandu dan legitimasi korupsi besar dengan melibatkan puluhan anggota DPR – E-KTP. Lagi-lagi SBY tidak tersentuh – demikian pula para penerima uang yang menjadi aktor pun tidak tersentuh. Mereka inilah yang menjadi alat dan pendukung kuatnya Pansus KPK. Luar biasa.

    Masuknya Prabowo

    Kepentingan politik SBY yang memelihara gerakan Islam itu semakin mendapatkan momentum ketika Prabowo yang frustasi – akibat komporan Fadli Zon dan partai agama PKS - pun ikut masuk ke gerbong jalan sesat politik identitas Islam radikal yang secara diam-diam dibangun, disemai, dipupuk, sampai memiliki kesempatan membangun istana bagi Rizieq di Megamendung dengan puluhan hektar tanah hutan yang sudah dilegalisasi.

    Masuknya Prabowo membuat peta dukungan terpecah. Rebutan dukungan dari kalangan Islam radikal yang jumlahnya segelintir itu pun juga menggerus dukungan dari nasionalis yang semula mendukung Prabowo dan SBY. Maka untuk itu hanya dengan mereka bergabung yang bisa membuat mereka masih bisa berkiprah di Pilpres 2019. Itupun akan sulit karena ego mereka masing-masing.

    Hancurnya Politik Identitas

    Dan …eng ing eng … masuknya Anies ke dalam politik juga membuat situasi semakin repot. Perpecahan semakin menganga antara Prabowo dan Anies. Karena ambisinya mengancam posisi Prabowo karena keterbatasan parpol pendukung.

    Belum lagi kubu Jokowi dengan tepat menggandeng dan melakukan konsolidasi politik dengan para purnawirawan TNI dan Polri – yang artinya menjauhkan Prabowo dan SBY dari kekuatan influencer riil politik Indonesia.

    Maka sempurnalah kehancuran strategi yang selama 10 tahun dibangun atas dasar politik bobrok dengan tujuan korupsi, maling, merampok uang negara, merusak dan memecah belah NKRI dengan politik identitas Islam radikal tersembunyi.

    Dengan menghadirkan Anies, politik identitas Islam radikal itu muncul dalam bentuk nyata head-to-head saling berhadapan dengan politik santun nan indah NKRI. Pun investasi korupsi ala pentolan Demokrat Anas, Andi, Angie, dan Agus Tjondro tidak serta merta akan langgeng untuk 2019. Dan masuknya Anies justru menjadi bagian kehancuran politik bermoral bejad: politik identitas Islam radikal! Bagaimana dengan demo kemarin? Kembali ke lima paragraph awal di atas. Tak penting dan tegas ditindak. Demikian the Operators. Salam bahagia ala saya.



    Penulis :   Ninoy N. Karundeng    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Demo 3 Tahun Jokowi, dan Anies, Anas, Andi, Angie, Agus: Bobroknya Politik Identitas Islam Radikal Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top