728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 22 Oktober 2017

    #Warta : Anies Diskresi Sepatu, Ahok Diskresi Reklamasi

    Saya tanya sama Mas Anies, 'Mas, ini ada Peraturan Gubernur harus pakai sepatu kulit. Boleh enggak saya dapat diskresi pakai running shoes?'" kata Sandiaga. "Memudahkan enggak bro?" lanjut Sandiaga lagi menirukan Anies. Sandiaga lalu menjawab penggunaan running shoes sangat memudahkan dalam mobilitas. Apalagi, Sandiaga juga sudah bertekad untuk lari ke Balai Kota dari rumahnya setiap seminggu sekali. Akhirnya, Anies mengabulkan permintaan Sandiaga. "Ya sudah deh saya kasih diskresi buat pakai sepatu," ucap Sandiaga lagi menirukan Anies.

    Sumber : http://megapolitan .kompas .com/read/2017/10/21/16144241/ngantor-pakai-sepatu-lari-sandiaga-dapat-diskresi-dari-anies

    Diskresi merupakan keputusan dan/atau tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh pejabat pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundang-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi pemerintahan. Namun, penggunaannya harus oleh pejabat yang berwenang dan sesuai dengan tujuannya.

    (Pasal 1 Angka 9 UU 30/2014, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan)

    Saya bersyukur pekerjaan yang saya tekuni saat ini tidak mengharuskan saya pergi ke kantor. Kantor saya hanya 30 detik dari kamar tidur saya. Karena memang letaknya persis di sebelah kamar tidur saya. Saya bisa ‘ngantor’ mengenakan celana boxer dan kaos robek. Kaos robek saya ganti dengan kaos yang tidak robek kalau ada meeting online dengan karyawan dan rekanan. Dan saya jelas tidak perlu minta ‘diskresi’ soal sepatu apa yang saya gunakan.

    Sandiaga Uno yang pernah masuk 50 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes, pasti juga bisa seperti saya, bahkan lebih. Bisa saja dia pake celana pendek sepanjang hari seperti Bob Sadino. Atau pake kaos warna abu-abu setiap hari seperti Mark Zuckerberg. Pastinya tidak ada yang berani ribut mengkritik, toh dia boss perusahaannya sendiri. Dia yang buat aturan. Bahkan kalau aturannya berbunyi: semua karyawan harus memakai sepatu kulit, kecuali saya. Itu pun saya jamin tidak ada yang berani protes atau usil. Suka-suka dia, kan perusahaannya sendiri.

    Tapi ketika Sandiaga Uno menjadi pejabat publik. Ada aturan berpakaian yang harus ditaati. Pak Sandiaga Uno, orang terkaya nomor sekian di Indonesia, bukan lagi boss di perusahaan, tapi pelayan masyarakat yang terikat aturan-aturan yang bahkan diatur dengan Pergub. Bisa dimaklumi, perubahan ini mungkin agak berat bagi seorang yang terbiasa bikin aturan yang sesuai dengan kesukaan dan kenyamanan pribadinya.

    Soal preferensi bisa dimaklumi. Soal ketidak-tahuan juga bisa dimaafkan. Yang tidak bisa diterima adalah penggunaan hak istimewa ‘diskresi’ yang dilakukan sesuka hati demi kepentingan pribadi. Disebutkan dalam undang-undang bahwa diskresi adalah demi mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Saya yakin soal kenyamanan bersepatu tidak masuk kategori: penyelenggaraan pemerintahan.

    Demikian juga disebutkan bahwa diskresi hanya untuk “peraturan perundang-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi pemerintahan.” Nah.. kalo soal sepatu itu sudah diatur dengan lengkap dan jelas.

    Yang dilakukan Anies dengan memberikan hak istimewa untuk mengenakan sepatu lari BUKAN diskresi. Itu hak istimewa yang diberikan seorang teman kepada teman baiknya. “Buat elu bolehlah.” Meski hak istimewa tersebut jelas-jelas melanggar aturan. Dan hanya semata-mata demi kenyamanan sang teman yang malas membawa sepasang sepatu resmi ke kantor. Persetan aturan. Kalau perlu kita ubah aturan demi teman.

    Selamat datang kembali Jakarta lama! Aturan bisa dipelintir demi kepentingan orang dekat (dalam hal ini kenyamanan bersepatu hihihi). Kedekatan pribadi menjadi factor penentu kebijakan. Pejabat publik mendapatkan perlakuan istimewa. Disiplin dan profesionalitas tidak penting, toh atasannya saja tidak ikut aturan.

    Soal minta hak istimewa ini agaknya penyakit mental yang sudah mengakar di sebagian masyarakat Indonesia. Terutama sebagian orang yang tahu-tahu ketiban jabatan. Minta diperbolehkan pakai sepatu lari. Minta dibukakan jalan, padahal lalu-lintas sedang one-way. Minta dikawal kemana-mana dan diberi prioritas dalam kemacetan. Di belakang itu ada banyak permintaan lain: minta proyek, minta komisi, minta saham, minta setoran, dan banyak permintaan lain. Mental tukang minta-minta?

    Saya mengenal kata ‘diskresi’ gara-gara Ahok yang menyebutkan dirinya membuat diskresi untuk meminta kontribusi tambahan dari pengembang reklamasi sebesar 15 persen. Kontribusi ini untuk pemerintah daerah DKI Jakarta. Yang pada akhirnya berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Sulit untuk tidak membandingkan keduanya. Gubernur lama membuat diskresi agar menambah kas Pemprov DKI untuk kepentingan masyarakat luas. Gubernur baru membuat diskresi agar teman baiknya nyaman mengenakan sepatu. Ya…sudahlah!



    Penulis  :   Petrus Wu    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Anies Diskresi Sepatu, Ahok Diskresi Reklamasi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top