728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 26 September 2017

    #Warta : Wahai Para Jendral, PKI Tak Mungkin Bangkit Lagi dan Indonesia Tak Boleh Gatot Lagi!!

    Sejak proklamasi kemerdekaan, banyak pemberontakan yang terjadi di Indonesia. Entah itu dari PKI dan DI/TII yang memperjuangkan Ideologi berbeda, atau PRRI dan Permesta yang mentargetkan pengulingan Presiden Soekarno, sampai gerakan-gerakan pemisahan diri dari NKRI, seperti RMS, GAM, dan OPM. Tetapi dari semua kejadian masa lampau itu, maka Gestok-lah yang paling destruktif untuk Indonesia. Gerakan Satu Oktober 1965.
    Mungkin kita lebih mengenalnya sebagai G30S PKI, seperti yang rezim Orde Baru lebeli. Tetapi saya akan melebelinya sebagai Kudeta Gestok ORBA, karena menurut saya pribadi, ini semua adalah grand design pengkhianat bangsa beserta teman intelegen sekutu mereka.
    Hmmm… apakah itu terlalu berlebihan? Saya pribadi juga tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat itu, wong saat itu terjadi, Ayah dan Ibu saya saja belum menikah kok. Tetapi fakta sejarah terlihat sangat jelas dalam kacamata saya.
    1. Bahwa Presiden Soekarno memiliki ideologi Marhaenisme, yang condong ke kiri ( Socialism ), Bahkan Pancasila itu sebenarnya bernafaskan kiri lho, lihat saja sila ke-5. Dan PKI adalah ekstrim kiri, yang artinya motivasi PKI untuk menggulingkan Soekarno, tidak akan terlalu kuat.
    2. Presiden pertama Indonesia ini juga cendrung lebih dekat dengan Uni Soviet ( sekarang Russia ) yang adalah negara komunis. Padahal banyak pemberontakan di Indonesia, bahkan dunia ini, disponsori oleh pihak asing. Rasanya lucu Uni Soviet ikut mensponsori PKI dalam menggulingkan koleganya.
    3. Orang-orang yang menculik para Jendral itu adalah tentara juga, dengan pimpinan Letkol Untung. Lho, kok… bukan PKI yang culik ya? bukannya Petani dipersenjatai oleh PKI di masa itu?
    4. Ada 7 Jendral yang di target saat itu, 2 diantaranya adalah Brigadir Jenderal Soetoyo Siswomihardjo, dan Brigadir Jenderal DI Pandjaitan. Ya, pangkat mereka Brigjen, atau Jendral bintang 1, Sedangkan Soeharto yang berpangkat Mayjen atau Jendral bintang 2, aman-aman saja, bahkan tidak masuk ke dalam target operasi. Mungkin beliau belum daftar ulang kala itu, jadinya lolos deh. Atau mungkin juga….
    5. Kegiatan penumpasan para senior Sang Mayjen ini anehnya memuluskannya dalam mengambil kekuasaan dari Presiden Soekarno, dengan Supersemar yang keberadaannya masih misteri Ilahi. Dan beberapa saat setelah Sang Mayjen berkuasa penuh atas Indonesia, dihamparkannyalah karpet merah bagi Freeport dalam mengeksploitasi mineral dari tanah Papua. Mungkin karena itu sang Mayjen yang beruntung, jadi terlihat senyum terus.
    Itulah kira-kira pemahaman dangkal saya mengenai Gestok ORBA ’65 yang misterius itu. Terlalu banyak keanehan fakta sejarah yang memperkuat dugaan saya jika itu adalah kongkalikong negara barat dengan Jendral Penghianat bangsa. 

    Tapi apakah artinya saya mendukung PKI? Tentu tidak. Buat saya Komunis itu sebuah Utopia yang sangat sulit untuk terwujud, apalagi di dunia yang sudah sangat terhubung tanpa batas seperti sekarang. Lagipula dengan menganut sistem komunis Indonesia akan memiliki bom waktu yang sangat berbahaya. Bila yang jadi pucuk pimpinan adalah orang gila, maka menderitalah 250 juta kepala di Indonesia ini.
     

    Mari kita belajar lagi mengenai diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 itu. Tahukah anda, jika Indonesia adalah pelopor pembangkangan terhadap kolonialisme? Silahkan saja googling, dan perhatikan negara-negara yang mengalami kolonialisme seperti Indonesia. 

    Mereka baru merdeka setelah tahun ’45, dan bahkan kebanyakan mendapatkan kemerdekaannya dengan diberi oleh negara penjajah mereka. Tengok saja Republik Demokrasi Vietnam (2 September 1945), Filipina (4 Juli 1946), Pakistan (14 Agustus 1947), India (15 Agustus 1947), Birma (4 Januari 1948), Ceylon (4 Februari 1948), dan lain sebagainya.

    Jadi jangan aneh jika Konfrensi Asia Afrika, pada April ’54, yang dihadiri negara-negara yang berhasil membebaskan diri dari kolonialisme itu, diadakan di Bandung.
    Silahkan buka peta dunia, atau Google Map, dan perhatikan dimanakah Asia, dimanakah Afrika, dan dimana Bandung. Kota Kembang ini berada di ujung Asia, bukan ditengah-tengah antara Asia dan Afrika.
    Silahkan bayangkan bagaimana perwakilan Ghana dari Afrika, yang dengan senang hati melakukan perjalanan mengitari dunia yang rasanya belum bisa memakai pesawat terbang menuju Bandung, tanpa mengeluh “Kenapa pertemuannya tidak dilangsungkan di Mesir saja yang adalah perbatasan antara Asia dan Afrika saja sih?”. Karena semua negara yang baru terbebas dari kolonialisme itu sangat menghargai Bangsa ini, sebagai pelopor dalam perlawanan terhadap penjajah.
    Sebuah negara yang adalah pemikir kritis, pemimpi besar dan pemberani. Negara yang dapat menelurkan Ideologi Pancasila yang adalah jalan tengah dari 2 extrim ideologi kala itu, Kapitalis dan Komunis. Dan sangat disegani oleh dunia.

