728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 02 Oktober 2017

    #Warta : Apakah Ini Artinya Prabowo Sudah Tidak Menarik Lagi?

    Capture diatas adalah dari akun twitter pendukung PKS yang cukup terkenal dengan nama berbau-bau piyu gitu. Saya gak akan sebut namanya nanti jadi terkenal. Tapi apa mungkin Prabowo sudah tidak menarik lagi, ia juga sepertinya sudah kehabisan senjata melawan Jokowi.

    Kalau diingat-ingat menurut saya salah satu penyebab mengapa Prabowo bisa mendapatkan banyak dukungan saat 2014 lalu adalah iklan yang begitu gencar. Wajar setelah sekian kali mencoba menjadi Presiden, banyak pengamat mengatakan bahwa 2014 adalah Pilpres terakhir bagi Prabowo. Jadi 2014 yang lalu adalah “do or die” nya Prabowo.

    Tapi sayangnya Prabowo harus melawan Jokowi, orang yang namanya juga sedang naik daun. Bedanya Jokowi menjadi terkenal bukan karena iklan di televisi yang masif tapi dari karakternya. Jujur, rendah hati dan kerap blusukan membuat banyak masyarakat Indonesia terpikat. Apalagi 10 tahun sebelumnya Indonesia dipimpin oleh seorang Jendral yang….yah gitu deh. Sosok Jokowi menjadi harapan baru bagi rakyat Indonesia, maka tak heran kalau Jokowi bisa memenangi pertempuran berdarah-darah. Kemudian setelah Pilpres Prabowo pun menghilang….

    Saat Pilkada DKI Prabowo tiba-tiba muncul kembali, meminta pendukungnya untuk memilih Anies-Sandi. Meski Ahok pada akhirnya harus kalah tapi semua tahu bahwa Ahok kalah bukan karena Prabowo tapi Ahok kalah karena Ahok sendiri. Ucapannya digoreng pakai tepung biar renyah dan dikasih bumbu penyet agar pedesnya nendang. Meski Anies-Sandi menang saat Pilkada DKI, bukan berarti Prabowo otomatis bisa menang melawan Jokowi.

    Seperti biasa Prabowo menghilang kembali setelah Pilkada usai. Lalu tiba-tiba muncul saat isu Rohingya memanas. Prabowo naik panggung, disambut dengan ucapan “Presiden kita”, ia pun berpidato dan mengatakan Jokowi pencitraan ketika mengirimkan bantuan ke Rohingya. Bahkan ia pun mengatakan bantuan tersebut kadang-kadang tidak sampai.

    Menurut saya, ini pernyataan yang gegabah dan justru bisa menjatuhkan elektabilitas dirinya. Pernyataan tersebut menjadi bulan-bulanan warga net, sampai-sampai Gerindra harus menjelaskan maksud dari pernyataan Prabowo soal bantuan yang ia bilang pencitraan.

    Sebelum naik panggung dan berkata demikian, partai Gerindra dihantam kejadian yang mencoreng muka mereka. Seorang kadernya membakar 7 sekolah hanya untuk mendapat proyek. Lalu Saracen pun terbongkar dan kedekatan Asma Dewi yang terlihat dari foto-fotonya membuat publik bertanya-tanya.

    Soal elektabilitas Prabowo, meski belum ada survei yang jelas tapi saya menduga elektabilitasnya merosot tajam seiring dengan meningkatnya isu negatif terhadap Gerindra juga meningkatnya kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi. Padahal dulu Jokowi hanya menang tipis dari Prabowo. Ini bisa menjadi indikasi bahwa Prabowo kehilangan banyak pendukungnya. Indikasi lainnya adalah Prabowo yang tiba-tiba muncul pada aksi bela Rohingya, agak diluar kebiasaannya.

    Setelah berkali-kali gagal memenangkan Pilpres, adanya indikasi kehilangan dukungan, juga usianya yang sudah semakin tua, bisa saja membuat partai pendukungnya ragu untuk terus mendukung Prabowo sebagai Capres di ajang pilpres 2019 nanti. Apalagi PKS yang selama ini tersingkir dari pemerintahan. Mereka tidak mau kalah lagi. Mereka butuh tokoh baru yang masih segar, muda dan tidak memiliki sejarah kelam.

