728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 25 September 2017

    #warta : Zulkifli Hasan: Banyak Pejabat Kena OTT Karena Kesalahan Sistem, Bapak Sudah Ngopi?

    Baiklah saya akan menuliskannya untuk anda!
    Akhir-akhir ini cukup banyak pejabat maupun anggota dewan yang terkena OTT KPK. Sangat memprihatinkan memang. Hal ini menjadi perhatian dari Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan. Ia mengatakan, banyaknya pejabat yang terkena OTT KPK salah satunya dikarenakan ada kesalahan dalam sistem Pilkada di Indonesia.

        “Sistemnya (yang salah). Berarti ada sistem yang semua itu uang. Sistem kita adalah uang. Ini harus kita kaji,” ucap Zulkifli di Grand Ballroom Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu.       24/9/2017 (detik.com)

    Saya belum bisa menemukan kepastian, pernyataan Zulkifli ini bermuatan apa. Maksud saya berdasarkan niatan yang benar-benar mendukung pemberantasan korupsi atau hanya sekedar cari sensasi. Sebab kalau kita perhatikan, tren mengeluarkan pernyataan yang nyleneh dengan tujuan meningkatkan popolularitas, belakangan ini menjadi kegemaran banyak tokoh publik.

    Sebenarnya, jika kita diamkan mereka akan kecele dengan sendirinya. Tapi bagaimanapun, tingkah dan perkataan nyleneh dari tokoh-tokoh yang selalu mengatakasnamakan suara rakyat itu bisa berakibat tidak baik bagi iklim demokrasi di negeri ini jika kita biarkan begitu saja. Harus ada upaya untuk mencounter segala upaya penggiringan opini yang menyesatkan.

    Seperti tanggapan Ketua MPR ini. Sebagai pimpinan majlis yang (katanya) mewakili rakyat, seharusnya ia memberi apresiasi yang waras atas kinerja KPK. Mayoritas rakyat Indonesia sangat mendukung upaya pemberantasan korupsi. Tapi faktanya, seperti yang saya kutip di atas, ia malah mengeluarkan pernyataan yang menggelikan dan justru menyalahkan hal yang sudah benar.

    Namanya terkena OTT KPK, sudah pasti ia adalah orang yang telah melakukan tindak pidana korupsi. Jika ia pejabat yang jujur dan bersih, maka ia akan selamat dari OTT KPK. Sebagai pejabat atau anggota dewan, tugasnya adalah menjembatani aspirasi masyarakat dan menjadi pelayan rakyat. Alih-alih menjalankan tugasnya secara maksimal, mereka ini malah berlomba-lomba memperkaya diri dengan merampok uang rakyat.

    Sungguh menjijikkan! Mau dibilang apapun, dengan terkena OTT KPK berarti pejabat tersebut memang sudah memiliki karakter dan tabiat yang tidak baik dalam dirinya. Jika memang orang itu amanah, maka tak ada alasan apapun untuk membenarkan apalagi melakukan tindakan korupsi. Tapi hal seperti ini hanyalah dimiliki oleh orang-orang yang memiliki misi untuk mengabdi ketika ia berniat menjadi seorang pejabat atau anggota dewan. Dengan kata lain, korupsi itu terkait dengan watak dan karakter seseorang.

    Nah, ini Zulkifli malah memiliki pandangan bahwa banyaknya pejabat yang kena OTT KPK adalah akibat dari kesalahan sistem Pilkada. Parahnya, ia mengaitkan kesalahan sistem itu dengan uang. “Ada sistem yang semua itu uang”, saya mengerti yang dia maksud. Zulkifli ingin mengatakan bahwa dalam mengikuti Pilkada, seseorang harus mengeluarkan biaya kampanye (plus biaya administrasi dan lain-lain) yang sangat banyak untuk dapat memenangkan kontestasi.

