728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 18 Oktober 2017

    #Warta : 'Cedera', Playmaker Kemenangan Tidak Hadir Pelantikan Anies Sandi

    Ironi itu adalah ketika orang terpenting dalam kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno tidak hadir pelantikan. Bayangkanlah, ketidakhadiran sang pengumpan lambung kemenangan Anies Sandi benar-benar terjadi, dan tidak main-main.

    Play maker yang mengumpan bola tinggi-tinggi dan sangat nikmati diterima oleh Anies Sandi dalam membobolkan gol dari kemenangan Anies Sandi di dalam pelantikan gubernur, ternyata cedera berat. Ratusan hari ia harus meninggalkan lapangan hijau arena pertandingan, bahkan sebelum dilantik sekalipun, karena kasus yang mencederai dirinya.

    Mau tidak mau, harus kita akui bahwa play maker bernomor punggung 212, merupakan orang yang paling berjasa dalam memenangkan Anies Sandi. Setelah dicap sebagai tersangka kasus sex chat, ia sempat hadir dalam ke-cedera-annya ke polisi untuk diperiksa.

    Namun belum selesai diperiksa, ia kadung pergi ke negara lain, mungkin ingin mendapatkan naturalisasi di negeri Arab, karena ia sangat dipermalukan di Indonesia? Sebenarnya siapa yang mempermalukan play maker ini? Apakah polisi dan pemerintah yang mempermalukan dirinya? Tidak.

    Sangat salah jika kita menganggap manusia dengan jubah putih dan jenggot setengah abu-abu yang bukan pribumi dengan nomor punggung 212 ini dikriminalisasi. Lantas siapa yang mempermalukan manusia ini? Jawaban sederhana, adalah dirinya sendiri dan pasangan yang juga dijadikan tersangka. Pasangan belum sah (jika tidak ingin dikatakan ‘tidak sah’) dari orang ini, menjadi orang yang melakukan tackle keras kepada pengumpan.

    Kebahagiaan puncak yang dirasakan oleh pasangan Anies Sandi dalam menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, benar-benar tidak dirasakan oleh play maker ini. Selebrasi gol besar-besaran, tentu menjadi sebuah selebrasi yang patut dilakukan dengan heboh, karena apa yang menjadi pergelutan di tengah lapangan, menjadi sebuah pergumulan yang sangat mengerikan.

    Tackle keras yang dilakukan oleh play maker dengan kekuatan tujuh juta umat kepada oposisi, tidak dianggap sebagai sebuah pelanggaran yang berarti. Protes-protes dari kubu oposisi pun dianggap sepi dan diabaikan, karena serunya pergelutan di lapangan.

    Memang harus diakui bahwa pergelutan di tengah lapangan ini diinisiasi oleh seorang pemain one-man-show bernama Basuki Tjahaja Purnama, bukan one-inch-puncher bernama Saitama. Pun di dalam periode injury time, akhirnya Basuki Tjahaja Purnama diganjar kartu merah, karena silat lidah yang dilakukannya.

    Lucunya, silat lidah tersebut dianggap sangat mengerikan, karena itu bukan hanya tidak boleh bermain di dalam beberapa pertandingan, ia harus dihukum selama dua tahun, setelah itu, kemungkinan besar ia tidak boleh bermain sama sekali selamanya. Ini adalah angin segar bagi play maker bernomor punggung 212. Orang ini mulai melancarkan serangan-serangan yang begitu gencar, sampai akhirnya di tepi lapangan, umpan lambung pun dilontarkan kepada pasangan Anies Sandi yang membobolkan gol kemenangan.

    Rasanya, ini adalah analogi yang sangat tepat di dalam menjelaskan apa yang terjadi dalam dunia perpolitikan di Jakarta. Sadarkah para pembaca Seword bahwa sampai saat ini, saya belum menyebutkan nama play maker tersebut secara eksplisit, namun para pembaca seolah-olah sudah tahu nama orang tersebut. Ya, inilah kekuatan sebuah kalimat.

    Sebuah kalimat yang ditempatkan oleh seseorang dalam konteks yang mirip, seolah-olah akan menjadi kebenaran. Hal yang sama dan strategi perang ini juga digunakan oleh kaum sebelah. Mereka mengulang-ulang pemberitaan dan opini tertentu dengan cara yang terstruktur, sistematis, dan masif, untuk memenangkan sebuah pergelutan di tengah lapangan sepak bola politik. Mengerikan sekali bukan? Lantas bagaimana cara kita meladeni mereka? Apakah dengan cara yang sama?

    Rasanya untuk melakukan serangan balik atau counter attack dengan cara yang sama, itu kurang elegan. Jadi bagaimana cara memenangkan pertandingan ini? Satu jawaban saya, mari kita ajak mereka berperang bukan di atas lapangan hijau, karena kuda sangat hebat bermain di lapangan hijau. Lah setelah play maker, siapa lagi si kuda? Kita ajak ke lapangan yang jauh lebih kecil dari lapangan kuda. Lapangan apa itu? Apa lagi kalau bukan lapangan catur? Inilah yang digunakan oleh seorang maestro catur, yang benar-benar memetakan siapa hitam, dan siapa putih.

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis : Hysebastian    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : 'Cedera', Playmaker Kemenangan Tidak Hadir Pelantikan Anies Sandi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top