    Ketika Gatot Nurmantyo menyatakan memerintahkan seluruh pasukannya untuk menonton G30S/PKI, semua orang bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Pak Gatot? Tidak sedikit juga yang curiga bahwa Pak Gatot ingin maju sebagai Capres di 2019. Apalagi jauh sebelumnya desas desus Pak Gatot akan mencolonkan diri sebagai Capres sudah terdengar, bahkan sempat ditanyakan oleh Karni Ilyas saat di ILC. Saat itu Pak Gatot tegas mengatakan bahwa dirinya tidak akan maju sebagai Capres.

    Saat isu kebangkitan PKI ramai diperbincangkan, nampaknya kode-kode antara Pak Gatot dengan beberapa partai pendukung Prabowo mulai terjadi. Pada tanggal 27 September 2017 Pak Gatot menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Dewan Perwakilan Rakyat dan mengatakan

        “Saya datang ke sini karena memang saya bangga dengan partai ini yang konsisten,” kata Gatot
        https://nasional.tempo.co/read/1020233/gatot-nurmantyo-memuji-pks-sebagai-partai-yang-konsisten#arGKLJHqteKdzLKk.99

    Dan pada tanggal 29 September PKS pun merespon dengan

        “Pak Gatot bagi PKS salah satu calon (capres) potensial. Bahkan ada daerah yang sudah meminta,” kata Sohibul Iman di Yogyakarta

        https://news.detik .com/berita-jawa-tengah/d-3664561/menurut-pks-jenderal-gatot-nurmantyo-capres-potensial-2019

    Sementara beberapa bulan sebelumnya, PAN pun sudah mulai melirik Pak Gatot

        “Kriteria menjadi pemimpin sudah ada di diri beliau. Pak Gatot itu kan dari prajurit bawah kan. Dari Akmil (Akademi Militer), Letda (letnan dua) sampai jenderal penuh,” tutur Ketua DPP PAN Yandri Susanto.

        “Dari sisi kepemimpinan teritorial, dari sisi kepemimpinan di dalam gedung, dari hubungan intenasional saya kira memang Pak Gatot layak,” kata dia.

        http://nasional.kompas .com/read/2017/08/18/17413661/jenderal-gatot-nurmantyo-masuk-radar-pan-untuk-diusung-sebagai-capres

    Pak Gatot sendiri sejauh ini belum menyatakan dengan tegas akan maju. Beliau mengatakan tidak etis jika seorang Panglima TNI bermimpi menjadi Presiden.

    Saya sendiri tidak mau berspekulasi terlalu jauh soal Pak Gatot menjadi Capres, akan tetapi melihat upaya partai-partai pendukung Prabowo melirik Gatot Nurmantyo, membuat saya bertanya-tanya apakah Prabowo mulai ditinggalkan?

    Kalau dipikir-pikir sosok Gatot Nurmantyo itu sebagian besar mirip dengan Prabowo. Seorang Jendral yang gagah, pemimpin yang sepertinya tegas, sepertinya berani, dan sebagainya. Mirip dengan Prabowo kecuali Pak Gatot itu lebih muda dan tidak memiliki sejarah kelam dibelakangnya. Tentu ini figur yang sesuai dengan para pendukung sebelah yang kerap menjelek-jelekkan Jokowi dari penampilannya.

    Jika pada akhirnya Pak Gatot ingin maju menjadi Capres maka ia juga harus mendapatkan dukungan dari Demokrat untuk memenuhi presidential threshold PKS dan PAN tidak akan cukup. Sementara Gerindra pasti akan kebingungan, jagoannya ditinggal pendukungnya. Apakah gera’an seperti ini sudah terbaca oleh mereka jauh-jauh hari, hingga mereka sempat ngotot menghilangkan ambang batas 20% dukungan?

    Maju mencalonkan diri sebagai Presiden tentu boleh-boleh saja, saya hanya berharap semoga pada kampanye nanti tidak terjadi lagi seperti Pilkada DKI yang lalu.

    Dan yang jelas siapapun lawannya saya pasti dukung Jokowi.

    Begitulah kelelawar




    Penulis  :     Gusti Yusuf     Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Apakah Ini Artinya Prabowo Sudah Tidak Menarik Lagi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top