728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 26 Oktober 2017

    #Warta : Alasan Kuat Kenapa Gatot dilarang Datang ke Amerika

    Jujur saja, jarang-jarang saya teringat pada Prabowo, tapi ketika mendengar berita tentang Panglima TNI yang dilarang datang ke Amerika, saya ingat Prabowo. Pihak yang menolak Pak Gatot datang dari U.S . Customs and Border Protection, sebuah organisasi pemerintah AS yang bertugas mengawasi setiap orang maupun barang yang akan masuk ke AS. Intinya, menjaga perbatasan Amerika dan warga AS dari masuknya orang-orang dan barang-barang berbahaya ke negara mereka.

    Kita tentu masih ingat, pada 2014 lalu Prabowo juga pernah dilarang berkunjung ke Amerika untuk menghadiri wisuda puteranya di daerah Boston. Alasannya, yang menjadi desas-desus, adalah masa lalu Prabowo yang dianggap terlibat kejahatan perang ketika ia masih menjadi bawahan Soeharto. Selain Prabowo, masih ada beberapa jenderal lain yang pernah dilarang masuk AS, salah satunya Wiranto.

    AS sangat peduli pada track record seseorang dalam menentukan apakah seseorang itu “berbahaya” atau tidak. Mungkin saat ini Prabowo bukanlah ancaman, tapi di masa lalu ia pernah tercatat (atau paling tidak diduga) terlibat kejahatan perang atau pelanggaran HAM, dan karenanya ia dianggap berbahaya.

    Sebelum masuk ke Gatot, saya ingin mengapresiasi apa yang dilakukan AS untuk menjaga wilayah mereka dengan menerapkan sistem pengawasan seperti ini. Setiap negara besar sebaiknya memiliki proteksi semacam ini, yang bukan hanya menjaga kemanaan dalam negeri tetapi juga menjaga nama baik mereka—dengan menolak masuk siapa pun yang punya sejarah kriminal yang belum selesai.

    Saya membayangkan seandainya Arab Saudi juga memberlakukan sistem serupa, maka pihak-pihak yang sedang terkait kasus hukum seperti Rizieq, Amien Rais dan Eggy tentu tidak bisa seenaknya kabur dari jeratan hukum, apalagi menggunakan alasan umrah. Saat ini Rizieq malah menetap lama di sana, menjadikan Arab sebagai tempat perlindungan dari pelanggaran hukum dan perbuatan mesumnya di kampung halaman. Betapa memalukan. Setiap negara mestinya tidak boleh membiarkan siapa pun yang sedang terjerat kasus hukum di negaranya untuk masuk ke negara mereka. Para kriminal tersebut mestinya dibatasi ruang geraknya sehingga bisa lebih mudah diproses.

    Jika tidak ada aturan semacam itu, saya yakin Rizieq tidak akan pernah pulang ke Indonesia selama Indonesia masih dipimpin Jokow. Dengan tegas Jokowi menginstruksikan kepada pihak kepolisian untuk menindak para pelaku ujaran kebencian, contoh Saracen, karena perbuatan itu sangat berbahaya bagi persatuan dan kerukunan antarwarga negara. Rizieq sudah pasti akan ditangkap kalau berani pulang, disidang, kemudian berakhir nginep di penjara.

    Kembali ke Gatot, nampaknya ada miskomunikasi atau misadministrasi yang dilakukan pihak keamanan Amerika dalam menilai Gatot.

    Bagaimana pun, tidak ada asap kalau tidak ada api. Pasti ada hal yang menyebabkan mereka tiba-tiba tidak bisa tepat waktu dalam mengeluarkan protokol keamanan untuk Gatot dan rombongan, sebelum pesawat yang akan membawa mereka lepas landas. Kalau itu benar, artinya ada keraguan dari pihak keamanan AS dalam mengeluarkan izin kepada Gatot. Ada sesuatu yang membuat mereka menganalisis kembali status Gatot dan rombongan yang akan mengunjungi AS. Jika dokumen Gatot bersih, tentu mudah saja bagi mereka untuk menerbitkan izin tersebut.

