728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 28 Oktober 2017

    #Warta : Ahok, Suara Kebenaran dari Penjara, dan Suara Kebatilan dari Rumah Tuhan

    I have to say thank you to all my enemies who want me in prison… I've trained myself in self-control, forgiveness, and learn how to serve people with joyful heart. Thank God for all this circumstances," tulis Ahok kepada cucu dari penulis Threes Emir. SUMBER

    Mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sudah menghabiskan nyaris seperempat masa tahanan yang ia harus penuhi di rutan Mako Brimob. Banyak orang bahkan semua teman saya mengunjungi Ahok, awalnya berpikir bahwa perjumpaan dengan Ahok akan sangat mengharukan dan menyedihkan.

    Bayangkan, semua teman saya sudah mempersiapkan kalimat-kalimat semangat dan motivasi kepada Ahok yang ditahan di Mako Brimob. Namun siapa yang menyangka bahwa pada harinya, Ahok-lah yang menghibur mereka. Nyaris seluruh pengunjung Ahok di Mako Brimob mendapatkan kisah-kisah inspiratif dari Ahok.

    Demikian juga seorang penulis bernama Threes Emir, yang juga ikut terkaget-kaget melihat bagaimana cerianya Ahok di Mako Brimob, ketika ia mengunjunginya. Raut wajah yang cerah dan ceria membuat Threes bingung. Ahok terlihat tidak mendendam kepada para manusia-manusia yang ingin menjebloskannya ke penjara.

    Jika boleh saya katakan, rasanya Ahok lebih pantas mengatakan “Piye kabare? Penak jamanku toh?”, ketimbang Soeharto. Karena selama 30 tahun lebih berkuasa, Soeharto tidak memberikan kenikmatan kepara rakyat Indonesia, lebih dari apa yang Ahok berikan hanya dalam tiga tahun sisa jabatan 2012-2017 periode Jokowi-Ahok-Djarot. Betul loh yang saya katakan.

    Suara-suara Ahok yang disuarakan melalui surat-suratnya yang ia tuliskan di Mako Brimob, benar-benar memberikan dampak yang sangat positif bagi para pendukungnya, bahkan melampaui pendukungnya, ia memberikan semangat bagi Indonesia. Di dalam dunia ini, teknolog yang berkembang begitu pesat membuat surat Ahok kepada orang-orang tertentu bisa disebarkan secara viral ke tempat lain.

    Lucunya, Ahok seolah-olah berhasil membuat penjara, tempat yang suram, pesakitan, dan gelap, sebagai tempat dikumandangkan suara positif dan semangat yang luar biasa. Sedangkan di sisi lain, kita melihat bagaimana sekarang gencarnya rumah Tuhan digunakan oleh para manusia-manusia gila, sebagai tempat menyuarakan suara kebatilan.

    Lihat saja ada satu tempat dimana nubuat-nubuat dikumandangkan tanpa tanggung jawab, dan isu-isu PKI yang sudah mati, diteriakkan melalui speaker-speaker rumah ibadat. Inikah yang dinamakan keberpihakan? Tidak! Ini adalah kebatilan!

    Ada ucapan yang sangat menampar kaum bodat, cingkrang, bani daster dan banyak pembenci Ahok yang diucapkan secara spontan. Apakah kalimat yang diucapkan Ahok?

    “Pokoknya nyesel deh orang-orang yang kirim saya ke penjara. Orang saya di sini belajar banyak hal, belajar sabar, banyak baca, belajar Bahasa Mandarin,” Kata Threes menirukan ucapan Ahok.

    Suara-suara kebatilan yang diucapkan di tempat yang dianggap sebagai rumah Tuhan, sejatinya merupakan suara-suara pesanan kelompok pembenci Ahok. Bukan hanya Ahok yang dibenci, melainkan sekelompok orang-orang yang benar, justru ditekan melalui toa-toa, speaker-speaker, microphone-microphone yang berada di rumah Tuhan. Ini adalah ironi yang paling ultimat, datang dari rumah Tuhan.

    Tiba-tiba saya teringat satu kalimat yang ada di kitab suci saya, Alkitab. Sebuah kisah ironi yang dicatat di Alkitab, mengenai bagaimana orang-orang yang dianggap nabi, malah bersekongkol untuk menghancurkan nama Tuhan. Begini bunyi tepatnya.
    Maleakhi 1:6 berkata “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"

    Dengan konteks ini, kita sadar bahwa ternyata penghinaan besar terhadap nama Tuhan paling parah terjadi di rumah Tuhan itu sendiri. Saya percaya, hal ini berlaku secara universal, untuk agama apapun. Percayalah, tidak ada yang tempat yang lebih mudah menista Tuhan, kecuali di rumah-Nya sendiri.

    Karena kita yang mengklaim diri mengenal Tuhan, nyatanya kita seringkali berbuat apa yang berseberangan dan bertentangan dengan aturan rumah-Nya. Bayangkan saja bagaimana rumah-rumah Tuhan pada saat pilkada DKI, pilpres 2014, digunakan sedemikian rupa sebagai corong-corong kepentingan politik. Belajarlah dari Ahok, dimanapun ia berada, ia menjadi corong kebenaran, bukan kepentingan, apalagi gubernur pengembang. Hahaha.

    Suara kebenaran paling jernih terdengar ketika orang ditekan, dan suara kebatilan paling lantang terdengar ketika orang merasa angkuh. Belajarlah dari Ahok, yang justru menggunakan momen di penjara sebagai momen menyuarakan kebenaran. Siapa yang sangka, justru suara Ahok lebih didengar, ketimbang suara mereka yang berteriak-teriak, bahkan menggunakan pengeras suara sekalipun?

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis : hysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ahok, Suara Kebenaran dari Penjara, dan Suara Kebatilan dari Rumah Tuhan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top