    Sehingga pada saat sudah menjabat, ia akan berusaha “mengembalikan modal” yang telah ia keluarkan. Karena menghitung gaji yang diterima tidak cukup untuk mengembalikan biaya kampanye, maka terjadilah yang namanya mencari ceperan dengan cara garong sana garong sini. Dengan begitu, maka baliklah modal yang dikeluarkan bahkan bisa untung berkali lipat. Kemudian entah kapan, tindak kejahatan nggarong ini harus mengantarkan dirinya menjadi pesakitan karena kena OTT KPK.

    Itu jika menggunakan uang pribadi. Lain lagi jika dana kampanye adalah dana talangan dari pengusaha. Pengusaha yang dalam kontrak politik di masa kampanye telah dijanjikan akan dimuluskan bisnisnya atau diberi keistimewaan dalam lelang tender proyek oleh si pejabat. Karena kebijakan terhadap suatu bisnis/proyek tidak semua ada dalam wewenangnya, maka tidak jarang pejabat ini harus suap sana suap sini agar bisa memiliki quick pass dalam memberikan kemudahan bisnis/proyek kepada mitra politiknya yang telah menalangi biaya kampanyenya.

    Dan sama seperti yang pertama tadi, sepandai-pandai tupai melompat suatu saat pasti akan jatuh juga. Terjaringlah si pejabat ini OTT KPK. Tercyduk! Nah, dari sini bisa kita simpulkan, seperti yang saya katakan tadi, bahwa korupsi itu terkait dengan watak dan karakter seseorang. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan sistem pelaksanaan Pilkada.

    Sebab, jika seseorang itu memang memiliki kepribadian yang baik, maka saat menjabat pun akan menjadi pejabat yang jujur dan bersih. Meskipun begitu banyak uang yang dikeluarkan, ia tidak akan merampok uang negara demi mengembalikan modal yang telah ia keluarkan selama proses Pilkada berlangsung. Ia pun memilih cara-cara yang sehat jika harus “membantu” bisnis dari partner politiknya. Artinya apapun yang terjadi, seorang yang berniat mengabdi tak akan nggarong atau memberi/menerima suap dalam bentuk apapun. Selamatlah ia dari OTT KPK.

    Maka, tak ada yang salah dengan sistem Pilkada yang digelar selama ini. Jikapun banyak pejabat yang kena OTT KPK, itu karena memang orang tersebut dari awal sudah memiliki jiwa maling. Nggarong dan tabiat-tabiat busuk lainnya memang sudah menjadi karakter atau bahkan memang gawan bayi. Tak seperti yang dikatakan Zulkifli, bukan sistemnya yang perlu dikaji, tapi mental nggarong dari para pejabat itulah yang memang perlu diperbaiki.

    Ibaratnya begini, jika ada kecelakaan yang disebabkan karena pengemudi mobil tersebut sedang mabuk berat, apakah lantas mobilnya yang disalahkan? Padahal dengan mobil yang sama, pengemudi yang waras bisa menempuh perjalanan Blitar-Jakarta dengan selamat. Tentu saja bukan mobilnya yang salah tapi pengemudinya yang memang tidak beres. Dalam contoh ini, menyalahkan mobilnya jelas sebuah pemikiran yang konyol dan kakean micin.

    Selain tidak nyambung, secara tidak langsung pernyataan Zulkifli di atas sama saja dengan ia mengakui bahwa dalam Pilkada yang digelar selama ini, money politic memang menjadi strategi yang dipakai oleh para politisi busuk. Bahkan Zulkifli terkesan memberikan pembenaran terhadap tindakan jahat tersebut. Sepertinya karena saking sibuknya ngurus pernikahan anaknya, Zulkifli Hasan tidak sempat minum kopi sehingga ia berucap sefatal itu. Atau mungkin sempat minum tapi kopinya kurang kental. Hahaha!
    Terima kasih, salam PBNU!






    Penulis :    Taufiq Al Blitari   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #warta : Zulkifli Hasan: Banyak Pejabat Kena OTT Karena Kesalahan Sistem, Bapak Sudah Ngopi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top