    Masalahnya, apa yang membuat mereka ragu menerbitkan izin? Adakah Gatot juga punya jejak hukum yang buruk di masa lalu? Tidak juga, karena pada 2016 lalu Gatot pernah berkunjung ke Amerika dan tidak ada masalah. Artinya, antara waktu 2016 itu—setelah Gatot berkunjung ke Amerika—sampai saat ini ketika ia dilarang datang, ada sesuatu yang dilakukan Gatot yang membuat ia mendapat tanda merah dari pihak keamanan Amerika.

    Kalau kita mau berpikir, mudah bagi kita untuk mengaitkannya dengan peristiwa bersejarah yang terjadi pada akhir 2016 sampai awal 2017 lalu. Ya, Pilkada Jakarta. Tidak bisa dimungkiri jika proses Pilkada Jakarta yang memunculkan kontoversi, kegaduhan dan demo berjilid-jilid itu telah menarik perhatian dunia. Siapa pun yang berpikir waras pasti tahu bahwa apa yang terjadi selama pilkada lalu adalah proses politisasi Agama oleh pihak-pihak yang sedang berebut kekuasaan. Jika selesai di sana saja, nampaknya tidak masalah, tetapi kamudian demo itu berubah membidik Pemerintahan Jokowi. Koar-koar revolusi pun dikumandangkan, bahkan sudah ada rencana makar. Maka sudah jelas, mereka-mereka yang menjadi biang kerok selama Pilkada DKI ini sudah pasti mendapat blacklist dari beberapa negara yang punya sistem keamanan tinggi, misalnya Amerika.

    Mereka tentu mempelajari, isu apa yang ramai dimainkan untuk menyerang pemerintahan Jokowi, yang diembuskan dengan kencang melalui Pilkada Jakarta, yaitu isu PKI, yang kemudian merambat ke isu agama dan kemudian ras—dalam hal ini Tiong Hoa/China. Dalam isu PKI, terdapat kasus pelanggaran HAM berat yang sampai sekarang sulit untuk diungkap.

    Lalu apa hubungannya dengan Gatot? Banyak teori yang berkembang, di antaranya adalah miskomunikasi/administasi dan identifikasi status Gatot di mata pihak keamanan AS. Bagaimana pun, Gatot adalah seorang panglima TNI, dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Gatot sudah pasti akan menyakiti perasaan orang Indonesia.

    Saya membayangkan pihak keamanan Amerika ini mengikuti perkembangan politik di Indonesia, mereka mencari tahu siapa-siapa saja yang sengaja bermanuver politik untuk menimbulkan kegaduhan di Indonesia. Beberapa hal yang—menurut saya—membuat Gatot kemudian terindentifikasi buruk adalah dukungan kelompok antipemerintah kepadanya. Pihak radikalis ini dengan tegas mengusung Gatot sebagai presiden.

    Masalahnya, Gatot adem-adem saja dalam menyikapi isu tersebut. Sebagai seorang panglima yang masih bertugas, mestinya Gatot tidak diam saja karena saat ini ia berada di pihak pemerintah. Seharusnya ia menentang tegas usungan dari pihak tersebut.

    Etikanya, sebagai panglima TNI yang jabatannya di bawah presiden (panglima tertinggi), ia tidak boleh membiarkan ada isu yang berindikasi menyerang panglima tertingginya. Seorang perwira harus membela pemimpinnya.

    Sebaliknya, Gatot malah menciptakan kegaduhan baru setelah menyampaikan pernyataan kontroversial tentang pembelian senjata ilegal. Apa tujuan Gatot menyampaikan hal itu di depan publik, bukankah mestinya ia berbicara kepada Presiden? Sikap Gatot seolah menunjukkan bahwa ia tidak sejalan dengan presiden. Sebuah sikap yang tidak pantas dilakukan oleh seorang perwira.

    Selanjutnya, ajakan Gatot untuk nonton bareng film G30S PKI. Bagi saya, ini merupakan insturksi yang fatal dari Gatot. Dengan mengangkat kembali isu PKI, ia seolah mengatakan bahwa bahaya PKI memang sedang menjangkiti Indonesia. Apa yang ia lakukan ini seolah mendukung para radikalis pembenci pemerintah yang rela melakukan apa saja untuk menjatuhkan Jokowi, dengan mengangkat isu PKI.