    Tetapi memang setelah merdeka, jalan Indonesia tidaklah mulus, karena masih dirongrong oleh Agresi Militer Belanda yang tak rela Pundi-pundi emas mereka memerdekakan diri. Belum lagi banyak pemberontakan yang disponsori oleh sekutu. Mungkin mereka sakit hati, karena Indonesia inilah, akhirnya jajahan mereka terinspirasi juga untuk memerdekakan diri.

    Dan jangan salahkan Bung Karno, berkiblat ke Uni Soviet, bukannya Amerika. Karena si biangnya Kapitalisme itu berkarib erat dengan para Negara Penjajah di Eropa. Menamakan diri mereka Sekutu, dan sekarang masih terpelihara baik menjadi NATO. Sebuah pilihan politik Idealis yang sangat masuk akal dari Sang Proklamator.

    Tapi, mari kembali mengapa saya merasa Gestok ORBA ’65 ini adalah pemberontakan yang paling destruktif yang Indonesia pernah cicipi?

    Perhatikan apa yang terjadi setelah Kudeta tersebut. Segala jenis kekuatan kiri menjadi haram hukumnya. PKI dibasmi, PNI pun yang Marhainisme ditekan habis dan dibubarkan. Indonesia tak lagi memiliki kekuatan politik sosialis. Tak ada partai buruh di Negara Tercinta ini. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Taipan-Taipan Indonesia. Oligarki merajalela, menghisap habis darah rakyat.

    Tetapi dengan cerdasnya sentimen anti-cina dikumandangkan. Sehingga masyarakat berfikir para “non-pribumi”lah yang bersalah. Padahal penguasa dan institusi militer itu yang menikmati paling banyak. Sebuah rezim yang sangat pintar cuci tangan. Entah saat kudeta, maupun saat mereka memeras rakyatnya.
    20 Tahun setelah merdeka, ketika bangsa ini mulai menata dirinya. Guru-guru Tanah Air menjadi tempat belajar negara tetangga, dan mereka dengan sangat nasionalis berjuang membentuk bibit-bibit kritis dan pemberani tadi untuk membawa harum nama Indonesia ke kancah Internasional.
    Dan seketika terjadi kemunduran luar biasa. Orang-orang terpintar Indonesia yang dikirim ke negara Uni Soviet, mendadak tak bisa berbakti di Tanah Air. Guru-guru banyak yang dianggap PKI, atau dianggap loyal pada Presiden Soekarno karena terafiliasi dengan PNI, dieksekusi dan dipresekusi. Dan untuk mengamankan Tahta Penguasa Baru itu, Sistem pendidikan Indonesia menjadi lebih otoriter dan 1 arah, membelenggu pikiran kritis bangsa ini. Seperti pembodohan terstruktur untuk mengamankan rezim baru yang anti kritik itu.
    Dan disinilah kita sekarang. Bangsa yang sempat jadi Inspirasi itu, tak mampu jauh melangkah. Tertatih, menatap punggung banyak adik-adiknya yang sudah berlari kencang.  

    Hantu Penguasa masa lalu masih mencekik dengan legacy kebodohan atau mungkin pembodohan selama 32 Tahun. Para Oligarch yang sudah menancapkan taringnya terlalu dalam itu tetap menghisap darah dan peluh Bangsa Ini.

    Karena itu marilah saatnya kita berlari kencang meninggalkan ketertinggalan kita. Jangan mau dihasut oleh isu Identitas macam Ras dan Agama. Mulai cerdaslah memilih Partai Politik dan Kepala Daerah, supaya cengkraman para Oligarch dapat semakin melunak. Tak perlu panas telinga, apalagi hati, ketika ada purnawirawan yang mungkin takut dosa lamanya terbongkar, menakut-nakuti dengan Hantu Komunis, sebuah Ideologi usang yang tak mungkin bangkit lagi.

    Tak perlu ditanggapi juga jika mungkin ada Jendral Militer kekanak-kanakan yang kekanan-kananan, dan hobby memanas-manasi suasana dengan baca-baca puisi rasis memancing-mancing di air keruh, sambil acting ketakutan dengan Hantu Komunis tadi, dan ketakutan dengan Imajinasi Proxy Warnya sendiri. Tindakan hasil berguru dari sepuhnya yang ahli cuci tangan dan ahli intimidasi. 

    Dan jika ada produk turunan dari Kudeta Gestok Orba ’65 yang seperti cacing kepanasan, mari kita acuhkan dan tetap fokus Kerja Kerja Kerja saja, sambil bergumam. “Emang Gua Pikirin?”. Karena PKI tak mungkin bangkit lagi, dan Indonesia tak boleh Gatot [ Gagal Total ] lagi.







    Penulis  : Victor Wijaya     Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Wahai Para Jendral, PKI Tak Mungkin Bangkit Lagi dan Indonesia Tak Boleh Gatot Lagi!! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top