    Saya kira, dari sanalah mulanya sehingga Gatot mulai ditandai oleh pihak keamanan Amerika. Apakah Gatot juga percaya dengan seruan murahan soal “Kebangkitan PKI” itu? Tidak mungkin. Gatot pasti cukup pintar untuk tahu bahwa PKI di negara ini sudah lenyap, bahkan di dunia pun ideologi PKI ini sudah bangkrut. Maka, manuver panglima ini bisa diterjemahkan sebagai keberpihakan kepada kaum radikalis dan antipemerintah. Jika itu benar, maka tujuan Panglima pun terbaca, yaitu menjatuhkan pemerintahan dan merebut kekuasaan.

    PIHAK AS SUDAH MEMINTA MAAF

    Sebenarnya, apa pun alasan dari pelarangan tersebut, pada akhirnya pihak Amerika mencabut pelarangan itu dan menyampaikan maaf. Artinya, mereka mengakui ada kesalahan di sana. Permintaan maaf dan janji pihak Amerika untuk membantu administasi Gatot ke Amerika pun ditawarkan, meskipun akhirnya pihak pemerintah memutuskan untuk tidak mengizinkan Gatot berangkat.

    Saya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Pelarangan Gatot tentu disebabkan oleh suatu hal menyangkut sikap Gatot sendiri, maupun sikap dari Pemerintahan Indonesia. Mestinya kita tidak semata-mata memprotes sikap AS, tetapi juga introspeksi, kenapa sampai terjadi peristiwa yang cukup memalukan ini. Kalau di benak saya jelas, kegaduhan selama Pilkada Jakarta, dukungan kaum radikal kepada Gatot, dan blunder Gatot soal senjata dan nobar film PKI merupakan indikasi yang kuat sehingga nama Gatot mulai ditandai oleh pihak keamanan AS.

    SPANDUK TENTANG SERUAN MENGUSIR WARGA AMERIKA DI INDONESIA

    Kalau reaksinya tidak lebai, maka bukan orang Indonesia namanya. Selain itu, kaum radikalis yang benci setengah mati dengan Amerika tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk melakukan provokasi. Isu-isu sensitif begini harus terus dimunculkan sebagai upaya untuk meraup sebanyak mungkin orang untuk ikut menyerang pemerintah.

    Ujaran ini tidak akan berhenti di sana saja. Yang jelas, tentu pemerintah tidak mungkin mengikuti usulan untuk mengusir warga Amerika dan dubes Amerika dari Indonesia. Pihak Amerika sudah meminta maaf dan menganulir pelarangan tersebut, lalu apa perlunya mengajak ribut? Negara sebesar Indonesia tidak mungkin melakukan tindakan tolol dan bar-bar seperti maunya kaum radikal yang otaknya belum berevolusi menjadi otak manusia modern. Tetapi justru karena itulah mereka bisa melancarkan tuduhan baru, seperti Jokowi Pengecut, lemah, antek asing, dan lain-lain.

    Di sisi lain Prabowo akan diangkat lagi sebagai lambang “macan asia”, kegarangan yang bisa memuaskan kebencian dan arogansi mereka. Bahkan bisa jadi Prabowo akan turun lagi selayaknya ia yang tiba-tiba turun panggung ketika mengomentari bantuan ke Rohingya sebagai pencitraan. Kita tahu, Prabowo sedang mencari sebanyak mungkin panggung demi Pilpres 2019 yang kian dekat.

    Tapi mestinya, provokasi semacam itu tidak akan ampuh jika rakyat sudah cukup cerdas memahami situasi politik saat ini. Masalahnya, kebanyakan orang masih buta politik, belum lagi ditambah dengan fanatik dalam beragama, jadilah itu perpaduan yang mantap bagi para elit korup untuk mengadu domba antarwarga negara dan pemerintah. Tinggal diubahlah itu isu politik menjadi soal membela Agama, maka dengan waktu singkat, terciptalah sekelompok robot yang rela turun ke jalan untuk membela kepentingan politik para penjahat. Mereka rela berteriak kencang hingga urat leher mereka bengkak, karena merasa sedang membela Tuhan, padahal… Yah, ironis memang.



    Penulis  : Berry Budiman    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Alasan Kuat Kenapa Gatot dilarang Datang ke Amerika Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top